Episode Duka

Beberapa hari yang lalu saya menuliskan tentang tulisan Raditya Dika yang sangat saya suka. Saking sukanya, saya membacanya beberapa kali dan saya share juga ke FB, saya juga bercerita pada teman-teman saya tentang tulisan Raditya Dika itu, yang bercerita saat seorang teman dekatnya meninggal.

Hari ini, apa yang terjadi pada Radit di tulisan itu terjadi pada saya. Sama dengan Radit, sms tentang kabar duka itu juga menabrak saya di pagi buta. Saya langsung gelagapan, entahlah, jantung saya berdetak lebih cepat mendapat kabar itu, terlebih kabar duka itu menabrak saya dua hari berturut-turut. Kemarin di pagi buta juga saya mendapat kabar mama teman baik saya wafat. Yang membuat saya juga berselubung duka.

Parahnya sejak hape saya error dan saya kehilangan semua contact di hape saya juga termasuk nomor2 hape yang tersimpan hingga saya tak tau siapa yang sms saya. Gegas saya menelpon nomor yang memberikan kabar itu. Sibuk. Beberapa kali saya coba, tetap sibuk.

Keparahan kedua, saya menyebut nama teman itu tapi pikiran saya justru terarah ke teman yang lain, teman kuliah saya hingga saya mengecek kabar itu di BBG angkatan dan mencoba menelpon beberapa teman kuliah saya. Pas bicara dengan teman saya di telpon saya baru sadar ada yang ga nyambung antara lidah dan pikiran saya. Saya seperti orang linglung.

Saya kemudian menelpon yang sms saya tadi, mendapati kenyataan kalau berita itu benar.

“Sudah lama sakit yan, kami dulu nengok dia di RS.” Jelas teman saya.

“Kenapa aku tidak dikasih kabar kalau dia sakit?” saya menggugat.

“Berapa kali nyoba nelpon km tapi ga aktif yan atau ga diangkat.” Teman saya menjawab. Yah, ini salah saya. Sejak BB error saya cendrung mengabaikan missed call jika no yang ada tak saya kenali. Padahal nomor2 banyak belum di save di hape saya. Peringatan bagi saya untuk mulai rajin save no hape teman-teman, keluarga, kerabat.

Kabar wafatnya teman saya ini membuat bayang-bayang pertemanan kami berkelabat dalam pikiran saya. Kami seumuran tapi teman saya itu lebih banyak memakan asam garam kehidupan daripada saya. Walau tak terlalu akrab tapi dia teman yang sangat baik. Semasa seragam putih abu-abu alias MAN, ada 16 teman yang kami sudah seperti saudara sendiri. Biasanya acara yang kami sebut reuni juga kumpul2 kami aja.

Dia hadir di acara walimahan saya walaupun saya tidak berhadir di acara pernikahannya.

antara mempelai pria dan teman saya yang baju putih, yang baju warna biru.

Pertemuan terakhir saya dengan teman saya itu saat Ramadhan kemarin. Buka puasa bersama yang begitu malas saya ikuti. Ada 2 alasan kenapa saya malas untuk ikutan acara buka puasa, pertama ga pengin maghrib telat, kedua, saya khawatir kalau sebelum buka ada acara rumpi yang malah jadi ghibah. Alasan yang terlalu saya buat-buat mungkin.

Tapi salah satu teman (yang sebenarnya sama malasnya dengan saya karena alasan yang sama) memaksa saya untuk ikutan.

“Ga enak yan, kita ga ikut terus,” kata si teman. Saya setuju untuk ikut dengan pertimbangan setelah ini saya bakal hijrah ke Kaltim yang mungkin kesempatan bertemu dengan teman-teman sudah tak seleluasa dulu. Siapa sangka ternyata itu adalah pertemuan terakhir kami. Tak ada obrolan khusus antara saya dengan si teman saat itu. Saya juga buru-buru pamit ketika acara makan selesai, pulang lebih dulu. Dan hari ini saya mendapat kabar si teman telah berpulang.

Kenangan terakhir saat buka bersama

Pelajaran untuk saya hari ini adalah : Hargailah setiap pertemuan, karena bisa jadi itu pertemuan terakhir.

Dan tentu saja ini kembali mengingatkan saya tentang kematian yang pasti dialami oleh setiap yang bernyawa sesuai firmanNya. Tidak ada aturan yang tua yang wafat duluan, yang muda sudah tak kalah banyaknya telah berpulang. Apa yang sudah saya siapkan untuk kehidupan setelah dunia?

Mengutip pernyataan Raditya Dika di tulisannya tersebut.

Kadang gue ngerasa, kematian adalah topik yang sensitif untuk kita.
Sesuatu yang “ada” tapi selalu kita deny keberadaannya.

Badan ini dipinjamkan. Setiap tarikan napas, adalah satu tarikan napas lagi mendekati kematian.

 

4 thoughts on “Episode Duka

  1. Pelajaran untuk saya hari ini adalah : Hargailah setiap pertemuan, karena bisa jadi itu pertemuan terakhir.

    Betul sekali. Beberapa kali saya juga memperhatikan kondisi yg menyedihkan, dimana ada pertemuan tetapi banyak yang sibuk dg gadget-nya masing-masing🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s