selepas membaca Dago 335 : Bianglala Cinta Lima Jomblo

Ketika kita membaca satu buku dan kemudian buku itu menarik buat kita, kita biasanya secara otomatis mencari-cari buku yang lain yang ditulis oleh penulisnya. Bukankah begitu? Kalau saya ditanya begitu maka jawabannya adalah Ya. Tak usahlah buku, tulisan di MP atau di FB atau di Blog saja jika menarik, maka saya akan tertarik untuk melirik tulisan-tulisannya yang lain.

Kemudian.. Haruskah buku pertama yang dipublikasikan harus menarik? Hemm… Sebenarnya saya lagi teringat dengan berbagai pro dan kontra tentang penerbitan indie yang hangat dibicarakan beberapa waktu yang lalu. Ada pendapat yang terekam dalam benak saya, kalau jangan sembarangan menerbitkan karya, karena kalau satu kali orang membaca dan karya itu ga bagus, orang2 bisa jera untuk membaca karya berikutnya. Saat membaca itu.. sy jadi sependapat. Hingga kemudian.. hari ini saya punya pendapat yang sedikit beda.

Kenapa? Saya baru saja selesai membaca Dago 335 : Bianglala Cinta Lima Jomblo.

Siapa penulisnya? Tasaro! (Waktu itu belum pakai GK :p)

Buku tersebut diterbitkan tahun 2005, tentu saja sebelum Galaksi Kinanti dan MLPH diterbitkan. Namun… yang membuat saya tertarik dengan buku itu adalah nama Tasaro. Tasaro memang salah satu penulis favorit saya (setelah membaca GK dan MLPH). Seperti biasa sebelum membaca sebuah buku saya suka mencari-cari review tentang buku tersebut. Dan beberapa review yang saya temukan.. menyebutkan kalau mereka membaca buku ini setelah membaca Galaksi Kinanthi dan MLPH.

Intinyaa… setelah terpukau dengan GK mereka pun mencari2 karya Tasaro yang lain. Yah, walaupun Dago 335 tidak semenawan Galaksi Kinanthi tapi setidaknya buku itu tetap dicari2, tetap menarik buat dibaca. Dan dari review tersebut ada sebuah pemakluman gitu deh jika karya ini tidak segemilang Galaksi Kinanthi. Ada sebuah proses yang memang harus dilewati oleh seorang penulis untuk sebuah karya yang indah. Tak mesti karya pertama harus benar2 memukau.

Tapiii… rugi juga kali yaa kalau diterbitin tapi ga laris. Beneran rugi ya? *Malah nanya*

Ya sudahlah… sy ngomongnya kok jadi ribet gini. Pusing sendiri bacanya :p

DAGO 335 : Bianglala Cinta Lima Jomblo berkisah tentang lima orang cowok yang masih jomblo yang tinggal di sebuah kontrakan di Jalan Dago No. 335. Lima orang cowok dengan beragam profesi.. Guyu seorang komedian, Laa Tahzan yang pemilik toko buku, Sibi yang jadi penulis, Garu pebisnis MLM dan Benua yang jadi dubber.

Truss… para jomblo ini punya kegiatan rutin tiap sabtu malam. Melewatkan malam minggu dengan ritual khusus. Ngapain? Ngapel? Ya ga lah… mereka kan jomblo. Yaa… Tiap malming mereka kumpul2 aja, diskusi, ngobrol2 di kontrakan mereka dan itu jadi acara wajib. Ga boleh di ganggu gitu sama apapun termasuk kerjaan. Hemm… di bagian mereka diskusi itu saya suka. Ngalir gitu deh… Benar2 obrolan cowok deh. Beda dengan Ibu2 arisan. Hahaha… Mungkin karena yang nulis cowok kali ya.. Jadi lebih pas.

Apalagi diselipin quote2 keren gitu deh. Ahaha… obrolan cerdas

Saya juga suka tulisan2 Sibi di kolom ‘curhat si Sibi’ dan belajar pada Sibi bagaimana caranya menangkap ide dari kejadian2 sekitar. Keren deh..

Karena ini serial… Jadi endingnya menggantung deh. Ada ga ya buku lanjutannya? Jadi penasaran…

*Pernah di posting di MP saya dulu*

9 thoughts on “selepas membaca Dago 335 : Bianglala Cinta Lima Jomblo

  1. Sinta Nisfuanna says:

    membuat karya emang gak harus mem-booming dulu, yang penting semangat menulis gak pernah luntur; karena bisa jadi dari sekian karya ada satu yang best seller, karya lainnya bakalan ke angkat juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s