tentang Negeri Para Bedebah

Kalau sebuah buku dinilai bagus jika punya bab2 awal yang bisa merebut perhatian kita, maka buku ini sedikit gagal merebut perhatian saya di awal. 

Itu status saya di GR ketika update perkembangan terbaru bacaan saya di sana. Yah, dibandingkan dengan Tahta Mahameru yang sudah merebut perhatian saya di prolog, buku ini benar-benar gagal. Saya dilingkup bosan dengan wawancara Thomas dengan Julia di atas pesawat, ingin segera menutup buku dengan konfrensi apa tuh yang bikin kepala saya puyeng dengan istilah ekonomi, dan tinju.. oh tidak. Tinju olahraga yang paling membosankan sejagad raya bagi saya dan olahraga itu disajikan di bab2 awal.

Tapi saya terus bertahan untuk membaca buku ini? Kenapa. Karena beliau (menunjuk suami saya). Karena beliau yang gandrungnya membaca tidak seperti saya bisa menyelesaikan novel ini dengan sangat cepat. Saya tentu saja dibalut penasaran. Walau memang selera kami berbeda, tapi saya ingin tahu apa serunya novel ini? Hingga membuat suami saya itu memutuskan mengoleksi semua buku Tere Liye setelah membaca novel ini. Terlebih setelah Tere Liye membuat status di FB memuat nama jalan 21 Januari di Balikpapan. “Nanti kita beli lagi bukunya,” kata suami saya begitu saya ceritakan status itu. Tentu saja saya menyeringai bahagia mendengarnya.

Cerita baru menarik ketika tengah malam Thomas dibangunkan oleh Ram, mengabarkan ada sebuah situasi darurat di rumah Om Liem, orang yang sangat dibenci Thomas. Pengepungan polisi di rumah Om Liem, tante Liem yang begitu disayangi Thomas tergelatak tak berdaya di ranjang dan kemudian pelarian Om Liem yang didalangi Thomas mengelabui petugas membuat saya jatuh dalam suasana tegang. Erggghhh… Ini bukan film. Tapi saya seperti tak bisa bernafas saking tegangnya membaca pelarian itu. *lebay dikit*

Selanjutnya cerita terpampang tentang Thomas yang berusaha menuntaskan masalah-masalah terkait Bank Semesta, dibekukan atau diselamatkan? Dan waktu Thomas sangat singkat, terlebih kemudian posisi ada di deret pertama DPO di kepolisian.

Dalam petualangan Thomas itulah, tokoh-tokoh dengan cerita yang menurut saya membosankan di awal muncul. Julia, wartawan terbaik yang melakukan interview di atas pesawat, teman-teman Thomas di klub tinju petarung itu dan cerita kenapa Thomas begitu membenci Om Liem, saudara kandung ayahnya sendiri.

Seru. Menegangkan dan membuat rasa ingin tahu (baca : penasaran) terus tumbuh apa yang tersaji di halaman berikutnya.

Walaupun cerita ini dipenuhi dengan beragam kebetulan. Ahaha… Saya lupa baca di mana, tapi rasanya saya pernah baca kalimat ini. Sebuah cerita itu tentu saja akan penuh dengan kebetulan, tapi bagaimana seorang penulis bisa membuat kebetulan itu menjadi sangat wajar dan bisa diterima oleh pembaca. Bisakah kebetulan-kebetulan di novel ini diterima oleh pembaca? Baca aja sendiri. Kalau saya sih bisa aja. Hahaha… Terlampau terbius dengan ketegangan isi ceritanya.

Fiksi yang tersaji di sini juga membuat saya kemudian membandingkan dengan berita-berita yang dulu tersebar. Sampai-sampai saya mau googling menelusuri lagi kasus tentang Bank Cen****. Astaga Semesta = C******? Bahkan mereka sama2 memiliki 7 huruf. Wkwkkwkwk…  Kemudian tentang Ibu Menteri, Putera mahkota partai besar, juga parpol yang berjargon Katakan TIDAK pada Koroptur. Tapi warna parpol itu adalah lembayung, bukan warna kesukaan sahabat saya yang berinisial N.

Tapi tenang, di halaman awal terpampang sebuah tulisan : Tulisan ini hanya fiksi belaka. Bla bla bla… Bahkan tulisan itu bukan hanya nyempil tapi terpampang di satu halaman khusus sendirian, menegaskan kalau cerita itu emang fiksi kok, kalau kemudian ada pembaca yang membandingkan dengan cerita nyata seperti saya, tentu saja karena imajinasinya terlalu liar selepas membaca Negeri Para Bedabah ini.

Ada sedikit kejanggalan yang saya temukan di sini, entah karena editor kurang jeli, typo atau bagaimana tapi rasanya kejanggalan yang tak wajar mengingat buku yang saya pegang adalah cetakan kedua. Tentang hadiah mobil untuk Thomas, awal pertama diceritakan di hadiahkan saat usia Thomas 17 tahun, Thomas tak datang karena sedang ujian sekolah. Eh, di halaman selanjutnya (entah berpuluh atau berates halaman dari yang menyebut 17 tahun itu), malah disebut mobil itu hadiah ulang tahun ke 18 tahun.

Truussss…. Tentang Opa yang berlayar dari Cina ke Pulau Jawa. Sebenarnya usia 15 tahun atau 22 tahun sih? Aiiiih… kenapa saya menjelma menjadi pembaca yang cerewet???

Ketika ending, saya rasanya ingin bertepuk tangan sendiri. Wkwkwkwk… karena beberapa intuisi saya ketika cerita bergulir ternyata benar. Saya mengkhawatirkan salah satu staf Thomas kenapa bisa berkeliaran di tempat yang berbahaya ternyata itu emang mengancam jiwanya. Saya juga mengendus siapa musuh di balik selimut cerita ini. Ahahaha… lebaaaay.. Padahal terang saja saya bisa menebak, cluenya jelas sih😉

Novel yang sangat asyik buat difilmkan. Iko Uwais oke nih jadi Rudi. Wkwkwk… Atau jadi Thomas? Iko Uwais matanya sipit dan kulitnya putih ga sih? Tanya saja Audi yan. Hihihihi… eh, Ciyus. Kalau difilmkan, tak kalah menegangkan dibanding The Raid.

 

21 thoughts on “tentang Negeri Para Bedebah

  1. hensamfamily says:

    Saya baru membaca Tere Liye yang Moga Bunda Disayang Allah. Tapi saya ga suka dengan kebetulan kebetulannya. *akibat terlalu memakai logika ketika membaca sastra fiksi*

  2. whysooserious says:

    Saya sendiri kurang begitu memahami gaya penulisan Tere Liye karena sejauh ini baru baca satu bukunya “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah” dan novel itu bagus sekali walaupun memang alur bagian awalnya lambat sekali. Dengar2 sih penulis yang satu ini memang unik, saya jadi pingin baca yang lain-lainnya sih😀

    • Iya mbak. Alurnya lambat tapi tetap bisa membuat saya bertahan membacanya. Saya termasuk suka gaya menulis tere liye mbak, suami saya juga sampai ingin mengoleksi semua karyanya..😀

    • Delisa bikin mata saya bengkak karena mewek semalaman mbak. waktu itu kami di kampus bergiliran baca dan satu org cuma dapat jatah pinjam 1 hari, jadi begadang deh bacanya. Siapa yang kena giliran, esoknya matanya bengkak. Hahahaha…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s