Let Go – Windhy Puspitadewi

 

cover depan Let Go

cover depan Let Go

Ini tentang Let Go. Novel dari Windhy Puspitadewi yang beberapa waktu lalu selesai saya baca . Ah, rentang waktu antara saya membacanya dengan menuliskan hari ini bisa jadi bikin saya lupa banyak hal. Maklum, bukan fresh from the oven sih :p

Let Go adalah novel teenlit. Jika teenlit adalah pengertian dari bahan bacaan yang membidik usia belasan maka saya tak salah dunk mengatakan Let Go ini teenlit. Jika salah, benarkan ya. Namanya juga saya suka sok tau.

Let Go bercerita tentang 4 orang di sebuah SMA dan ada di satu kelas. Caraka, Nadya, Sarah dan Nathan. Empat makhluk itu punya karakter yang beda. Caraka yang kata teman-temannya kalau apa-apa lebih mengandalkan otot ketimbang otak, payah dalam pelajaran sains tapi suka membantu. Heran juga sih… Kegemarannya main keroyok justru bersanding dengan kesukaannya membantu orang lain. Oya, Caraka ini dikenal suka ikut campur urusan orang lain. Yah, membantu gitu.

Trus Nadya, si ketua kelas. Laki-laki sebenarnya dalam kelas itu tapi berbentuk cewek. Tipe pemimpin. Dia cewek tapi teman-teman cowoknya tunduk aja ama ketua kelas ini, aktif dalam beberapa ekskul dan juga selalu merasa bisa melakukan apa pun sendirian.

Sedangkan Sarah adalah tipe orang yang ga bisa membantah. Main iya aja. Ga tegaan. Polos dan terasa rapuh gitu . Nathan adalah cowok yang terlihat perfect, pandai dalam pelajaran sains , cakep, kaya tapi sikapnya jutek dan selalu tegas menolak cewek yang naksir dia hingga banyak yang patah hati.

4 siswa SMA itu kemudian bersatu dalam satu payung berupa mading sekolah. Penyatuan yang dipaksakan oleh wali kelasnya karena yang sebenarnya tergabung di mading itu cuma Sarah. Yang lain karena satu dan lain hal terpaksa bergabung. Di sinilah terjadi kebersamaan dan persahabatan yang ga awam di antara mereka.

Saya bilang ga awam karena mereka bukan 4 sahabat yang saling berpegangan tangan kemudian bilang “Tangan kita terikat, dan kita bersatu selamanya”, tapi kebersamaan mereka justru kerap diwarnai cekcok dan saling sindir. Bertengkar, tidak terima pendapat satu sama lain, dsb lah. Walau kemudian ada beberapa hal yang membuat mereka terasa begitu akrab dalam berdiskusi.

Ada beberapa hal yang saya temukan di novel ini. Herannya beberapa hal yang menurut saya adalah pelajaran itu dikemas Windhy dalam sebuah balutan cerita yang apik dan tidak menggurui. Memakai metode show bukan tell. Wekekeke… Sok taaaau banget nih yanti.

Pertama, bahwa setiap manusia itu punya kadar masalah masing-masing. Sesempurna apapun kehidupannya yang kita lihat. Nathan yang digambarkan sempurna, ternyata juga punya masalah besar dalam hidupnya. Nadya yang terlihat serba bisa juga menyimpan ketidakbisaan. Sarah yang terlihat tidak ingin membuat masalah dengan orang lain justru malah menimbulkan masalah untuk dirinya sendiri. Caraka… Baca sendiri deh…

Kedua, tentang kecerdasan manusia. Cendrung kita-kita menilai kalau orang-orang yang piawai dalam bidang matematika, fisika dan pelajaran-pelajaran lain yang saya pening adalah orang yang cerdas. Hal ini juga digambarkan di novel ini, hingga Caraka yang kesulitan mengerjakan pelajaran itu dinilai bodoh. Nathan protes, baginya Caraka sangat cerdas tapi dalam kecerdasan yang berbeda. Caraka sangat meminati sejarah dan dia dapat poin yang cemerlang dalam bidang sejarah itu.

“Orang yang baca banyak buku kayak kamu dan menguasai sejarah nggak mungkin bodoh. Kamu cuma sial hidup di tempat dan waktu yang salah. Tempat dan waktu ketika kamu dianggap bodoh kalau kamu nggak pintar dalam hal yang namanya sains.”

Walaupun tentu saja saya lebih bersepakat dengan cerdas menurut idola saya tercinta.

Ibnu Umar ra. berkata, “Aku datang menemui Nabi SAW. bersama sepuluh orang, lalu salah seorang dari kaum Anshar bertanya, ‘Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, “ Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah orang-orang cerdas. Mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat ”. (HR. Ibnu Majah).

Ketiga, tentang PHP. Apa itu PHP. Ampyuuun… Hari gini ga tau PHP? Baru tau juga padahal . Maksudnya Pemberi Harapan Palsu . Suatu ketika Caraka melihat Nathan dengan teganya menolak cewek yang nembak dia. Dan hal itu beberapa kali disaksikan Caraka. Melihat hal itu Caraka akhirnya bilang ke Nathan kalau Nathan itu tega sekali, menolak cewek dengan sadis *ingat lagu Afghan*. Tapi Nathan justru bilang ke Caraka : “Suatu saat kamu akan menyadari, kalau apa yang kamu lakukan jauh lebih sadis daripada yang kulakukan.”
Apa yang terjadi? Ternyata, kebaikan-kebaikan Caraka yang suka menolong dan ga tegaan ama cewek justru membuat para cewek berharap lebih padanya. Pada akhirnya ketika Caraka tak bisa membalas perasaan mereka, mereka tersakiti. Mereka? Kesannya banyak banget ya. Padahal yang spesifik diceritakan sih cuma satu.

Apalagi? Lupaaa… Kalau ingat insyaAllah disambung lagi. Tapi ga janji…. :p

“impian itu seperti sayap, dia membawamu ke berbagai tempat” (hal 120)

“Manusia itu memang aneh, kalau ada yang berbuat jahat mereka marah, tapi kalau ada yang berbuat baik, mereka curiga” (hal 43)

cover belakang Let Go

cover belakang Let Go

8 thoughts on “Let Go – Windhy Puspitadewi

  1. udah lama ga baca cerpen teenlit. gimana ya kira-kira kalo saya baca juga? Hehehe…

    Bagus juga jalan ceritanya, cuman kok terkesan klise dengan menggunakan mading sebagai media pemersatu tokoh..😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s