my dreams about the wedding party

Hari ini berkesempatan menemanin Mama ke dua acara walimahan, eh.. mungkin lebih tepatnya jadi ojek mama kali ya.. xixixixi…

Dan kebetulan sekali, duh, padahal dalam hidup ga ada yang namanya kebetulan ya, semuanya udah ada yang ngatur. Baiklah, kata kebetulan kita eliminasi, jadi dari dua walimahan itu perpaduan keduanya adalah walimahan impian saya. 

Walimahan pertama yang saya datangi, konsepnya islami sekali. Pisah banget antara tamu wanita dan tamu pria. Pisahnya jauh lagi. Jalan masuk untuk pria dan wanita aja beda. Dan ga ada genderang gendering suara musik. Wajar memang, karena walimahan itu sendiri diadakan di pondok pesantren.

Cara makannya juga unik. Buat tamu wanita, setelah kita mengambil makanan yang disediakan, ada meja-meja lesehan yang menyambut kita. Menu-menunya juga menggugah selera😀

Walimahan kedua yang saya dan mama datangi sederhana sekali. Hanya ada satu tenda buat tempat makan, campur sih antara tamu pria dan wanita. Trus rumahnya juga dihias sederhana dengan pelaminan yang sederhana. Jadi pengantin seperti membaur dengan para tamu, tidak duduk di atas singgasana seperti raja-ratu yang saya lihat di tipi :p

Dan saya sebenarnya menginginkan perpaduan dari 2 walimahan itu, yang sederhana tapi islami tapi menyuguhkan makanan yang bisa memuaskan para tamu. Maksudnya.. untuk makanan oke lah budgetnya lebih tinggi, kapan lagi kan bisa menjamu teman-teman, sodara-sodara, tetangga kerabat dan lainnya. 

Tapi untuk hal-hal yang bisa dieliminasi, misalkan biaya rias dan sewa pelaminan, pakaian pengantin, bunga-bungaan, souvenir, wedding singer itu ya di skip aja toh atau disederhanakan hingga tak memakan biaya yang terlalu banyak. Wong saya suka ngeri sendiri mendengar biaya walimahan orang-orang sekarang yang bukan lagi seharga motor baru, tapi udah seharga mobil baru. Hohoho… tapi ya ga menggugat juga, kalau memang mereka ada uangnya kan.. silakan saja.

Oya, tentang walimhan yang sederhana itu, setiba saya di rumah, saya ceritakan hal itu pada Abah. Dan abah sepakat dengan konsep walimahan seperti itu.

“Seperti kata si Teguh itu (maksud abah si Mario Teguh) kalau walimahan itu hanya sehari dan paling tidak dibicarakan dan diingat orang beberapa hari saja. Jadi jangan memaksakan diri bermewah-mewah kalau memang tak mampu. Pesta itu bukan yang utama, yang utama adalah bagaimana menjalani hari-hari setelah pesta berakhir.” (aslinya Abah ngomong pakai Bahasa Banjar.)

Dan malam ini jadi pengin menulis tentang my dreams about the wedding party

Sebelumnya rasanya udah pernah sih nulis ginian, lupa.. tapi gpp kali ya saya tulis lagi. Toh, ini juga lapak saya pribadi. Ya silakan aja kali yaan.. :p

Pertama tentang Mahar.
Eh, kok malah mahar? Ya kepikiran yang pertama tentang Mahar. Dulunyaaa… saya pengin mahar itu yang sederhana aja, seperangkat alat shalat. Itu cukup deh. Tapi, beberapa waktu yang lalu saya baru tau kalau ternyata mahar itu baiknya yang bernilai investasi gitu. Jadinya ya mungkin antara uang atau emas.

Kedua, tentang gaun pengantin.
Duluuu sekali, saya pernah menemani seorang kerabat yang masih ada di kamar sehabis dirias. Jadi dia mengeluh karena tak nyaman dengan baju pengantin yang dipakainya itu. Saya pun yang melihat jadinya ikut tak nyaman juga. Jadinya, saya pengin gaun pengantin yang saya merasa nyaman memakainya. Makai jilbab? Tentu dong. Dan saya pengin jilbabnya tetap menutup dada.

Hal ini pernah saya diskusikan dengan kakak ipar, dan kakak ipar saya bilang biasanya pihak perias pengantinnya tidak menyediakan jilbab yang agak lebar, jadi kalau mau ya harus sedia sendiri.

Ketiga, tentang riasan.
Penginnyaaa… yang minimalis. Kayak si kate istrinya Pangeran Willy kan minimalis aja tuh make upnya. Pas lagi hari banyak orang pada nikah (111111), di wall saya menjamur foto2 pernikahan. Saya pun membandingkan foto yang satu dengan yang lain. Dan tradaaa… kok saya melihatnya yang make upnya minimalis terlihat lebih anggun dan cantik. Yaaa… mungkin karena selera saya itu kali ya. Jadinya suka ngeliatnya.

Oya, saya juga tak akan mengizinkan tukang riasnya mengganggu gugat alis saya. Hihihi… biarkan alami apa adanya gitu aja.

Hal ini juga pernah saya sampaikan pada seorang kawan baik yang kakaknya punya usaha rias pengantin. Kata si teman, “susah yan. Ga bagus lho kalau ga dirapikan alisnya. Tukang rias juga biasanya ogah. Kan nama mereka dipertaruhkan kalau dandanan pengantinnya jelek.”

Tapi kalau kata kakak saya, “kan kita yang bayar. Jadi tukang riasnya harus nurutin apa mau kita dong.”

Keempat, tentang tamu
Seperti yang saya bilang di atas, saya penginnya tamu itu puas gitu dengan hidangan yang disuguhkan. Walaupun ya masih tetap hemat. Hihihihi….

Kelima, Dokumentasi.
Ini juga makan biaya lho… Entah kenapa sempat terpikir, saya ga pengin dokumentasi yang pakai video gitu. Kecuali untuk akad nikah. Kalau untuk akad memang pengin deh saat itu direkam. Kalau untuk walimahan ga pengin. Soalna malas nontonnya. Mending nonton Drama Korea. Aiiih… 

Sttt… soalna itu, dvd dokumentasi pas walimahan si kakak juga ga saya tonton tuntas. Nontonnya Cuma pas kakak ipar muterin tuh dvd di depan kami semua. Entah kalau video pernikahan kita sendiri ya.. belum pernah ngalamin sih :p

Kalau foto mah teteup pengin..😀

Apa lagi ya? Sekian dulu deh dan Terima Kasih :D 
Udah ngantuk dan ntar malem ada Jerman vs Portugal. Yay… ozil mana ozil :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s