Ketika Yanti Bikin Bakso

Seumur dengan Bang Thoyib yang tak pulang-pulang (tiga kali lebaran, red.) di rumah selalu bikin yang namanya Bakso alias pentol a.k.a pentol bakso. Apa pun namanya tahu aja kan apa yang saya maksud. Dan tentu saja lebaran yang dimaksud adalah lebaran Haji. Karena pada saat momen itulah biasanya tersebar daging gratisan qurban.

Lebaran pertama, 3 tahun yang lalu atau 1431 H.

Niatan bikin bakso itu pertama kali tercetus dalam benak saya. Mungkin karena pada saat itu saya lagi gemar-gemarnya mencoba berbagai resep baru yang walaupun terjual di mana-mana dan bisa dengan mudah saya beli tapi saya penasaran pengin nyoba memasak sendiri. Ketika saya sampaikan keinginan saya pada mama, mama tak mendukung sama sekali. Kata beliau kalau bisa beli dan enak aja ngapain susah-susah bikin sendiri. Tapi pada akhirnya mama luluh juga, mungkin karena ga tega karena anaknya sudah bertanya ke sana ke mari tentang proses pembuatan bakso itu.

Yah, saya memang bertanya-tanya  ke beberapa acil yang pernah bikin bakso, termasuk acil saya yang pernah punya kedai bakso sendiri. Dan atas petunjuk acil itulah saya mendapat pencerahan dalam membikin bakso, acil juga memberikan denah tempat penggilingan daging di kota saya yang kemudian ke sana lah saya beranjak dengan membawa seplastik daging. Ga banyak banget sih dagingnya, lebih dari 1 kilogram tapi kurang dari 2 kilogram.

Acil saya bilang di tempat penggilingan daging itu menjual beragam barang-barang yang kita perlukan. Jadi kita Cuma perlu bawa daging aja cukup dan bahan-bahan lain bisa ditambahkan di sana. Kita tinggal menyodorkan daging yang kita bawa dan orang yang di sana yang akan memberikan bumbu-bumbunya sesuai takaran, karena mereka udah terbiasa. Dan kita tinggal bayar berdasarkan apa yang ditambahkan ke bahan-bahan kita juga upah buat penggilingan daging itu.

Tapi atas petunjuk acil saya juga lah, saya membawa beberapa bahan yang ada di rumah, jadi tak semuanya saya beli di sana. Termasuk yang saya bawa bawang merah dan bawang putih (mentah). Sampai di sana saya bengong sesaat dengan riuhnya suasana penggilingan daging itu. Ramai sekali ditambah dengan suara bising mesing penggiling daging membuat orang-orang yang ada di sana mesti berbicara dengan suara yang keras.

Saya benar-benar tak tahu apa yang harus saya lakukan, dan saya memilih memperhatikan apa yang dilakukan mereka yang datang.

Pertama, daging di taruh di atas baskom kemudian beri nomor antrian di baskom itu, kartu antrian tergantung di dinding. Kedua, di atas daging itu taruh juga bawang putih mentah, ketika saya memasukkan bawang merah mentah seorang ibu menegur saya untuk tidak memakai bawang merah, katanya bisa jadi asam bakso kita. Saya menuruti nasehat ibu itu.

“Bahan yang lain nanti aja dimasukkan. Daging sama bawang putih aja,” jelas si Ibu. Saya menurut. Dan kemudian jika sudah sampai antrian daging itu digiling kasar dengan mesing penggiling. Setelah digiling kasar barulah dikasih bahan-bahan lain, tepung tapioka, bawang goreng, garam, merica, telur dan bahan lain. Pihak penjual di sana dengan senang hati membantu kita menambahkan bumbu ini dan tentu saja setelahnya kita bayar.

Setelah selesai tinggal menunggu giliran daging kita masuk ke mesin penggilingan untuk digiling halus dan siap diolah jadi biji-biji bakso. Oke cerita tahun pertama selesai. Bakso sukses saya bikin.

Tahun kedua, Idul Adha 1432 H.

Kali ini inisiatif buat bikin bakso bukan dari saya, tapi dari mama. Hahaha… kebalikan dari tahun sebelumnya. Mungkin karena mama ketagihan dengan bakso saya yang enak. Ga kok, mama berniat ngasih ke beberapa keluarga daging yang sudah jadi, jadi bisa langsung dinikmati. Maka jumlah daging yang dijadikan bakso juga lebih banyak. Saya lupa persisnya.

Belajar dari pengalaman tahun sebelumnya saya ingin lebih baik dalam pembuatan bakso kali ini. Wakakaka… Ky apaaa aja :p

Jadi kalau tahun dulu kan masih awal2, saya baru tau dengan suasana penggilingan daging itu. Jadi karena sudah tau saya bisa mengkondisikan agar bakso saya bisa hadir dengan enak juga higienis. Saya tak mau lagi menggunakan baskom yang ada di penggilingan daging itu. Kenapa? Karena sepertinya tak dicuci berhari-hari. Oke, kalau memang dicuci mungkin tak sebersih saya mencuci di rumah. Hufff…

Jadi saya bawa wadah berupa toples besar (biasa buat toples kerupuk itu) yang diisi daging di sana. Saya juga tak pengin lagi menyodorkan daging saya ke penjual di sana dan membiarkan mereka menaburkan serbuk2 yang saya tak tahu itu apa walaupun orang bilang bahan2 mereka tak berbahaya. Saya googling resep-resep bakso dan menyediakan bahan-bahannya sendiri. Saya harus bisa bikin bakso yang aman buat dikonsumsi anak kecil karena mama rencananya mau ngasih bakso itu buat adek-adek sepupu saya yang masih imut-imut lucu.

Jadi saya hanya bertatap muka dengan penjual untuk membayar berapa ongkos penggilingan daging saya. Penjual pun bertanya apa tidak ditambahkan bumbu? Saya bilang saya sudah tambahkan sendiri. Mereka sangsi dengan pernyataan saya dan agak tak terima.

“Aku gak jamin ya kalau bakso kamu ga jadi,” cetus penjual itu. Saya tak masalah. Toh, itu juga daging punya saya, suka-suka saya dong mau dimasukin apa aja. Kalau nggak berhasil baksonya toh saya juga nggak akan protes ke dia. Singkat cerita bakso saya itu berhasil dan saya puas sekali dengan hasil itu. Hehehe…

Tahun ke tiga, Idul Adha 1433 H.

Status saya berubah, saya telah menikah dan tak lagi tinggal dengan orangtua saya tapi ikut suami. Idul Adha kemarin saya berkesempatan mudik ke kampung halaman. Tak terpikir sama sekali buat bikin bakso kali ini, alasan utama karena waktu saya di rumah sangat sedikit, banyak hal yang ingin saya lakukan di kota saya, saya juga masih berkutat dengan tugas audisi menulis dan yang utama sih karena saya malas. Hahaha….

Tapi daging gratisan qurban kali ini berlimpah. Alhamdulillah… Banyak sekali yang berqurban tahun ini. Dan besar-besar pula sapinya hingga jatah buat kami banyak sekali. Saya bilang ke mama bagi saja ke yang lain. Tapi mama mengusulkan buat bikin bakso lagi, saya keberatan mama setuju. Eaaaa… ternyata abah bilang dia pengin bakso bikinan sendiri. Dan akhirnya dibikinlah bakso itu.

Kesalahan saya adalah saya tak mencatat resep yang saya gunakan ketika membikin bakso tahun lalu. Oh salah, bukan tak mencatat tapi saya lupa naruh catatannya. Padahal saya print waktu itu dan saya juga tak tahu di mana saya menyimpan file itu karena laptop yang saya pakai dulu sudah lama tak digunakan dan saya malas ngubek2 buat cari file resep itu. Akhirnyaaa.. apalagi kalau bukan googling dan saya juga melakukannya dengan setengah hati hanya melirik sekilas resep yang ada di blog seorang ibu dan kemudian mengeksekusinya dengan feeling saja. Hahahaha….

Saya juga tetap bawa wadah sendiri dan bahan-bahan sendiri. Kecuali tepung tapioka a.k.a tepung kanji yang beli di sana. Untungnya tak terjadi pembahasan oleh penjualnya seperti setahun yang lalu, mungkin karena yang melayani transaksi itu adalah anak lelakinya bukan ibunya. Hehehe…  Daging yang dipakai kemarin sekitar 4,7 kg. Saya menimbangnya dulu di rumah. Dan saya memakai tepung tapioka 1 kg saja. Bawang putih kira-kira 3 biji, juga bawang goreng merah dan putih secukupnya.

Sehari sebelum lebaran di rumah bikin soto dan seperti biasa saya kebagian bikin perkedel kentang bersama kakak ipar saya. Dan kesalahan saya waktu itu adalah memasukkan terlalu banyak garam di sana dan perkedel kentangnya keasinan. Dan itu membuat saya takut2 ketika memasukkan garam ke adonan bakso. Dan ketika digiling oleh petugas penggilingan daging, beliau merasa ada yang salah dengan daging saya. Teksturnya aneh..kalau diremas-remas tak bisa dibentuk. Beliau kemudian mencicipi dan bilang tak berasa, saya diminta menambahkan garam. Saya beli garam di sana. Tak tanggung-tanggung beliau tambahkan setengah bungkus.

Saya pun kemudian membawa ke rumah daging itu. Dan tradaaa… emang nih adonan daging tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun sebelumnya adonan daging menempel sekali di tangan dan dibentuk bola-bola dengan cara di remas di tangan untuk kemudian muncul di antara ibu jari dan jari telunjuk yang kita gengam kemudian disendokkan hingga menjadi bola kali ini agak susah dilakukan seperti itu.

Maka untuk membuatnya menjadi bola-bola, malah digiling seperti bikin perkedel kentang. Hahaha… Entah apa yang salah. Bisa jadi karena saya tak menambahkan sedikit pun baking soda yang sebetulnya ada di resep, bisa juga karena tepung kanjinya terlalu sedikit atau telurnya yang terlalu sedikit. Atau karena adonanya didiamkan dulu setelah digiling, tidak langsung diolah. Saya pulang ke rumah sekitar jam setengah 3 sore dari tempat penggilingan daging dan si adonan baru di eksekusi bada ashar karena saya capek pengin boci dulu. Wkwkwk….

FYI, saya berangkat ke tempat penggilingan daging dari jam setengah 10 pagi. Lama sekali bukan. Antriannya kalau Idul Adha ini ga nahan. Tapi saya ga sepenuhnya berada terus di sana sih, saya tinggal pulang ke rumah, balik lagi 1 jam atau lebih buat nengok perkembangannya di sana.

Dan saya bernafas lega ketika melihat adonan daging yang telah berbentuk bola-bola walau mencong sana sini mengambang ketika direbus yang artinya bakso saya sudah masak dan siap dinikmati. Gegas saya mencobanya. Humm… Enak kok, walau dagingnya berasa banget. Karena perbandingan antara tepung dan daging hampir 1:5.

Dan pengalaman kali ini memberikan saya beberapa pelajaran :

  1. Jangan malas buat menyimpan resep. Biasanya saya selepas mencoba resep baru akan saya posting gitu di blog. Bukan niatan mau pamer atau sok-sok jadi chef. Tapi biar saya mudah mencari ketika membutuhkannya lagi. Di blog lebih mudah menemukan daripada di folder laptop saya yang belum rapih. Hihihi….
  2. Lakukan pekerjaan dengan sepenuh hati.

Karena saya tak terlalu pengin bikin bakso dan malas-malasan jadinya saya googling sekedarnya saja resep bakso itu dan akibatnya bakso saya tak maksimal hasilnya (kebanyakan daging). Point kedua ini tentu saja tak akan terjadi jika point pertama saya lakukan.

12 thoughts on “Ketika Yanti Bikin Bakso

  1. mau donkkkk.. dibagi baksonya, sayang jauh
    btw, resepnya apa aja siy? giling sendiri bisa ga? kalau dikit dagingnya. aku koq gagal melulu ya bikinnya mba Yan

  2. rasanya trauma deh bikin Baso pas lebaran haji. ke penggilingannya itu antrinya byuh ampun ampun. tahun lalu sampe aku ulangi bbrp hari berikut tetep aja bejibun yg ngantri. ogah sudah! akhirnya aku akali buat campuran siomay aja sambil kucacah sendiri ama gepukan daging yg dari besi itu. sehat wal lebih gurih.

    he he he… ngebayangin air yg dicampurkan ama si tukang giling gilo deh, suami bilang kayaknya itu air kobokan deh. setelah itu malas nggilingin. mending nyacah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s