I Love Manday…

Judul di atas bukan typo tapi emang begitu adanya. Eh, terkadang orang menuliskannya dengan huruf i di akhir, tapi saya lebih suka memakai y karena nama panggilan saya berawalan Y. Menyematkan satu karakter dari huruf yang kita suka pada hal yang kita gandrungi itu menyenangkan.

Ini bukan tentang hari Senin. Walaupun saya juga sengaja menunggu Senin buat menuliskan ini (juga mempostingnya kemudian). Heuheu…. Saya berusaha sedapat mungkin tak ingin dan tak pernah membenci hari Senin. I Hate Monday itu bukan saya banget deh. Ya iyalah yan, elo kan ga kerja? Jadi hari senin atau bukan ga ngaruh kali ama loe. Pengaruh dunkk… Kan hari senin suami gue kerja, jadi hari senin saya kembali melalui hari tanpa suami di rumah di jam kerja. Heuheu….

Tapiiii…. Saya ga pengin membenci hari senin. Karena sebagai muslim hari senin itu istemewaaa. Kenapa? Ya semua juga dah pada tahu kan kalau Rasul kita tercinta dilahirkan di hari senin. Saya pernah mendengar cerita seseorang yang dalam hidupnya menentang Rasul, dia tidak disiksa (atau siksanya dikurangi?) pada hari senin. Kenapaaaa? Karena pada waktu Rasul dilahirkan, dia bergembira dengan kelahiran itu. CMIIW yaaa…. Hari senin juga hari istimewa karena pada hari itu disunnahkan berpuasa. Lantasss… Kenapa harus benci dengan hari senin???

Oya, ini bukan tentang hari senin. Ini tentang sesuatu yang special di mana penyebutan sesuatu ini mirip dengan penyebutan senin dalam Bahasa Inggris. Manday. Iya, namanya Manday.

Manday ini adalah salah satu lauk yang maknyus yummy lezato. Terbuat dari kulit tiwadak alias cempedak. APA? KULIT? Iyaaaa…. Tapi rasanya ituuu… Hummm… Maknyuss deh.

Gambar

Mungkin di daerah lain kulit cempedak ini dijadikan lauk bisa bikin mereka mengerutkan kening, tapi kalau di daerah saya sih sudah lazim. Dan banyak yang doyan, termasuk saya dunk. Jika di daerah lain kulit tiwadak ini dibuang, maka di daerah saya ini dimanfaatkan lagi. Caranya.. Kupas kulit bagian luarnya, jadi tinggal kulit dalamnya itu aja kan, baru cuci bersih. Ketika mengupasnya tangan anda akan penuh dengan getah, agak repot sih ngebersihinnya, tapi demi kelezatan yang akan kita dapat dari manday, sungguh tak masalah bergetah-getah ria dulu.

Setelah dikupas, taburi atau oleskan garam di bagian tubuh kulit itu, diamkan beberapa jam. Setelah beberapa jam, baru deh kulit itu dimasukkan ke dalam toples dan dikasih air hingga terendam. Kata mama saya, kalau mau cepat dimakan garamnya jangan banyak-banyak, kalau mau lebih awet banyakin garamnya. Kulit cempedak alias tiwadak itu akan melembut nantinya setelah beberapa hari dan siap dimasak kemudian disantap. Itulah yang disebut MANDAY.

Masaknya bagaimana? Macam2 siiiih. Di goreng langsung bisa. Ditumis dengan bawang merah dan cabe besar juga oke, trus ditambahin telur orak arik. Hemm… Maknyusssssss…. Tadi pagi saya berpikir untuk memberikan inovasi terhadap manday ini, entah nanti dibikin manday goreng tepung atau manday lada hitam. Wkwkwk… Teman saya mengusulkan steak manday, ada juga memberikan masukan dimasak asam manis saja.

Gambar

Sebenarnya tak perlu memikirkan diolah dengan cara bagaimana, toh jika ditumis biasa saja sudah bikin saya makan dengan kalap. Pengin nambah terussssss……

Beberapa hari yang lalu saya masang status tentang manday ini di FB dan salah satu teman sekost saya dulu yang juga dosen di MIPA BIOLOGI UNLAM memberikan info kalau manday ini ternyata banyak mengandung bakteri asam laktat dan itu membantu  pencernaan. Jadi kata beliau, cintai ususmu… Makan manday…. Dan jangan buang kulit cempedakmu. Hahahahaha…. I Love Mandaaaayyy….

6 thoughts on “I Love Manday…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s