Pergi ke ATM seminggu sekali saja

image

‘Buku-buku sebagai penambah ilmu buat yang mau nikah sepertinya bukan hanya buku-buku tentang pernikahan. Buku tentang mengatur keuangan juga harus masuk daftar’

    Itulah yang terpikirkan oleh saya menjelang pernikahan saya tahun kemarin. Saat itu saya memang lagi ngelist buku-buku bertema pernikahan, rumah tangga dan yang sejenis. Penginnya sih mau masukin buku-buku itu sebagai barang seserahan atawa hantaran. Tapi urung saya lakukan karena ngerasa repot menyiapkan semuanya, belum lagi kerepotan harus menjelaskan ke orang-orang kenapa saya pengin buku jadi salah satu barang hantaran. Akhirnya saya milih merelakan aja deh seserahan seperti normal adanya, tanpa buku. Huhuhu…

    Nah, lalu kenapa saya merasa buku tentang pengaturan keuangan mesti dimasukin dalam daftar? Karena ya tentunya hal ini penting dunk dalam sebuah kehidupan rumah tangga yang baru. Walaupun memang penting juga buat yang belum berumahtangga tapi bagi saya tetap saja hal ini akan menjadi sesuatu yang baru yang akan saya hadapi. Tentu lah akan menjadi sesuatu yang lain, saat saya masih single dan ikut ortu kemudian beralih menjadi ikut suami.

    Tapi pada akhirnya, saya baru punya buku yang berbau pengaturan money-money ini setelah hampir 9 bulan menikah. Heuheu… Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan. Buku itu juga sepertinya kalau bukan karena menang lelang, nggak saya lirik deh di tobuk. Wkwkwk… Lirikan mautnya ke novel muluuu. Oya, bukunya berjudul : Untuk Indonesia yang Kuat : 100 Langkah Untuk Tidak Miskin karya Ligwina Hananto.

    Saya belum tuntas membacanya. Tapi udah memeriksa 100 langkah rencana aksi keuangan. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah pada poin no 3 : Pergi ke ATM seminggu sekali saja. Walau tak ada penjelasan khusus tentang ini -entah karena saya terlewat karena belum tuntas membacanya- tapi saya bisa mengambil sedikit kesimpulan kenapa hal itu perlu dilakukan. Apalagi kalau bukan supaya tidak boros dan kebablasan. Hahaha….

    Selama ini pergi ke ATM sih tidak berjadwal. Ngambil kira-kira perlu berapa dan kalau habis ya ambil lagi, kalau ada yang bisa diambil sih. Hehehe.. Alhamdulillah ada terus ya🙂

    Nah, kalau kita menjadwalkan pergi ke ATM seminggu sekali, berarti diperlukan dunk pengaturan agar uang yang kita ambil itu cukup buat seminggu. Jadinya jajan yang nggak penting bisa ditahan, belanja yang nggak perlu harus disingkirkan. Baiklah… Ini sepertinya oke buat dipraktekkan.

    Tapiiii… Ada kompensasinya juga sih waktu saya dan suami diskusi soal ini. Jangan sampai jadwal kita ke ATM pas tanggal orang baru gajian. Antrinya buakal panjang beneeer. Pengalaman bulan kemarin nggak perlu terulang lagi deh. Saat uang tunai sudah sangat menipis dan berkali-kali balik badan di ATM karena antrian yang mengular. Coba keluar agak malam dikit, di atas jam 9 gitu tetap aja antriannya puanjang. Besok paginya abis shalat subuh coba ke atm, teteuuup udah banyak yang ngantri. Heuheu… Maklum tinggal di kota kecamatan yang kecil dengan banyak penduduk sebagai karyawan. ATM laris manis diserbu.

16 thoughts on “Pergi ke ATM seminggu sekali saja

      • RY says:

        Aku juga sih kadang kalo udah kepepet banget, mendadak harus butuh duit. Gak punya kartu kredit sih ….hehehhehe

        *sehat selalu ya Ti

    • Samaaaa… ga punya kartu kredit juga. Tapi atm bisa dipakai jadi kartu debit. Tapi di tempat aku tinggal ini mana ada yang nerima kartu debit buat belanja😀
      Kecuali ke Balikpapan.
      Kamu juga sehat terus ya Ry🙂

    • Samaaaa… ga punya kartu kredit juga. Tapi atm bisa dipakai jadi kartu debit. Tapi di tempat aku tinggal ini mana ada yang nerima kartu debit buat belanja😀
      Kecuali ke Balikpapan.
      Kamu juga sehat terus ya Ry🙂

  1. Sinta Nisfuanna says:

    salah satu buku koleksi suami dan dia yang semangat bacanya; harusnya aku juga ikutan baca ya hehehe…Soalnya kupikir ini buku temanya tentang nasionalisme

    • lebih ke pengaturan keuangan sih mbak kalau sekilas saya baca🙂 Buku lama ya mbak? Saya pikir buku baru nih. Tadi juga lihat dijual parcel buku harga 35 ribu. Padahal waktu lelang disebutin harganya kalau tak salah 72 ribu. Saya dapat dengan harga 30900😀

      • Buku lama mbak. Tahun 2011 ternyata terbitnya. Berarti kalau lelang mesti saya cek harga sebenarnya nih😀
        Mbak, parcel buku jualan buku gagas ga sih? Saya nyari buku2nya Windry Ramadhina. Metropolis sama Orange. Ada ga mbak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s