Bincang tentang Audisi Menulis

“Bentar lagi selesai,” kata suami sembari menunjukkan buku yang sedang dia baca.

“Wah, 3 hari aja ya bacanya. Dari minggu kan pian mulainya, hari ini rabu,” saya menanggapi. Abaikan hitungan hari saya yang kacau balau. Seharusnya dari minggu ke rabu 4 hari kan ya :p Bukan itu inti dari postingan ini :p

“Cerita ini juga cuma 3 hari. Dari jum’at sampai minggu,” terang suami.

“Hah? Beneran? 3 hari dalam cerita bisa jadi novel setebal 400an halaman?” Saya surprise. Ingatan saya langsung melayang ke salah satu tugas dari audisi menulis yang saya ikuti. Menuliskan 15 menit suatu kejadian dalam 3000 kata. Dan itu sudah bikin saya pusiiiing dan bingung hingga cerita yang saya tulis terasa berputar-putar dan membosankan.

Yup. Audisi menulis. Itulah yang saya ikuti sejak… hemm… sepertinya 7 minggu yang lalu. Dan dapat dibilang audisi menulis ini bikin hidup saya lebih berwarna dan membuat saya dipaksa menulis yang panjang juga bikin saya dikejar-kejar deadline. Seru, asyik, menegangkan dan juga bisa bikin stress dan mau pingsan. *lirik teh Anne* :p

Awalnya saya tak terlalu tertarik dengan audisi itu, keikutsertaan saya di sana lebih dari ikut-ikutan teman-teman saja. Toh, syaratnya juga gampang, tinggal kirim email dan kemudian kita terdaftar jadi peserta. Kita juga tak perlu ke mana-mana karena tugas dikirimkan lewat email dan dikirimkan balik juga lewat email.

Awal September tugas pertama keluar, kita diminta menulis 350 kata kalau saya tak salah ingat. Ada dua tulisan yang diminta. Tugas pertama ini saja sudah bikin saya belajar, mencari tahu tentang deskripsi dan narasi itu apa, kemudian menuliskan sesuai permintaan. Tugas selanjutnya muncul kemudian dengan tantangannya masing-masing.

Tantangan yang paling berat saya dapati ada di tugas yang ke 4 dan saya hampir menyerah di situ. Tugas yang meminta kita untuk menuliskan cerita tentang seorang pria yang anaknya wafat tapi tidak boleh menuliskan kata kematian, kehilangan dan kata-kata sejenis yang dapat menggambarkan kalau si pria itu kehilangan anaknya tapi pembaca harus merasakan kalau si pria baru kehilangan anaknya. Ribet kaaaan?  Dan tugas itu sebanyak 3000 kata, 3 kali lipat lebih banyak dari tugas sebelumnya yang 1000 kata.

Saya yang sudah merasakan beratnya menulis 1000 kata tak terbayang bagaimana menulis sebanyak 3000 kata dengan syarat-syarat tak boleh menulis kata-kata tertentu yang penting dalam cerita itu. Apalagi yang diminta adalah 2 kisah. Artinya kita hanya diberi waktu 5 hari untuk menyelesaikan 6000 kata (tugas keluar selasa dan dikumpulkan hari minggu).

Menyerah! Itulah yang kemudian bermain di benak saya. Yah, sepertinya saya harus menyerah saat itu. Satu kisah saja saya sudah kelimpungan ke mana membawa cerita padahal baru 1500an kata yang saya tulis. Sudah terasa berputar ke mana-mana tuh kisah. Kisah pertama sampai di 2700 kata dan saya tak tahu lagi harus bagaimana meneruskannya. Cerita kedua? Sama sekali belum tersentuh. Dan saya putuskan untuk menyerah!

Sabtu malam saya sama sekali tak lagi menyentuh tugas itu. Hampir tengah malam bbm dari ka Fitri masuk, menanyakan apa saya sudah selesai? Saya jawab saya menyerah dan tidur lagi. Ketika saya terbangun saya melihat RU BBM dan menemukan status teh Anne yang mengatakan kalau beliau masih berjuang. Aiiiih…. Saya kok jadi panas? Maksudnya kalau yang lain masih berjuang kok saya begitu mudahnya buat menyerah? Semangat saya kembali lagi.

Dan tradaaaa…. Tugas itu akhirnya selesai dan saya bisa mengirimkan sebelum deadline sekacau apa pun tulisan itu. Sampai di situ, sampai saya menyelesaikan tugas yang ke 4, itu bikin saya menghapus kata iseng menjadi serius. Yah, kenapa tidak diseriusi saja audisi ini kalau saya sudah sampai sejauh ini? Walaupun seserius apapun saya susah juga menulis bagus dalam waktu 5 hari untuk 6000 kata, tulisan saya masih kurang sana sini. Yaaah, namanya juga saya masih belajar kan? *nyari pembenaran* Hihihihi….

Tugas-tugas yang diberikan juga semakin menantang. Peserta awal yang 700an orang itu kini katanya menyusut hingga tersisa sekitar 100an orang sekarang.  Dan dengan peserta yang semakin sedikit tentu saja bikin para panitia bisa membaca lebih teliti tulisan kita dan itu artinya kita harus lebih serius mengerjakannya, ga bisa asal jadi dan asal-asalan.

Minggu kemarin tidak ada tugas baru. Tugas ke 6 di ulang karena katanya banyak sekali peserta yang salah dalam mengerjakan. Saya akui punya saya juga salah, hingga saya harus edit-edit lagi sebelum mengirimkannya balik. Saya tidak tahu sampai sejauh mana saya bisa bertahan di audisi menulis ini, tapi walau hanya berupa tugas-tugas yang diberikan membuat saya belajar banyak hal.

Tetap cemungudh Semangat ^__^

4 thoughts on “Bincang tentang Audisi Menulis

  1. BSF says:

    Sebenarnya novel itu ceritanya dari jum’at hingga senin, tapi perjuangannya dari senin ke ahad, banyak flash back yg kemudian dikaitkan dengan strategi yg dia pakai buat ngambil langkah berikutnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s