[Repost MP] Amanah itu menyadarkanku

“Kenapa sih yang jadi pemimpin itu harus pria?” Pertanyaan itu menyeruak dalam alam pikir saya saat sebegitu betenya melihat para pemimpin saya di beberapa organisasi,  karena di beberapa organisasi yang saya geluti itu memang menempatkan syarat “Ikhwan” untuk bisa menjadi pemimpin. Dan saya merasa kerja-kerja mereka itu lamban. Masa untuk mengerjakan satu program kerja (proker) saja prosesnya berbelit-belit, harus lapor sinilah, nunggu instruksi dari situlah, belum waktunya dilaksanakan lah, atau belum ada koordinasi dengan yang lain. Gedubrak! Kalau birokrasinya rumit gitu, jadinya sampai kepengurusan berakhir yang namanya proker ga jalan dong. Gimana nanti waktu pertanggungjawaban?

Dan saya bukan tipikal orang yang hanya diam ketika melihat ada ketidaknyamanan yang saya rasakan, maka ngomonglah saya ke sana sini. Protes ke sana ke mari. Mengatur sedemikian rupa agar semua yang saya inginkan berjalan bisa ‘benar-benar’ berjalan dengan semestinya. Dan, suara-suara sumbang pun kerap saya dengar, ada yang ngomong langsung di depan saya, “Tidak pernah tercatat sebagai pemimpin di manapun, tapi perannya udah kayak pemimpin di mana-mana.” Atau ada yang protes kayak gini, “hargai dong pemimpin kamu.” Dan berbagai redaksi kata-kata protes yang lain yang saya tanggapi dengan satu kata : CUEK. Ya salah sendiri dong, kalau proker bisa dijadikan mudah kok di bikin ribet. Sayangnya saya cuma bawahan sih, jadi ketika koar-koar kayak gitu banyak deh yang ga terima. Kekesalan pada para pemimpin dan ketidakberdayaan saya yang hanya sebagai seorang bawahan bersemayam lama dalam hati.

Allah dengan rencanaNya yang begitu indah pun memberikan kesempatan kepada saya untuk menjadi seorang pemimpin. Bukan menjadi ketua sebuah organisasi, bukan pula menjadi kepala sebuah departemen tapi hanya sebagai penanggung jawab sebuah kegiatan yang luamayan besar yang diadakan oleh BEM yaitu Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM). Bisa dibilang sebagai ketua Panitia pelakasana walaupun di sana amanah saya hanya sebagai sekretaris, karena acara diadakan di dua tempat, kampus Banjarmasin dan Banjarbaru, sementara kepanitiaan harus sama buat mudahnya proposal cair, jadinya sang ketua panitia ngurus kegiatan yang di Banjarmasin, sementara sekretaris yaitu saya yang ngurus di Banjarbaru.

Mendapatkan amanah itu awalnya saya nolak. Masalahnya kegiatan LDKM bukan bagian tugas saya yang waktu itu duduk di Bidang 1 BEM yang ngurus tentang keagamaan, sementara LDKM kan jobnya bidang 3. Tapi sang ketua BEM terus membujuk rayu saya, eh ga ding, maksudnya dia menyampaikan argumen kenapa saya harus menerima tawaran itu. Pertama, karena bulan itu bulan di mana BEM ramai-ramainya mengadakan kegiatan. Dan mereka yang terbiasa menerima peran sebagai ketua panitia pelaksana udah habis dapat amanah semua. Jadilah saya yang kemudian jadi ban serepnya. Kedua, sang ketua BEM juga meyakinkan saya kalau semuanya sudah hampir beres, tinggal pelaksanaan, “kepanitiaan sudah kuatur orang-orangnya yan, dana juga sudah cair, konsep acara tinggal menyesuaikan dengan tahun kemarin. Kerja kamu gampang deh.”. Saya berpikir sementara Ketua BEM memberi jeda pada lobinya, “intinya yan..” terusnya lagi.. “bakat jadi boss kamu bakal tersalurkan di sini.” Gedubrak! Bakat jadi bos? Maksud loe???

Singkat cerita saya pun menerimanya. Semuanya pun saya persiapkan sebaik mungkin, mengatur rapat, menyusun jobdes masing-masing panitia, tak ada masalah berarti karena saya sudah terbiasa mengurus yang beginian. Pikir saya dengan sombongnya saat itu. Kendala awal pun muncul saat ketua BEM dengan feelingnya menelpon saya, “aku nangkap keengganan seksi humas kemarin buat dijadikan panitia. Coba kamu cek ke dia.” Oke, saya orang yang ga suka basa basi dan tanpa banyak ba bi bu saya tembak dia, “beneran mau ga jadi panitia?” jawabannya seperti yang diperkirakan ketua BEM, dia beralasan banyak amanah di sana di sini, jadinya ga bisa total. Oke, panitia pun saya ganti. Kendala awal bisa saya atasi dengan sukses.

Berjalan satu minggu saya malah ga melihat panitia bergerak. Ergggh.. saya ga suka kerja yang lamban. Dan saya pun menanyai satu per satu dari mereka. Dan apa yang saya temukan kemudian? Whuaaa.. hampir semua panitia inti mengundurkan diri. Berawal dari ketua bidang keamanan, kemudian perlengkapan, berlanjut ke Bendahara. Yang bertahan cuma teman-teman terdekat saya. tak urung saya shock juga dengan keadaan ini, hari H sudah semakin dekat sementara panitia inti malah mundur dengan alasan yang menurut saya terlalu dibuat-buat.

Saya pun menggugat ketua BEM. Bukankah dia bilang kepanitiaan sudah fix, dan saya tinggal terima beres. Kemudian Ketua BEM pun memberikan kewenangan penuh kepada saya untuk mengambil orang dari luar kepengurusan BEM. Siapapun yang saya pilih, dia acc saja. Keputusan ini sedikit membantu saya. Saya pun kemudian mengambil orang-orang kepercayaan saya. Dan mereka adalah adik-adik tingkat saya yang beberapa orang adalah teman-teman kepercayaan saya di salah satu organisasi kampus.

Bagaimana dengan dana? Seperti yang saya ceritrakan tadi dana untuk kegiatan ini sudah cair. Memang begitulah keadaannya, terlebih para peserta juga ada konstribusi sehingga masalah dana tidak menjadi masalah besar dalam hal ini. Namun, bukan masalah di dalam ternyata masalah di luar. Ada kegiatan BEM yang dananya ga cair-cair. Dan sang ketua panitia pelaksana pun melobi saya agar sebagian dana dibagi buat acaranya. “LDKM kan bisa mengambil dana dari peserta yan.” Katanya kepada saya. “Iya sih, tapi udah kami hitung dan tidak cukup dengan mengandalkan konstribusi peserta.” Saya menegaskan. “Tambahin aja konstribusinya. Peserta ga akan keberatan kok. Ini kan acara semi wajib buat mereka.” Ide itu saya tolak mentah-mentah. Idih, kayak pemerasan aja terhadap peserta. Tidak berhenti sampai di situ, si ketuplak tetap ngotot. Dia ngotot, saya juga tetap bertahan tidak mau membagi dana itu. Resikonya? Dia sebal sama saya. Ga enak banget berada dalam situasi itu.

Permasalahan lain pun mulai muncul di permukaan. Saya yang cuma terbiasa ngurus satu bagian saja dalam acara jadi kelabakan juga. Biasanya saya langganan jadi panitia bidang acara, nah, di situ saya cuman ngurus tentang acara doang. Nyiapin konsep acara, menghubungi pemateri, nyiapin MC dan lain-lain, Tapi pas itu, saya sibuk mikirin ini dan itu. Acara yang belum fix lah, Dana yang ternyata masih kurang, proposal yang ga cair-cair, ribetnya ngurus peminjaman perlengkapan, konsumsi yang kemahalan..  Erghhh.. saya pusiiiing.. Menjelang hari-hari itu, konsen saya benar-benar ke acara itu doang. Untungnya acara itu diadakan di awal semester, jadi belum ada banyak tugas dan ujian mid.

Puncaknya ada pada satu hari menjelang hari H. Berawal dari panitia acara yang  mengatur ada sesi minta tanda tangan dari peserta ke panitia acara. Dan semua panitia kompak menyetujui hal ini. Kapan lagi dong mereka jadi seleb yang dikejar-kejar para mahasiswa baru buat diminta tanda tangannya. Jadi ini kesempatan mereka buat jadi seleb, mungkin begitu kali ya pikiran mereka. Alasan tim acara memasukkan kegiatan ini, katanya sih buat saling mengenal antara kakak tingkat dan adek tingkat. Oke lah. Saya pikir juga bukan masalah kok.

Eh, ternyata hanya di pikiran saya itu bukan masalah tapi tidak pada kenyataannya. Kenapa? Karena ternyata banyak yang protes karena hanya panitia yang jadi seleb dadakan yang dikejar-kejar tanda tangannya. HANYA PANITIA. Itulah yang mereka protes. Konon katanya para peserta begitu mengetahui yang dihadapinya bukan panitia hanya melongos tanpa pamit dari sang kakak tingkat. Para kakak tingkat pun merasa gerah dengan hal ini. kehormatan mereka sebagai kakak tingkat seperti diinjak-injak dan kemudian dipanggillah saya menghadap para senior itu. Saya diinterogasi kenapa mengadakan session tanda tangan dengan melibatkan hanya panitia. Sehingga terkesan tak menghormati senior. Tak bisa berkutik. Saya bingung harus menjawab apa dan hanya memberikan penjelasan seadanya serta meminta maaf. Keluar dari ruangan itu, ada tatapan sinis dan memvonis dari teman-teman saya sendiri. Teman-teman yag tadinya terlibat di kepanitiaan namun mengundurkan diri. “makanya jangan sok jadi artis” komentar mereka pedas dan saya merasa terintimidasi.

Saya yang sudah di puncak lelah mengatur ini dan itu dalam beberapa hari, hanya bisa berjalan cepat ke sekre BEM, untuk kemudian menumpahkan sesak di dada saya. Saya akhirnya tak bisa menahan lagi air mata yang berloncatan ingin keluar. Saya menangis. Whuaaa… malu-maluin banget deh. Padahal saya termasuk orang yang paling benci menangis di depan uimum, bukan saya banget deh berurai air mata di depan banyak orang. Tapi perasaan tertekan saat itu menyebabkan naluri kewanitaan saya muncul. Dan hebatnya, airmata saya seperti menyihir teman-teman panitia yang lain. Hahaha.. saya ga perlu lagi ngasih instruksi sana sini mereka bergerak sendiri. Sebagian mencoba menenangkan saya dan yang lain mengatur ulang agar kegiatan yang kami laksanakan bisa berjalan lancar tanpa menyakiti pihak lain, terutama para senior di kampus.

Malam sebelum hari H saya sukses tidak tidur semalaman. Bukan karena saya begadang di kampus menyiapkan tempat acara seperti yang dilakukan panitia bidang perlengkapan. Bukan itu. Tapi berbagai pikiran menyerbu saya habis-habisan malam itu. Saya merasa tidak punya kapasitas menjadi seorang pemimpin. Karena pemimpin itu harus bertanggung jawab penuh terhadap keseluruhan acara. Saya berpikir mereka yang menjadi pemimpin pastilah punya menajemen emosi yang baik, bisa mengatur segala tekanan dan masalah dengan baik dan ga bikin mereka stress serta tetap tenang menjalani semuanya. Sementara saya gagal mengendalikan semua itu. Dan saya pikir kaum Adam lah yang diberi kemampuan untuk itu, karena itulah mereka lebih punya kapasitas untuk menjadi seorang pemimpin.

Malam itu, saya menyadari satu hal bahwa Dia, dengan caraNya yang indah telah memperkenalkan saya dengan dunia yang harusnya menjadi milik kaum Adam. Dan dengan cara itulah membuat saya tersadar betapa saya mencintai peran sebagai bawahan, sebagai yang dipimpin bukan yang memimpin Tapi saya bersyukur sekali diberi kesempatan itu, tak kenal maka tak sayang kan.. kalau tidak terjun langsung ke sana,  mungkin sampai detik ini saya hanya bisa merutuk ga jelas dan mempertanyakan kenapa sih pemimpin itu harus pria?

 

MP – 040710

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s