[BeraniCerita #10] Surat

Ayah Liza keluar dari ruang kerjanya sambil mengacungkan sepucuk surat. “Liza,” katanya, “aku sedang mencarimu; masuklah ke ruang kerjaku.”

Liza mengikuti ayahnya memasuki ruang kerja, dan ia menduga bahwa apa yang akan disampaikan oleh ayahnya tentu berhubungan dengan surat yang dipegangnya.

Mereka duduk berdua saling berhadapan. Liza menyusun kata-kata dalam kepalanya untuk memberikan penjelasan yang tepat.

“Apa maksud surat ini?” Liza tak berani mengangkat wajahnya mendengar pertanyaan itu. Kata-kata yang disusunnya dalam benak tak ada yang keluar satu pun.

Ingatan Liza tertuju pada satu sosok pemuda santun bernama Rifan yang kerap mendampingi ayahnya. Rifan yang Liza kenal bertahun-tahun silam sejak Liza beranjak remaja saat Ayah Liza membawanya dari panti asuhan dan Rifan diberikan ayahnya pendidikan terbaik. Rifan yang menyita seluruh perhatiannya, alasan utama kenapa Liza selalu menggelengkan kepala untuk setiap lamaran yang datang.

Dulu Liza berpikir, jika mereka akan menikah maka restu ayahnya yang menjadi kendala. Liza tak pernah menduga kalau cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Rifan tak pernah sekalipun membalas perhatiannya, bahkan meliriknya pun tidak. Kesantunan Rifan padanya hanya seperti bawahan terhadap majikannya.

“Jawab, Liza! Apa maksud surat ini?” Suara Ayah Liza mulai terdengar tak sabar.

“Sebulan, dua bulan atau setahun yang akan datang bisa jadi Rifan akan menikah, Ayah. Liza tak sanggup jika saat itu tiba. Liza…” Liza menggigit bibirnya.

“Apa? Jadi kamu meminta Rifan dipindahtugaskan ke cabang Surabaya karena alasan kamu tak sanggup jika Rifan menikah?” Liza mengangguk lemah.

“Kamu menyukai Rifan, Liza?” Liza terdiam.

“Astaga. Aku sungguh tak mengerti tentang anak muda zaman sekarang. Kamu tahu Liza, setahun yang lalu Rifan berkata padaku dan bilang kalau dia ingin melamarmu. Aku bertanya padanya apa Liza menyukainya? Dia bilang tidak tahu. Kubilang padanya tanyakan langsung pada Liza, jika Liza setuju pernikahan akan segera digelar.” Ayah Liza tertawa.

“Jadi Rifan tidak ada bicara apa pun padamu?” Liza menggelengkan kepalanya.

“Sudahlah tidak ada yang perlu dipindahtugaskan. Besok kubilang pada Rifan kalau dia belum juga bicara padamu, dia akan kehilangan kesempatan jadi menantuku.” Ayah Liza tertawa lagi. Liza tak menyimak lagi kata-kata ayah selanjutnya. Yang terulang dalam pikirannya adalah kalimat ‘setahun yang lalu Rifan berkata padaku dan bilang kalau dia ingin melamarmu’, satu kalimat yang membuat wajahnya menghangat dan sepertinya Liza akan tersenyum sepanjang malam.

7 thoughts on “[BeraniCerita #10] Surat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s