Dzulhijjah, 4 tahun silam (part 3)

Maghrib menjelang, kami pun melaksanakan shalat maghrib berjamaah. Setelah selesai shalat, saya mendengar lantunan takbir berkumandang di tenda tetangga di maktab kami. Air mata saya kembali menderas. 
Ini malam Idul Adha, saya tersadar kembali akan hal itu. Kerinduan akan kampong halaman langsung menyusup cepat ke hati, ini Idul Adha pertama saya tak melewatinya beserta keluarga di rumah, tapi ini juga Idul Adha impian saya. Berada di Arafah.


Selepas maghrib kami kembali diminta makan (saya cerita makanan mulu ya )… setelah isya, kami pun segera beranjak meninggalkan arafah menuju Muzdalifah.
Kata muthawif kami, jika kami sampai di Muzdalifah sebelum tengah malam, maka kami akan berdiam dulu di Muzdalifah sampai tengah malam. Tapi jika kami sampai sesudah tengah malam, maka kami hanya mampir buat mengambil batu buat melempar jumroh. Selanjutnya melakukan perjalanan ke Mekkah buat thawaf dan sa’i.
Hemm… seharusnya di Muzdalifah kita bermalam? Yah, mungkin begitu sesuai dengan sunnah Rasul. Tapi saya sungguh tak punya daya dan hanya mengikuti jadwal travel. Karena itu lah saya sangat berharap jika suatu saat saya berkesempatan lagi buat berHaji, ingin sekaliiii melaksanakan Haji sesuai yang dicontohkan Rasulullah. Aamiin… Saya malah menyimpan keinginan buat melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, saya dengar beberapa travel ada yang menerapkan hal tersebut. Yang full mengikutiiii Haji seperti yang dicontohkan Rasul. Semoga Allah memberikan yang terbaik menurutNya untuk saya. Aamiin…
Rombongan kami tiba di Muzdalifah setelah lewat tengah malam, jadinya kami hanya mampir mengambil batu dan kemudian melaju lagi menuju Mekkah. Oya, kondisi jalan dari Arafah menuju Muzdalifah memang padat sekali karena semua tumpah ruah di sana. Kakak smsan dengan temannya yang katanya bada ashar sudah meninggalkan Arafah, beranjak menuju Mekkah buat thawaf dan sa’I, kemudian baru ke Muzdalifah. Kakak bertanya kondisi Mekkah, yang dijawabnya sudah padat sekali orang thawaf di Masjidil Haram.
Sepanjang perjalanan saya sesekali terlelap walau rasanya banyak terjaganya. Sekitar jam 2 atau jam 3 dini hari kami sampai di Mekkah. Alhamdulillah barang bisa kami tinggalkan di bis, jadi hanya membawa barang yang berharga saja yang harus kami bawa. Kami pun langsung masuk masjidil Haram setelah sebelumnya mengambil wudhu dulu karena kehilangan wudhu tertidur di perjalanan. Suasana Masjidil Haram ramai sekali.. Kami melaksanakan thawaf dan sa’I, lebih padat tentu saja memakan waktu lebih lama dan juga disertai kondisi yang letih karena kurang istirahat. Karena itulah… saya setujuuuu sekali jika ada yang menganjurkan kita untuk meniatkan Haji saat masih muda, saat kondisi badan masih prima, karena prosesi ibadah Haji memang perlu fisik yang oke. Semoga Allah mengundang kita. Aamiin…
Thawaf dan sa’I selesai, kalau tak salah ingat memakan waktu kurang lebih 2 jam, menjelang subuh semua prosesi selesai. Saya hanya berdua dengan kakak, terpisah dengan rombongan yang lain karena padatnya masjidil Haram saat itu. Saya dan kakak segera menuju tempat kami sepakati untuk berkumpul kembali selepas melaksanakan thawaf dan sa’i. Oya, berhubung thawaf dan sa’I sudah dilaksanakan, saya sudah bisa bertahalul awal. Alhamdulillah…
Di tempat perjanjian jamaah travel kami berkumpul, saya bertemu dengan beberapa teman jamaah yang sudah tiba lebih dulu. Kami berpelukan satu sama lain. Di saat itulah air mata saya kembali tumpah pah pah… rasa syukur dan haru menyergap saya sedemikian kuat. Alhamdulillah….
Kakak minta saya menelpon keluarga di Tanah Air, saat itu memang dini hari di Arab Saudi, tapi di Tanah Air sudah pagi. Saya menelpon mama, mengabarkan kalau sudah thawaf dan sa’I, sudah tahalul awal. Mama di ujung telepon mengucapkan hamdalah, ada keharuan yang saya dengar dari suara mama. Saya tau, ini termasuk impian mama yang paling besar.. anaknya bisa berHaji dengan segera. 2 tahun kemudian, kakak saya yang kedua menyusul pergi Haji juga.
Oya, saat itu.. seluruh jamaah pria bersepakat untuk mencukur habis rambut mereka alias digundul
Subuh datang menjelang, belum semua jamaah berkumpul. Saya melaksanakan shalat subuh di pelataran Masjidil Haram. Pengin masuk lagi ke dalam mesjid khawatir padatnya jamaah membuat kami susah buat keluar karena kami harus bergegas menuju Mina. Saat shalat subuh selesai, saya melihat semberut jingga di arah timur Mekkah. Fajar Idul Adha. Sungguh, itu fajar terindah yang saya rasakan dengan suasana hati yang ah… saya tak bisa melukiskan dengan kata-kata. Indah sekali. Segala letih rasanya menguap
Sayang sekali kami tak bisa mengikuti shalat ied karena harus bergegas menuju Mina dan selanjutnya mabit di Mina. Travel kami menjadwalkan kami menjalani nafar awal saja, artinya hari ke 12 bulan Dzulhijjah kami sudah beranjak meninggalkan Mina dan esoknya menuju Madinah.

2 thoughts on “Dzulhijjah, 4 tahun silam (part 3)

  1. Ry says:

    Ooh Yanti pake nafar awal ya, aku mah nafar tsani. Jadinya nggak pulang dulu ke Mekah. Kebetulan, ada KBIH yg satu kloter sama aku yg pake jalan kaki. Mereka udah nyiapin staminan banget, kan lumayan juga perjalanan Mekah-Mina (skitar 12Km).

  2. Iya Ry, nafar awal. Tanggal 13 kami sudah menuju Madinah. Kalau reguler bisa milih sendiri ya, mau nafar awal atau tsani. Kalau plus ikut jadwal travel deh,Waaaaah… iya ya Ry? Aku pengin lho nyoba. Emang mesti siapin fisik banget ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s