[Curhat] Audisi Menulis

Rasanya seperti keajaiban saja saya masih bertahan di audisi menulis itu. Dan selasa tadi saya menerima tugas ke 11 yang berarti sudah 12 minggu hari-hari saya diwarnai dengan tugas-tugas menulis. Yah, 12 minggu walau tugas terakhir berjudul yang ke 11 karena pernah satu tugas diulang karena banyaknya yang keliru mengerjakannya.

Tugas akan didapatkan lewat email hari selasa dan deadline pengumpulan tugas ada di hari minggu jam 12. Tugas dengan tingkat kesulitan masing-masing tiap minggunya.

Tak sekali dua saya ingin menyerah, ingin berhenti saja, semangat pudar, mood yang melayang entah ke mana. Tapi toh sampai sejauh ini saya masih bertahan. Tentu saja ada banyak dukungan yang membuat saya masih bertahan.

Ruang curhat antara saya, ka Fitri dan teh Anne memiliki peran yang sangat besar membuat saya bertahan. Kami saling dorong, saling menyemangati, saling berbagi info dan tips. Hingga dulu ketika saya sampai pada satu titik saya ingin menyerah, karena ka Fitri dan teh Anne lah saya memutuskan saya harus berjuang.

Peran suami buat mendukung saya juga tak kalah besarnya. Setiap saya dapat tugas di hari selasa biasanya saya tak langsung mengerjakan. Mungkin rabu atau kamis saya baru menyentuh tugas itu. Di saat itu, sering sekali bahkan hampir setiap kali saya dirundung malas dan tak ingin meneruskan juga merasa tak sanggup. Saya curhat ke suami dan dia selalu bilang. “Belum juga dicoba nulisnya. Tulis aja dulu. Usaha dulu.” Begitu yang dia katakan membuat saya mencoba mengenyahkan malas dan duduk di depan laptop, menarikan jemari.

Pada akhirnya saya sampai pada titik ini. Seperti yang saya bilang dulu saya tidak tahu sampai pada titik apa saya bertahan. Ahahaha… Seperti pesimis bakal terpilih menjadi top 10. Wkwkwk…

Tugas sudah sampai pada inti dari yang ingin diperoleh dalam audisi itu yaitu menulis novel. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya berhasil membuat kerangka karangan lengkap dari prolog sampai epilog, penjabaran di tiap bab dari awal sampai akhir. Hal yang menguras energi juga emosi tapi membuat saya jatuh cinta pada satu sosok di dalam cerita itu hingga kemudian di tengah perjalanan saya memutar balik ending karena cinta pada satu tokoh di sana dan ingin dia bahagia. Hahahaha…. Ternyata asyik juga ya menggambar peta untuk cerita yang akan kita lukiskan.

Oh ya, di minggu kemarin, saat saya kesusahan menulis kerangka, saya mendapati status dari Tere Liye yang membuat semangat saya kembali berkobar. Ahahaha… Agak lebay memang.

Simak statusnya…

Ada seorang atlet dunia yang mengagumkan. Saat ditanya, apa rahasia terbesarnya hingga dia berkali-kali memecahkan rekor dunia? Jawabannya pendek: saya bertanding melawan diri sendiri, saya berusaha terus menerus mengalahkan diri sendiri. 
Ini sesungguhnya jawaban yang super, menjelaskan banyak hal. Tapi bagaimana bisa dia jadi juara dunia jika dia hanya sibuk melawan dirinya sendiri? Bukankah dia harus peduli dengan catatan waktu pesaingnya? Bagaimana pesaingnya berlatih? Kemajuan pesaingnya. Tidak, dia tidak peduli. Baginya, setiap hari menjadi lebih baik, setiap hari memperbaiki rekor sendiri, jauh lebih penting dibanding memikirkan orang lain. 
Maka itulah yang terjadi, resep ini berhasil, berkali-kali dunia menyaksikan atlet hebat ini memecahkan rekor dunia, rekor yang tercatat atas nama dirinya sendiri. Jika dia hanya sibuk memikirkan orang lain, boleh jadi dia hanya berhasil memecahkan rekor itu sekali, lantas berpuas diri, merasa cukup. Game over.
Logika memperbaiki diri sendiri dan terus melakukan yang terbaik ini sangat efektif dalam banyak hal. Sekolah misalnya. Kita tidak perlu peduli kita ranking berapa, kita lulusan terbaik atau bukan, sekolah terbaik atau bukan, pokoknya belajar yang terbaik, maka lihat saja besok lusa, ternyata semua hal datang dengan sendirinya, termasuk ranking dan kesempatan melanjutkan di tempat lebih baik. Juga pekerjaan. Kita tidak perlu peduli siapa pesaing di sekitar, siapa yang akan menyalip dsbgnya, posisi dsbgnya, pokoknya bekerjalah yang terbaik, memperbaiki diri sendiri secara terus menerus. Maka, lihat saja besok lusa, semua pintu2 kesempatan akan terbuka dengan sendirinya.
Yah… Itulah yang kemudian membuat saya kembali bersemangat di tengah menerima kenyataan kalau audisi itu juga diikuti oleh mereka yang sudah profesional. Biarkan saja mereka. Saya harus berjuang untuk mengalahkan kemalasan yang ada pada diri saya, memberikan yang terbaik yang saya bisa dan biarlah Allah menentukan hasil akhirnya.
Setidaknya saya tak boleh menyerah. Jika memang saya tak lagi menerima email tugas itu karena memang saya digugurkan dari pihak sananya, bukan karena saya tak mengirimkan tugas.
Dan ketika saya teringat quote dari Kau, aku dan sepucuk angpau merah yang berbunyi : “Kau adalah satu-satunya kesempatan yang kupunya dan aku tidak ingin menggantikannya dengan yang lain.” saya juga semakin termotivasi, menganggap audisi menulis ini sebagai satu-satunya kesempatan. Kesempatan yang bisa memaksa saya menulis. Walaupun saya insyaAllah masih bisa menciptakan kesempatan-kesempatan lain. Tapi setidaknya ketika kesempatan ini terbentang saya bisa melakukan yang terbaik.
Semangat yanti…

*ditulis karena tengah dirundung malas*

2 thoughts on “[Curhat] Audisi Menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s