Negeri di Ujung Tanduk (Tere Liye)

    Gambar

NDUT adalah sekuel dari Negeri Para Bedebah. Dan tak perlu kau tanya lagi (pakai nada lagu Armada), seberapa inginnya saya membaca NDUT ini begitu tau kalau dia bakalan hadir. Bahkan ketika saya terbaring di RS, saya mencoba membacanya walau hanya berhasil beberapa paragraf, pusing cyiiin. Saya pun meminta buku ini dikirimkan ke rumah ortu saya, saking penginnya melahap buku ini.

    Maka, walaupun saya dirundung bosan membacanya bahkan hingga halaman 70 tapi tetap saja saya tak ingin berhenti. Kenapa? Ya karena ekspektasi saya mengatakan buku ini seru dan menarik.

    Prolog NDUT ini diawali dengan klub petarung itu. Helloooo… Saya ga suka tinju, apalagi gulat, dan saya ngebayangin bertarung dua orang itu kalau bukan tinju ya gulat. Cabang olahraga yang sampai sekarang tak saya mengerti kenapa bisa ada (sorry Chris John). Dan tentu dunk saya ga suka, jadinya prolog dan bab-bab awal agak ngebosanin, tapi aku bertahan dan kuyakin dengan keputusanku (pakai nada lagunya Rio Febrian) kalau buku ini seru dan menarik.


    NDUT sendiri masih bercerita tentang Thomas, setahun setelah kejadian di Negeri Para Bedebah yang pernah saya tuliskan di sini. Thomas yang mulai go internasional di klub petarung, tidak di Jakarta lagi tapi di Makau. Pertarungan yg mempertemukannya dengan Lee, seorang petarung tangguh. Saat cerita menggambarkan suasana awal ketika mereka mulai bertarung, saya juga larut dalam ketegangan. Eaaaa…. Ternyata pertarungannya sendiri tidak diceritakan. Cerita langsung beralih. Cuma diceritakan Thomas menang, entah menang dengan cara apa. Seperti disuguhkan wafel dengan es krim yang begitu menggoda di depan saya, sudah berada dekat sekali dengan mulut saya tapi ada yang menggagalkan saya buat menikmatinya. Gemes ga sih digituin..

    Lanjut, di Makau, Thomas pun bertemu dengan Opa dan Kadek. Di kapal pesiar baru milik Thomas, di sana Thomas dikejar seorang wartawan wanita. No, bukan Julia. Wartawan baru lagi yang keberadaannya sepanjang cerita agak terlalu dipaksakan. Dan di atas kapal itu Thomas disergap oleh kepolisian Hongkong (dari Makau dia bertolak ke Hongkong) karena ditemukan 100 kg heroin dan senjata-senjata lengkap di atas kapal itu. Yang menurut hemat Thomas, penyergapan itu terkait dengan misi besarnya memenangkan seseorang di konvensi satu partai untuk menjadi calon presiden dari partai tersebut.

    Yah, Thomas yg dulu menjadi konsultan ekonomi kini merambah ke dunia politik. Eits, tapi bukan jadi caleg. Thomas buka cabang baru yaitu konsultan bidang politik. Konflik menjadi semakin rumit karena klien Thomas yang mantan walikota trus menjadi gubernur ibukota itu ditangkap terkait kasus korupsi. (Kepada tokoh siapa pikiran anda terarah ketika mendengar mantan walikota yang menjadi Gubernur Ibukota? Jawab di hati masing-masing)

    Selanjutnya.. Simak saja petualangan Thomas yang seru, bikin penasaran dan, bikin saya ngomel-ngomel. Hahahaha….

    Entahlah, saya kok syusah bener gitu menikmati jalannya cerita. Yang ada di beberapa bagian kening saya berkerut-kerut dan mikir kok bisa gini sih? Ih, masa sih begini? Dan ujung-ujungnya saya malah ngomel-ngomel. Sampai-sampai suami yang jadi sasaran omelan saya bilang udah ga usah diterusin aja bacanya. Hahahaha….

    Saya bingung deh dengan kalimat : Akulah yang memulai menyebut istilah itu. Istilah yang bertahun-tahun ke depan marak dipakai wartawan, pengamat politik, komentator hukum, hingga orang awam. Istilah apa yg dimaksud? Setelah saya baca beberapa kali saya menyimpulkan istilah yang dimaksud adalah breaking news. Haloooo…. Itu tahun berapa ya setting ceritanya. Perasaan dah lama deh saya dengar istilah itu. Kalau pun ini ceritanya bertahun-tahun yg lalu kok udah ada twitter? CMIIW ya. Trus istilah mafia hukum juga bernasib sama dengan Breaking News. Perasaan istilah itu juga sudah lama deh digunakan. Oke. Ini fiksi. Penulisnya berhak menuliskan apa pun dalam imajinasinya.

    Kemudian ke mana Julia? Sosok wartawan wanita dalam Negeri Para Bedebah itu? Yang keberadaannya kemudian digantikan dengan semena-mena oleh wartawan wanita yang lain bernama Maryam. Apa pentingnya Maryam dalam cerita? Sudah lah.. Ini juga bagian dari hak penulis buat memunculkan siapa dan meniadakan siapa. Oya, saya ajukan protes ini kepada suami, lantas suami saya bilang mungkin Julia lagi kuliah ke luar negeri. Hahahaha….

    Sebegitu cepat kah seseorang berubah karakternya? Kalau melihat bagaimana seorang Maryam teriak-teriak ketika dinaikan di atas crane, itu saya banget deh. Coba aja minta saya naik rollercoaster, saya jg akan teriak-teriak histeris deh. Selanjutnya? Saya jera naik itu. Ga percaya? Yuks, sediakan tiket ke SG plus tiket masuk ke Universal Studio. Kita coba di sana. Hahaha… Lah, ini si Maryam, teriak-teriak gitu eh malah maksa mau ikutan si Thomas ke mana-mana. Si Thomas mau aja juga. Aiiih. Apa pentingnya dia? Kalau cuma melobi buat ketemu pimpinan KPK kan bisa via telepon aja.

    Si Thomas dan Maryam juga ya, hafal bener ama no hape orang-orang hingga pakai no hape baru aja bisa mhubungi orang-orang ke mana-mana. Oke. Ini tak masalah. Sy punya teman yg bisa menghafal angka-angka dengan begitu seksama. Mungkin Thomas dan Maryam juga punya keahlian itu.

    Ada typo juga. Silakan temukan buat yang membacanya. Dokter tertulis doker. Haloooo… Cuma satu huruf doang kok yan. Iya iya.. Satu huruf doang. Btw, siapa penyunting novel ini? Entah saya bertanya pada siapa. Oya, buat yang ingin mempelajari tentang pemberian tanda petik buat kalimat percakapan yang panjang, silakan mempelajarinya di novel ini. Dalam kata lain akan banyak kalimat dalam percakapan yang panjang di novel ini. Tak masalah, itu ciri khas penulisnya kan. Lagian kalimat percakapan panjang itu juga bikin tambah wawasan.

    Ini kan ceritanya pakai PoV orang pertama, dari sudut si Thomas yang kerap memanggilnya aku. Nah.. Kalau orang pertama kok bisa gitu tau apa yang dilakukan pihak ketiga? Seperti kalimat ini : Maggie menangis. Membuat orang-orang di ruangan kerja Kris menoleh, termasuk Maryam dan Tante Liem yang menunggu cemas sejak tadi malam. Nah, ini kan ceritanya si Thomas lagi nelpon, kok tau gitu orang-orang di ruangan Kris menoleh? Kenapa bisa melihat? Dijelaskan nelpon kok, bukan video call. Karena di paragraf sebelumnya Maggie sempat bertanya “Thomas?” kalau menelpon kelihatan dong wajah tampan si Thomas yang mirip Iko Uwais itu (mirip Iko Uwais hanya imajinasi saya). Di kalimat berikutnya juga sama, ada tulisan “Maggie bergegas menyeka pipinya”, Lah? Kok bisa si Thomas (karena memakai PoV orang pertama) tau si Maggie sedang menyeka pipi padahal dia hanya sedang menelepon dan berada jauh di Hongkong sana. Kalau Thomas menebak atau menduga-duga, tuliskan dong “Sepertinya Maggie menyeka pipinya”.

    Tapi saya terkesan sekali dengan apa yang dituliskan di halaman 115 dan 116 tentang kekuasaan seorang Presiden. Tentang Negeri di Ujung Tanduk.
    Jika kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu akan pecah berantakan.     

Dan tokoh-tokoh jahat yang bernaung dalam satu instansi tidak digambarkan semuanya hitam alias jahat. Di balik tokoh-tokoh kejam itu masih ada tokoh-tokoh putih yang berhati nurani dan jujur diceritakan dalam novel ini. Hal itu mengingatkan diri saya sendiri yang kerap menggenarilisasi sesuatu. Masih ada orang-orang baik di negeri itu. Negeri di Ujung Tanduk yang tak disebutkan namanya apa tapi ada Jakarta dan Bali di dalamnya. Hahahaha….  

    Ngarep sih ada novel-novel Tere Liye yang lain yang kayak gini dengan eksekusi yang lebih ciamik dan tidak terkesan buru-buru. Proyek dagang sapi oke tuh dijadikan cerita. Hihihihi… Demikian. Selesai.

11 thoughts on “Negeri di Ujung Tanduk (Tere Liye)

  1. Hmmmmmmm……
    kl typo tulisan Dokter yg tertulis doker says gak sadar itu….

    saya banyak membaca kekecewaan pembaca ttg negeri di ujung tanduk ini, tp semua itu saya bela dalam hati.. hihihi.. bagi saya, blm ada buku Tere yg mengecewakan..😉

    kl masalah typo di novel ini saya kira ada di halaman 171, disana ada satu kata, “maryam” yg menurut saya yg benar adalah ditujukan untuk Maggie. tp gk tau juga ding hihihi…

  2. vendo olvalanda says:

    maaf baru koment setelah ampir 1 tahun😀 itu kan untuk menjelaskan bagaimana situasi orang ketiga saat orang pertama dilain tempat……Kan ada tuh yang namanya Sudut pandang orang pertama serba tahu ^_^…itu sih menurut saya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s