Cerita tentang Pisang Gapit

Duluuu… sewaktu masih menyandang status sebagai mahasiswi dan masih ngekost, teman-teman dari Kotabaru asyik banget ngomongin yang namanya pisang gapit. Intinya mereka yang waktu itu lagi merantau menuntut ilmu di Banjarbaru lagi kangen ama yang namanya pisang gapit.

Saya si penyuka kuliner ini pun cuma memperhatikan mereka ngobrol dan bertanya, “pisang gapit itu seperti apa?” bla… bla.. bla.. mereka menjelaskan dan rasanya saya tak pernah makan yang begituan.

Waktu berlalu, status mahasiswi sudah saya lepaskan dan kembali bermukim di kota kelahiran, kesenangan saya wiskul semakin menjadi-jadi, hal ini dibuktikan dengan tubuh saya yang melebar ke samping. Wkwkwk… Ga bisa lihat tempat makan, warung or depot yang baru buka langsung deh saya coba. Nah, pada suatu hari saya menemukan sebuah kedai yang menuliskan pisang gapit sebagai salah satu menunya. Wusssss…….. langsung meluncur ke sana dan nyoba.

Hasilnya? Saya sukaaaaa…. Langsung saya rekomendasikan ke keluarga. Eaaa… ternyata yang suka cuma saya doang.

Srek… Srek… Srek…. *ini suara kalender yang dirobek*

Tahun berganti, di tahun 2012 saya kembali hijrah karena dipersunting oleh seseorang dari provinsi tetangga. Di Balikpapan, kota kelahiran suami terdjintah, saya menemukan kembali yang namanya PISANG GAPIT. Olala… saya langsung melonjak girang dan pengin nyoba. Tapiii… berhubung waktu itu lagi buru-buru ke Handil supaya sampai ga terlalu malam, niat makan pisang gapit pun tertunda. Hiks.

Dan kemudian, beberapa kali ke Balikpapan, eaaa… belum berjodoh aja ama pisang gapit ini. Tutup muluuuu…. Dan untuk mengobati keinginan saya terhadap pisang gapit, suami pun mengajak saya makan pisang gapit yang ada di Handil. Kata suami, pisang gapit yang di kebon sayur Balikpapan itu jauuuuh lebih lezat dari yang kami santap itu. Makin penasaran lah saya… Terlebih, orang-orang yang mengulas pisang gapit di blognya juga merekomendasikan Pisang Gapit kebun sayur itu.

Penantian dan rasa penasaran saya akhirnya tuntas. Beberapa waktu yang lalu pas lagi ke Balikpapan pisang gapit incaran bukaaa dan tanpa ba bi bu langsung deh kami ke sana. Mesan di bungkus aja biar bisa dinikmati di rumah sama-sama.

Rasanyaaa…. Hummm…. Yummy lezatooo… Walaupun rasa kurang puas dengan pisangnya yang menurut saya terlalu mentah. Wkwkwk… karena saya penggemar pisang yang kalau bahasa Banjarnya itu revo (baca : ripu), yang sudah masak gitu deh.

Pisang Gapit

Buat menggapit pisangnya alias di jepit

Pisang dibakar di atas bara api yang menyala

Pisang gapit siap dinikmati

Berhubung saya dan misua bermukim di Handil maka tak setiap saat kami bisa menikmati pisang gapit kebun sayur.

Suatu saat saya membeli pisang kepok sat sisir. Dan suami bilang, bikin pisang gapit aja. Saya sih ga terlalu antusias, paling pisang itu dibikin cemilan kayak biasa aja, digoreng atau dibakar di atas Teflon gitu trus dikasih susu, gula (astagaaa… sy lupa gula apa) dan keju. Tapi saya lihat pacar saya itu udah bosan makan yg kaya gitu. Sepertinya ide masak pisang gapit memang mesti saya eksekusi.

Jadinya saya pun berselancar di dunia maya buat menemukan resep pisang gapit. Saya cari resep yang paling mudah saja. Wkwkwkwk… disesuaikan gitu dengan bahan2 yang ada di rumah.

Jadi bahannya itu santan, gulmer, sedikit garam, tepung meizena dan tentunya PISANG!

Sebenarnya ada tambahan lagi yaitu daun pandan, tapi berhubung ga punya yo wis qta skip aja pandannya, trus saya lihat pisgap di bonsai itu dikasih irisan nangka di kuahnya, berhubung nangka ga ada jadi di skip juga. Waktu saya coba pertama dan saya suguhkan ke suami, dia bilang kurang manis, jadi saya tambahkan deh sedikit susu kental manis. Dan maknyusss deh rasanya… *dia yang masak, dia yang muji sendiri* :p

Cara masaknya gimana? Gampaaaang…. Santan dididihkan kasih garam (saya pakai santan yang instant itu), larutkan gula merah (sebelumnya gulmer udah saya rebus dengan air), sampai mendidih kemudian kasih tepung meizana yang sudah dilarutkan dengan air hingga kental. Di icip2 ya, kalau kurang manis tambah gula putih atau bisa juga tambah SKM.

Pisangnya gimana? Digapit kalau setahu saya artinya di jepit. Di bonsai ada penjepit khusus, berhubung ga ada penjepit, jadinya cuma di tikin alias di tekan pakai ulekan, kemudian di panggang di atas Teflon setelah sebelumnya dikasih margarine. Eh, bukan pisang gapit dong namanya karena pisangnya ga di gapit? Apapun itu yang penting enaaaak… dan suami saya sukaa banget sampai habis hingga tetes terakhir. Minta dibikinin lagi dan lagi😉

Pisang gapit ala Yanti. xixixixi….

Tambahan :

kemarin coba lagi masak pisang gapit dengan ditambah nangka, pas ke pasar lihat ada yang jual dan dari warna kuningnya kayakna manis banget tuh nangka akhirnya beli dan masukin ke kuah pisang gapit. Dan ternyataaa….. maknyuuus punyaa… ada sensasi rasa yang beda ketika ditambahin nangka. Nangka sepertinya emang mesti ditambahin deh😉

 

20 thoughts on “Cerita tentang Pisang Gapit

    • yantist says:

      Bisa juga sama kok BuPeb, ada banyak di daerah2 lain jg yg jual. Biasanya juga ada yang inovasi di tambah2in, misal tambah keju, coklat, kacang, dll😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s