Cinta Yang Melukiskan Sejarah

Ada yang udah nonton Ainun Habibie atau Habibie Ainun ya yang benar? Ah, apa pun itu intinya film yang itu tuh yang mengisahkan tentang Presiden ketiga kita. 

Sebelum menonton filmnya saya udah baca review di mana-mana dan ini membuat saya sedikit nyesal gitu, soalna saya jadi tak terlalu menikmati lagi karena pikiran saya sibuk menerka ‘kapan ya adegan yang itu muncul’ atau ‘eh, ini kayakna yang diceritakan itu deh’.. intinya dari beragam review yang saya baca, seakan membentuk satu kesatuan film tersebut. Tapi walau begitu saya tetap sukaaaaa…. ^^

Film Habibie Ainun adalah film yang diadaptasi dari sebuah buku, saya kok enggan menyebutnya novel. Karena Buku Habibie Ainun seperti sebuah biografi gitu, perjalanan hidup, bukan novel. Apa bedanya yan? Ga tau. hihihihi…. Oya, saya punya bukunya yang cetakan pertama yang dicetak sebanyak 25000 eksemplar saja dan disebarkan ke seluruh Indonesia. Sekarang entah sudah cetakan berapa. 

Bukunya sendiri belum saya review, eh sebenarnya sudah sih, tapi reviewnya ga selesai dan tentunya masih menggantung. 

Dan ketika saya menonton filmnya, ingatan saya akan isi buku itu kembali mengemuka. Hahaha… istilah apa itu mengemuka? Maksudnya dulu isi buku itu ngumpet gitu dalam benak saya, pas nonton isi buku itu kembali ke permukaan. Jadi ingat gitu lho… ribet amat mau bilang gitu aja :p

Dan lagi-lagi… saya menyebut saya lebih suka membaca buku yang terasa lebih detail ketimbang nonton filmnya yang berloncatan dan mengejar durasi. Tapi ya sudahlah, saya harus bilang kalau buku dan film adalah karya berbeda. Dan keduanya sama bagusnya. 

Hari ini saya kembali membuka lembar-lembar buku yang ditulis oleh manusia jenius itu. Waktu saya SD, Guru saya pernah bercerita tentang pak Habibie ini, mengisahkan betapa jeniusnya beliau dengan mata Guru saya saat bercerita yang menyorotkan kekaguman. Dalam film, maka kejeniusan pak Habibie itu tergambar begitu manis. 

Saya ingin mengutip beberapa isi dari buku Habibie Ainun yang saya garisbawahi, artinyaaa saya sukaa… 

“Rudy, kamu mau jadikan Ainun pacarmu? Kamu harus tahu diri! Kamu sadar Ainun itu siapa? Sainganmu anggota keluarga terkemuka di Indonesia, berpendidikan lebih tinggi dari kamu, kaya, ganteng dan lebih besar dari kamu! Kamu siapa? Sepeda motor saja kamu tidak miliki. Paling banter naik becak. Harus realistis! Jangan berkhayal dan mimpi.”
 
“Terima kasih atas pandangan dan pendapat kalian. Saya percaya bahwa takdir seseorang ditentukan oleh Allah SWT. Jikalau memang Ainun ditakdirkan untuk saya dan saya untuk Ainun, maka apapun kalian katakan, Ainun insyaAllah akan menjadi istri saya dan saya menjadi suami Ainun. Lihat saja nanti!” (Hal. 6)
 
Saya belajar menggunakan waktu secara maksimal sehingga semuanya dapat terselesaikan dengan baik : mengatur menu murah tetapi sehat, membersihkan rumah, menjahit pakaian, melakukan permainan edukatif dengan anak, menjaga suami, membuat suasana rumah yang nyaman ; pendeknya semuanya harus dilakukan agar suami dapat memusatkan perhatiannya pada tugasnya. Saya belajar tidak mengganggu konsentrasinya dengan persoalan-persoalan di rumah.” (Hal 26)
 
Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir : buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya ketambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami hidup begitu. (Hal 39)
 
Ainun selalu mandiri dan tidak pernah mengeluh dan mengganggu pekerjaan saya. Seberat apapun pekerjaannya, ia selalu memberi senyumannya yang menenangkan saya dan selalu kurindukan sepanjang masa. Seberat apapun pekerjaan yang ia hadapi, semua dilaksanakan rapi, rinci dan terus dikonsultasikan dengan saya di manapun kami berada (hal 120)

Sungguh sebagai pribadi dan istri saya mesti banyak belajar dengan apa yang dilakukan oleh Ibu Ainun terhadap pak Habibie dan keluarga.

 Dan saya ingin menaruh sebuah puisi entah ciptaan saya yang dulu digembor2kan kalau ini puisi dari Pak Habibie untuk Ibu Ainun, walau sebenarnya bukan.
 
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada. Aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
Selamat jalan, calon bidadari surgaku ….

17 thoughts on “Cinta Yang Melukiskan Sejarah

  1. RY says:

    Aku suka filmnya, aku sukaa…..
    Berangkat dari kisah nyata. Ternyata ada lelaki, ayah, dan suami serta pribadi yang luar biasa ditambah perempuan sederhana dengan hati mulia seperti ibu Ainun🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s