40 hari dan 4 bulan

Jum’at kemarin, subuh-subuh pintu kamar saya diketuk kakak kedua saya yang sontak bikin saya kaget. Soalna lagi ngantuk sih… Masih capek ceritanya abis menempuh perjalanan jauh kemarinnya, hari kamis itu. Perjalanan dari Balikpapan – Banjarbaru – Barabai. Mana pesawat yang dijadwalkan pagi pakai delay nyaris 4 jam. Mantap kan?

Nah, si kakak nanya ke saya, apa saya yang akan mengantar mama ke pengajian? Seperti kebiasaan sebelum nikah. Saya mengiyakan aja. Walau masih berat juga karena kondisi tubuh yang masih tepar-tepar ngantuk gitu. Tapi jadi juga deh ngantar mama, dan saya putuskan untuk ikut duduk aja di pengajian itu daripada bolak balik ngantar trus ntar jemput lagi. Ga lama juga kok pengajiannya.

Waktu saya duduk itu si ustadz lagi ngebahas tentang penciptaan manusia, 40 hari menjadi segumpal air, 40 hari kemudian menjadi segumpal darah trus 40 hari berikutnya menjadi segumpal daging. Eitsss, bukan karena saya lagi pengin hamil jadi tertarik dengan urusan pembentukan ini, tapi penjelasan Ustadz tentang makna 40 hari itu.

Kata beliau, karena 40 hari itu waktu kita dalam rahim berubah bentuk maka untuk merubah kebiasaan juga diperlukan waktu 40 hari. Misalkan kita pengin ngebiasain shalat dhuha rutin. Awalnya berat bo… Tapi setelah 40 hari dikerjakan rutin dan konsisten, kebiasaan itu akan menyatu dengan tubuh kita. Mendarah daging gitu. Saya jadi kepikiran untuk mencoba macam2 secara rutin dalam 40 hari, menulis misalkan. Hehehehe… Syusah banget deh konsisten kalau tidak disiplin.

Trus kata Ustadz lagi, setelah 4 bulan (ada yang bilang 4 bulan 10 hari) ditiupkan ruh dalam janin itu, juga ditentukan ‘catatan’ tentangnya. Rezekinya, jatah umurnya dan nasibnya. Nah, makna diberikannya ruh ini dalam 4 bulan juga mengandung makna lain. Yaitu jika kita ditinggalkan atau kehilangan akan sesuatu yang kita cintai, maka awalnya berat dan sedih lah, trus kesedihan itu akan pelan-pelan menghilang. Dan ketika sampai pada waktu 4 bulan setelah kejadian rasa kesedihan itu akan jauh semakin berkurang. Sudah bisa menerima lah tentang kehilangan itu, sudah terbiasa. Itulah kenapa masa iddah perempuan yang suaminya meninggal (dan tak bisa ditentukan oleh kedatangan tamu bulanan) adalah 4 bulan.

3 thoughts on “40 hari dan 4 bulan

  1. mbak Indri… Makasiiih mbak. Iya nih lagi menikmati kampung halaman. Makan macam2, tambah gemuk deh. hehehe….mbak Julie… Bukan mbak.. Pengajiannya rutin kok itu, tiap jum'at pagi, di pondok pesantren gitu :)Iya mbak, saya lihat di sinetron 4 bulanan ada pengajian juga utk mendoakan si baby yg dalam perut🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s