Catatan Hati Yang Galau

 Ampyuuun deh judulnyaa :p
Oke, saya mulai bercerita saja….
Saya suka membaca cerita. Hal itu sudah saya sadari semenjak kecil. Ketika masih SD saya gemar membaca cerita-cerita yang ada di buku Bahasa Indonesia. Begitu dapat buku baru, saya langsung bolak balik halaman buku itu, jika ada cerita maka langsung saya baca.

Begitu pun ketika mengenal majalah. Rubrik cerpen adalah rubrik favorit saya. Ketika mengenal buku, saya juga keranjingan membaca buku cerita bukan buku non fiksi. Buku-buku awal yang saya punya seperti cerita rakyat dari beragam daerah, juga buku-buku tentang tokoh dunia walau diceritakan dalam bentuk gambar seperti komik.

Saat beranjak remaja, saya ketagihan serial Putri Huan Zhu di TV. Cerita tentang rakyat jelata yang karena ingin menolong seorang puteri raja, tapi justru dia yang dianggap sebagai puteri itu benar-benar memikat perhatian saya. Sayangnya tayangan Putri Huan Zhu pindah jam tayang dan jadinya ditayangkan bada maghrib di daerah saya. Hal ini menyebabkan saya tak lagi bisa menontonnya karena di rumah ada aturan antara maghrib isya TV tak boleh menyala.

Kakak saya yang paham betul saya suka sekali sama Puteri Huan Zhu akhirnya menghadiahkan saya novel-novel Puteri Huan Zhu ke saya. Saya senang luar biasa menerimanya dan biasanya bisa saya lahap dengan waktu singkat. Saya juga kemudian keranjingan membaca novel yang saya pinjam dari perpus, baik sekolah atau pun daerah.

Saat keranjingan membaca novel ini saya pernah melihat iklan di sebuah tabloid tentang beberapa judul novel. Membaca iklan itu saya jadi pengin membaca novel tersebut. Saya bawa tabloid itu ke toko buku di kota saya tapi semua toko buku tidak ada yang menjual buku yang ada di iklan tersebut. Buku di iklan itu ditulis oleh Helvy Tiana Rosa.

Ketika seragam kebesaran saya berwarna putih abu-abu, saya punya teman sekelas yang berlangganan majalah Annida. Saya pun senang membaca Annida yang saya pinjam dari teman saya itu. Kesukaan saya tetap sama, saya suka baca cerpen-cerpen di Annida, juga cerbungnya. Karena alasan penasaran dengan cerbungnya itulah saya kemudian membeli secara rutin majalah Annida, soalna waktu itu libur panjang, saya ga ketemu sama teman yang sering minjamin Annida. Terpaksa deh beli sendiri.

Semenjak Annida mulai banyak dijual dan sepertinya memang juga banyak pembelinya, beragam kumcer dan novel islami pun mulai mudah didapatkan di kota saya. Hal yang bikin saya senang sekaligus khawatir. Karena uang saku saya bisa habis terus kalau dibelikan buku melulu. Hahaha… Pengin ga beli, tapi saya penasaran ama isi buku-buku itu. Untungnyaaa… Ada beberapa teman yang juga rajin beli buku, jadi kami bisa saling meminjam🙂

Sebelum mengenal Annida, sebenarnya saya juga udah senang baca cerita-cerita remaja di majalah-majalah remaja… Apalagi kalau ada bonus kumpulan cerpen, makin senanglah saya. Majalah-majalah yang saya baca kebanyakan punya kakak atau sepupu saya. Sejak kenal Annida dan kumcer-novel islami itu, ada yang berubah terhadap selera bacaan saya. Hal ini juga pernah saya diskusikan dengan teman-teman sesama penggemar bacaan. Dan kemudian kesimpulan saya dan teman-teman, membaca cerita bernafaskan islami itu lebih sesuatu dibanding cerita remaja yang dulunya senang kami baca.

Apa itu sesuatu? Entahlah.. Lebih menyegarkan, lebih memberikan sesuatu yang berkesan dalam relung hati kami. Wkwkwkwk… Dan seorang teman bilang, saat dia sudah mengenal dengan cerita islami itu, cerita-cerita yang dulu dia baca di majalah remaja jadi berasa ‘kosong’. Tak ada yang dia dapat kecuali sekadar cerita. Beda hal ketika membaca cerita islami katanya. Saya bersepakat dengan teman saya itu. Teman-teman yang lain juga ikut menyepakati.

Saya bersyukur sekali masa remaja saya berada pada saat di mana fiksi islami sedang booming. Kumcer dan novel islami begitu mudah ditemui dan didapatkan. Juga terus bermunculan. Memuaskan para pembaca yang suka membaca. Sedikit banyak apa yang saya baca waktu itu mempengaruhi pemikiran saya. Walaupun yaaaah… Saya ini bukan seseorang yang alim dan masih perlu bimbingan sana sini.. Tapi setidaknya saya jadi tahu tentang apa yang boleh dan tidak, dan harusnya bagaimana. Walau pengamalannya juga belum bisa sepenuhnya. Hiks. Ampuni saya ya Rabb…

Nah, jadi ceritanya sekarang saya kan masih doyan baca-baca cerita. Novel tetap pilihan utama. Saya membaca novel-novel laris yang digemari para remaja sekarang, sebagai referensi juga buat saya karena ingin mencoba menulis cerita remaja. Itu dalih sih, pada dasarnya emang doyan baca cerita :p

Dari beragam cerita remaja yang saya baca dan rata-rata penggemarnya emang para remaja beneran (saya remaja gadungan. Hahahaha…), beberapa di antaranya atau malah sebagian besar ya emang agak jauh gitu dari nilai islami. Malah beberapa memasukkan kemesraan yang sebetulnya cuma layak dan ga dosa jika dilakukan oleh suami istri. Padahal kalau menurut hemat saya, jika adegan itu dihilangkan juga tak mengubah jalan cerita.

Dengan kenyataan yang ada seperti ini, dengan cerita-cerita yang menyisipkan hal itu di kalangan remaja saat ini.. Apa yang akan terjadi? Apa kemudian mereka menganggap hal itu adalah sesuatu yang wajar terjadi? Di zaman sekarang gitu loh. Padahal jelas-jelas agama kita melarangnya. Ah, saya kangen sekali dengan masa-masa keemasan fiksi islami.

Beberapa hari yang lalu saya menonton infotainment. Wkwkwkwk…. (Tontonannya itu ga mutu ya? :p abaikan dulu soal tuntunan ga mutu). Jadiiii… Di salah satu tayangan infotainment itu ada seleb yang baru nikah gitu dan dia bilang gini “Kalau udah nikah kan, kata kang Abik pegangan tangan ama istri sendiri aja sudah jadi pahala,” kata si seleb itu.

Yang saya garis bawahi adalah dia menyebut kata Kang Abik. Kang Abik adalah penulis, dan memang kang Abik adalah penulis islami yang tulisan-tulisan beliau sarat muatan dakwah. Nah… Anggap saja si seleb itu tau apa yang dia katakan itu dari tulisan-tulisan kang Abik, lewat novel kang Abik misalkan. Dahsyat kan sebuah tulisan, kita bisa melakukan sesuatu bernama dakwah.

Penulis-penulis cerita yang bernafaskan islami memang tak punah seluruhnya. Ada Tere Liye, yang walaupun tidak secara gamblang menyebutkan soal agama tapi karya-karyanya patut diapresiasi karena penuh dengan nilai pelajaran tanpa ada adegan-adegan yang tak layak dipertontonkan. Masih ada penulis-penulis lain yang berada di jalur santun, sebut saja mbak Ifa Avianty, Afifah Afra, Sinta Yudisia, Azzura Dayana, Riawani Elyta dan penulis lainnya. Tapi tentu saja, serangan dari novel2 yang tak berada di jalur santun itu masih teramat sangat banyak.

Pertanyaannya pada ke mana para penulis fiksi islami ketika fiksi islami masih begitu digemari?

Terlalu naif kalau saya menyalahkan dan menuntut para penulis fiksi islami itu muncul. Saya kemudian mikir apa sih yang bisa saya lakukan buat menyelamatkan generasi muda sekarang? Saya hanya ingin peduli. Beneran. Apalagi saya sangat sepakat dengan status Tere Liye ini :

*Berpikirlah dengan waras, dan mulailah peduli 

Saya pernah menulis di page ini, tidak hanya pernah, sering bahkan. Dalam demokrasi hari ini, ketika semua orang berhak bersuara, berhak melakukan apapun yang dia mau lakukan, maka isu moralitas akan menjadi sasaran empuk. 
Nah, kalian mau tahu seberapa rusaknya dunia? Maka lihatlah dari negara2 lain, belajarlah dari mereka. Jepang, Korea, itu adalah negara2 dengan budaya luhur yang luar biasa. Kalau kalian punya teman orang sana, minta mereka bertanya ke kakek-neneknya mereka dulu. 30 tahun lalu mereka amat beradab mengatur hubungan cowok-cewek, lawan jenis. 
Hari ini, hanya hitungan 20-30 tahun, semua seperti lenyap tidak bersisa. Orang2 hidup serumah padahal bukan suami istri biasa saja, artis2, selebritis mempertontonkan hal tersebut, urusan masing-masing. Apalagi kalau kalian mau belajar dari negara2 barat sana. Presiden amerika bilang, pasangan gay dan lesbian ‘berhak menikah’. Hari ini dia bilang dengan yakin, entah apa raut wajahnya kalau dua putrinya besok lusa menikah dengan perempuan sejenis. 
Di eropa, seorang menteri mengaku homo itu lumrah. Di salah satu negara, ibu negara adalah pasangan kumpul kebo pemimpin negara, boleh2 saja, tetap bisa jadi first ladies. Siapa yang melarang? Mereka semua tidak keberatan. Rakyat mereka bilang oke2 saja, no problemo, bungkus. Kita? Apa yang akan terjadi 20, 30 tahun lagi? Boleh jadi sama. Sebelah rumah kalian ada pasangan tidak menikah, depan rumah kalian pasangan sesama jenis. 
Jika sebagian besar rakyat Indonesia ini bodo amat, tutup mata, urus masing2 soal moralitas, maka masa itu akan datang lebih cepat. Mudah sekali membuat rusak sebuah generasi melalui kehidupan bebas, pergaulan bebas. Apa susahnya? Toh, tanpa dibombardir dengan tontonan, dsbgnya, mereka juga sudah semangat sekali menabrak rambu2nya. Mudah sekali memasukkan paham ini, karena generasi muda memang cenderung untuk ingin tahu. 
Maka mulailah peduli. 
Apakah di Amerika sana tidak banyak orang2 yg taat pada agamanya? Buanyaaak, kawan. Rajin2 ke rumah ibadah, rajin2 baca kitab sucinya, tapi tinggal sedikit saja yg peduli. Isu moralitas seperti buah simalakama dalam dunia hari ini. Jadi senjata pamungkas untuk menyerang saat ada yang memutuskan untuk peduli, selalu saja dibilang, urus masing2, nggak usahlah sok suci, dsbgnya. 
Jaga anak2 kita, lindungi teman2 kita, kerabat, keluarga, siapapun remaja di sekitar kita dari pemahaman yang merusak. Tegur mereka, ingatkan selalu. Urusan ini kadang kacaunya luar biasa, kita jaga baik2 anak kita, remaja2 kita, malah dibilang mengekang. Kita benar2 peduli dgn masa depan anak2 kita, remaja2 kita, malah dibilang tidak modern. Sementara di luar sana, yg bebas2 saja mau ngapain, dibilang itulah hak asasi, hidup modern. Ikutlah ambil bagian untuk peduli. Atau semua benar2 terlambat, dan kalian bersiap saja, besok lusa, saat di kendaraan umum, menemukan ada orang ciuman, mesra2an, tidak peduli sekitar, dan hei, mereka sesama jenis. Berlebihan? Lebay? Simpan artikel ini, buka lagi 20, 30 tahun lagi.

Peduli!

Apa jadinya jika para remaja terus mengkonsumsi beragam buku bacaan di mana para tokohnya asyik bermesraan dengan pasangan yang bukan atau belum halal untuknya? Jangan-jangan ntar mereka malah merasa hal itu adalah sesuatu yang wajar, bukan sebuah dosa atau kesalahan.

Oke… So, apa yang bisa saya lakukan?

Pertama, saya harus menulis cerita tandingan yang berada dalam jalur santun itu. Dengan gaya bercerita yang bisa diterima para remaja sekarang. Ini berat? Sungguh berat. Saya tak yakin bisa melakukannya.

Kedua, mengapresiasi setiap karya mereka yang berada di jalur santun itu dengan cara membelinya, mereviewnya, mengiklankannya. Dengan begitu mereka akan senang kembali berkarya dan para penerbit juga senang menerbitkan karyanya. Ini juga berat sih -_-.

Aiiiih… Kok berat semuaaa??? Lalu apa yang bisa saya lakukan? Galau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s