[Fiksi] Undangan

Gambar

“Daniya menikah bulan depan,” nada kecewa bisa kutangkap dengan jelas menyertai kalimat yang diucapkan Andra.

“Aku memintanya untuk jadi istriku sejak dia masih kuliah, Ta. Saat kita baru menjadi sarjana,” kali ini ada nada emosi di sana. Aku tau persis bagaimana Andra sebegitu mengejar gadis manis bernama Daniya, adik tingkat kami saat kuliah.

“Waktu itu Daniya bilang masih mau menyelesaikan kuliahnya. Aku menunggu. Saat dia selesai kuliah S1, dia bilang ingin konsen melanjutkan S2. Saat S2 selesai dia bilang ingin bekerja dulu untuk biaya pendidikan adik-adiknya. Aku juga masih menunggu. Dan sekarang? Dia menikah Ta. Dengan pria lain!” Aku bisa melihat jelas ada geram dalam suara Andra.

“Bukan jodoh kamu, Dra,” kalimat klise. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada Andra setelah kebisuan tercipta cukup lama antara kami. Aku juga menyesalkan sikap Daniya yang tak menolak Andra terang-terangan. Beberapa temanku juga ada yang bersikap seperti Daniya, dengan alasan tak tega, mencari-cari alasan untuk tidak menerima pinangan pria. Tapi justru menjerumuskan si pria dalam harapan.

“Tapi kamu tidak akan berbuat yang di luar kendali kan?” Aku bertanya was-was. Teringat DP BBM yang dipasang Andra kemarin. Foto kartun menggantung diri. Aku bergidik membayangkan jika hal itu terjadi. Di luar dugaanku, Andra justru tertawa mendengar pertanyaanku.

“Ya nggak lah Ta. Aku nggak akan segitunya karena hanya seorang wanita. Aku masih bisa hidup tanpa dia.” Aku menarik nafas lega mendengar jawaban Andra.

“Kamu hanya butuh waktu, Dra. Ntar juga ketemu kok ama jodoh kamu sebenarnya.” Itu kata-kata yang sering kukatakan pada teman-teman cewekku. Entah apa berguna jika kutujukan pada Andra.

“Aku udah punya calon sendiri, Ta.”

“Oya? Siapa?” Secepat itu? Pertanyaan terakhir hanya kulontarkan dalam hati. Kulirik Andra yang tersenyum misterius.

“Kamu Ta. Kita menikah saja ya,” suara Andra melembut, sementara aku merasakan jantungku seperti terhenti mendengar kalimat itu. Ada aliran hangat merambat di wajah dan hatiku. Gegas kutepikan rasa hangat itu sekuat tenaga.

“Jangan bercanda, Dra. Ga lucu. Sudah deh. Aku mau jemput Aira. Dia pasti sudah menungguku,” aku siap beranjak meninggalkan Andra. Tapi tangan Andra menahanku.

“Aku serius, Ta,” mata Andra menatapku. “Kamu tahu dengan siapa Daniya mau menikah?” aku menggeleng. Sebuah undangan berwarna hijau disodorkan Andra padaku. Gegas aku membukanya. Tubuhku melunglai membaca nama yang tertulis di sana. Nama yang sama yang tertulis di akte kelahiran Aira, puteriku.

***

Awalnya cerita ini ingin diikutkan di quiz monday flashfiction. Tapi urung karena saya melihat aturan mainnya adalah Tengoklah ke kanan. Melihat satu benda? Ambil fotonya. Upload ke blog, trus jadikan cerita.

Lah? Saya malah mencari-cari benda yang bisa dibikin cerita. Hehehe… Dan jadilah cerita di atas. Ide lama juga sih. Tema sejenis pernah saya posting di mendiang MP saya dulu. Ya sudahlah saya batal ikutan🙂

4 thoughts on “[Fiksi] Undangan

  1. Aiiih, nikahnya sama bapaknya Aira hehehe…

    Lelaki seperti Andra memang ada. Saya pernah menemukannya hahaha… tiba2 move on dan langsung nembak cewek lain. Haissssh!!!

    Nice story, mbak😀

    • Kalau Andra versi nyatanya di kehidupan saya sih nggak cepat dapat pengganti mbak. Tapi orangnya cepat nyantai abis curhat patah hati. hehehe… Sekarang sih sudah move on dia😀
      Makasih ya mak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s