[Repost MP] Haji Plus atau Reguler, Pilih Mana? (part 2)

“Ti, bawa sajadah tipis aja ya, ntar di sana baru beli sajadah yang tebal sebelum ke Arafah,” itu pesan mama ketika membantu saya packing. Sy sih iya2 aja karena memang tak tau kondisi di sana.

Oh ya, sy pikir awalnya sy ga butuh sajadah di sana, soalna dari dulu sy selalu pengin buat bersujud di lantai Masjidil Haram, tanpa alas gitu, merasakan bagaimana dinginnya lantai Masjidil Haram dan untuk mesjid Nabawi, sy sering dengar kalau permadani yang ada di sana itu permadani terbaik di seluruh dunia. Jadi yaa… buat apa gitu bawa sajadah? kalau pun beli sajadah itu nanti buat oleh2 saja.

Tapiii… berhubung belum pengalaman dan masih buta dengan apa yang di sana, sy mengiyakan aja apa kata mama, apa yang perlu dibawa, dan apa yang ga perlu, termasuk soal sajadah tadi. Yang ternyata memang diperlukan ketika di sana.

Nah, mengenai permintaan mama untuk beli sajadah yang agak tebal sebelum ke Arafah, sy juga kebingungan di mana nemuin orang jual sajadah. Karena beberapa hari sebelum ke Arafah ya hidup sy hanya berkutat di apartemen dan kalau ke Masjidil Haram ya ga ke mana2.. paling cuma lihat2 pertokoan yang persis berada di depan Masjidil Haram dan ga nemu yang jual sajadah.

Tapi beberapa kali sy nelpon mama, mama selalu saja mengingatkan tentang sajadah itu. H-1 sebelum ke Arafah sy nelpon mama lagi dan nanya,
“Ma, itu sajadah tebal yang pian suruh beli buat apa?”
“Buat alas tidur kamu nanti di Arafah dan Mina. Soalnya di sana itu kan hanya karpet aja alasnya. Jadi beli sajadah biar agak tebal.”
“Tapi pengarahan kemarin katanya tiap orang dapat kasur, selimut dan bantal waktu di Mina,” sy menjelaskan ke mama, berdasar info dari para pembimbing travel kami.
“Oh, gitu ya?” mama di seberang sana menyahut. “Oh iya, mungkin aja Ti, kamu kan pakai ONH Plus, kalau mama dulu ga ada pakai kasur, ya sudah, kalau kayak gitu ga perlu beli sajadah.”
Hufff… sy pun bernafas lega.

Dan bagaimana kenyataan yang terjadi di lapangan?

Ya persis dengan yang disampaikan para pembimbing di travel kami. Di Mina, memang tersedia satu kasur, satu selimut tebal (yang bisa dijadikan kasur juga) dan satu bantal untuk masing2 jamaah.

Di dekat tenda kami juga ada pos konsumsi, di mana antri ngambil makan kalau pas jam makan. Makanan yang tersedia, berupa nasi, lauk, sayur dan aneka buah, terkadang ada bonus tambahan semacam puding yang bikin sy ketagihan.

Di saat bukan jam makan, ada air panas yang bisa kita ambil kapan saja dan di sekitar air panas tersedia teh, kopi, gula, susu serta creamer buat qta yang pengin minum yang hangat2. Juga ada kulkas yang di dalamnya ada aneka jus buah dan minuman dingin lain. Mau ambil berapa, silakan saja.

Sore hari, waktu sy jalan2 di sekitar maktab, sy melihat beberapa orang dari travel lain sedang menyantap pop mie, wekeke… bikin sy ngeces :p.. karena udara di Mina saat itu rada dingin dan waktu makan malam masih beberapa jam lagi, jadi yaaa.. memang enak di sore2 dingin itu menyantap pop mie.

Sy pun penasaran di mana mereka dapat pop mie tersebut dan berjalan2 buat nyari posko pop mie. Ketemuuu… ada yang bagi2 pop mie dengan jargon “Satu halal, dua haram” artinyaa…. qta hanya boleh ngambil satu aja , sy pun lantas mengabarkan hal ini ke teman2 yang langsung disambut hangat oleh mereka dengan menyerbu posko pop mie itu.

Eh, ternyata Pop Mie itu boleh diambil beberapa kotak sekaligus oleh pihak travel jika menginginkannya, mendengar hal tersebut, sy pun langsung melapor dan jadinya.. ga perlu ke posko Pop Mie lagi kalau mau Pop Mie, karena udah tersedia di tenda masing2.

Itu ceritaku… apa ceritamu?

Nah, ketika keadaan di Mina itu sy ceritakan ke mama, mama pun langsung bergumam. “Memang beda ya kalau ONH plus.”

Saya tidak tahu bagaimana keadaan ONH reguler. Tapi waktu di sana, ada keluarga dari teman satu travel yang datang ke tenda kami. Dan bilang kalau tenda mereka jaraknya jauuuh sekali dari jamarat (tempat kita melontar). Jadi mereka beristirahat sejenak di tenda kami.

Sewaktu membaca buku Catatan Perjalanan Haji seorang Muslimah, di mana penulisnya menceritakan tentang pengalaman Haji beliau dengan menggunakan ONH reguler, saya memang menemukan kondisi yang tak sama dengan yang sy alami.  Dari soal makanan, berdesakan di dalam tenda, dan jauhnya tenda dari Jamarat. Yang spontan membuat sy terkagum2 dengan perjuangan dan kesabaran yang dituturkan penulisnya itu.

*sepertinya masih akan bersambung*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s