[Catatan Perjalanan] Wiskul di Arab

Buat yang berangkat Haji dengan menggunakan fasilitas Haji Plus atau Umrah yang biasanya menyediakan fasilitas catering tentu saja kita akan disajikan makanan lengkap 3 kali sehari. So, ga mikirin lagi deh gimana maem di sana. Tinggal masuk ke ruang makan dan mengambil makanan yang ada.




Tapi tentu saja akan ada alasan di mana kita ingin sesekali mencicipi makanan di luar, bukan catering dari travel atau hotel. Entah itu karena masakan yang ada tak sesuai selera kita, atau sudah bosan atau emang dia hobby berwisata kuliner seperti saya. 




Sebenarnya yang paling menarik minat saya adalah ayam goreng al-Baik. Itu ayam goreng yang pernah saya nikmati selepas dari Laut Merah lebih dari 3 tahun yang lalu. Rasanya? Humm… mirip2 pisang goreng yang dibikin mama saya untuk tepungnya, dibalut dengan ayam yang super empuk. Hihihi… dan karena waktu itu saya nya laper benar jadi rasanya nikmat sekaliii….





Kata guide saya sih, Ayam Goreng Al-Baik ini kebanggaan warga Arab Saudi, terkenal dan favorit. Ketika waktu bukanya tiba maka akan ada antrian yang puanjang. Entah benar atau tidak. Dan ayam goreng Al-Baik ini tidak diizinkan dibuka di sekitar kawasan Masjidil Haram, karena akan menyebabkan orang banyak numpuk di sana buat ngantri. Katanya siiih…. Dan waktu umrah kemarin, saya belum rezeki menikmati ayam Al-Baik lagi. Hehehe… Moga kesempatan berikutnya bisa menikmati ayam al-Baik. Aamiin…


warung al Baik



Jadi wiskulnya ke mana aja? 
Ga banyak sih. Saya sempat beli ayam dari colonel sanders itu. Paketan, satu paket berapa ya kemarin. Sekitar hampir 50 ribu uang rupiah deh. Dan di sana tidak ada paket yang menyediakan Nasi. Hehee…




Trus saya juga sempat menikmati ayam goreng tepung yang seperti ayam colonel itu yang banyak dijual di sekitar hotel yang saya tempati, lupa namanya. Dan yang ini lebih enak. Bumbunya lebih terasa dan spicynya lezat deh. Dan lagi-lagi paket yang saya beli ini tanpa nasi. Cuman ada roti burger itu aja. Saya baru beli ayam ini di hari terakhir di Mekkah, pantas aja tiap pulang dari Mesjid yang jualan juga banyak antriannya. Ternyata enak…😀




Di sebelah hotel juga ada tempat makan, eh bukan tempat makan ding, soalna ga ada tempat buat makannya, maksudnya tempat orang jualan makanan yang selalu penuh setiap waktu makan tiba. Dari penampakan luarnya saya tau yang dijual adalah ayam, lagi-lagi ayam yah. Tapi ayamnya ini bukan ayam goreng tepung tapi ayam yang dibakar didalam alat pembakaran seperti kotak gitu, akan ada api yang menjilat2 tuh ayam yang ayamnya berputar gitu sampai ayamnya masak. Tapi matangnya ayam itu bagus. Ga gosong walau dijilat api. Waktu mau beli ini saya bingung deh gimana ngomongnya kalau saya mau beli tuh ayam. Karena selain ayam ada banyak pilihan menu yang dijual di sana.




Saya jadi teringat waktu saya beli makanan di perjalanan antara Madinah-Mekkah. Waktu itu bis yang kami tumpangi sempat mampir di tengah perjalanan. Ada tempat makan di sana. Saya yang sudah mulai merasa perut saya keroncongan pun turun buat beli makanan. Nanda, sepupu saya yang waktu itu sudah beli duluan menemani saya membeli. 




Caranya, ada contoh2 menu yang ada di meja, contoh lho.. makanan beneran, bukan sekedar gambar ky biasa. Kita tinggal tunjuk mau menu yang mana. Nanda merekomendasikan ayam goreng dengan nasi briyani, saya pun menuruti rekomendasi Nanda dan menunjuk menu itu. Si penjualnya pun menulis sesuatu di kertas, mengucapkan jumlah yang mesti saya bayar (dengan bahasa Indonesia) setelah saya bayar, dia pun membungkus menu yang saya pesan. 




Nah, teringat hal itu saya pun mencoba mendekati kasir di mana orang paling banyak berkerumun, karena berdasarkan pengalaman dengan Nanda itu sepertinya kita memang harus bayar duluan dulu baru makanan yang kita pesan diambilkan. Saya pun mendekati meja kasir, masih bingung apa yang mesti saya katakan. Hehe… dan ketika tiba giliran saya, sok pede deh saya ngomong pakai Bahasa Indonesia aja “Nasi dan ayam” kata saya. Eh, dia langsung ngerti. Mencoret2 kertas kecil dan menyerahkan ke saya. Kemudian menyebutkan berapa jumlah yang mesti saya bayar, lagi-lagi dalam Bahasa Indonesia dan langsung deh saya bayar.




Kertas kecil itu apa? Coretan pesanan saya? Entahlah.. kertas kecil itu lebih rumit ketimbang resep dokter. Hanya ada kotak2 gitu dengan tanda centang dan tanda kali. Dan saya bengong lagi deh, mesti saya apakan kertas kecil. Maka kemudian saya mengamati sekeliling. Oh, ternyata kertas kecil itu diserahkan pada mereka yang menyiapkan makanan. Saya pun akhirnya menuju tempat mereka yang menyiapkan makanan. 




Seorang jamaah pria entah dari Negara mana mempersilakan saya untuk dilayani lebih dulu, mungkin ga tega kali ya karena waktu itu saya cewek satu2nya di situ. Saya pun menyerahkan kertas yang dikasih kasir itu ke saya, yang langsung disambar dengan gesit oleh penjual di sana. Dan saya lihat dia membungkuskan nasi briyani untuk saya, menaruhnya dalam plastic dan menyerahkan ke saya termasuk menyerahkan kertas pesanan tadi setelah dia sobek sebagian. 




Loh? Kok Cuma nasi? Ayamnya mana? Saya kan mesannya ayam dan nasi. Saya pun kembali mengamati orang-orang di sana. Oooo… ternyata ayamnya diambil di depan, di dekat tempat pembakaran ayam itu. Saya pun melangkah ke sana, si penjual kembali mengambil kertas saya, melihatnya sekilas dan membungkuskan satu ayam ke saya, memasukkan ayam itu ke kresek di tangan saya yang sudah berisi nasi dan melemparkan kertas kecil yang saya bawa-bawa tadi pada sebuah kotak yang sepertinya memang kumpulan kertas-kertas kecil sejenis. Dan komplitlah pesanan saya.




Dan untuk ayam dan nasi briyani ini memang sangat lezat sodara2. Kata mama ayamnya ini sepertinya pilihan, masih muda dan empuk. Pembakarannya pun sempurna, ga gosong dan tidak latat (Susah bener mencari bahasa Indonesianya latat ini :p)




Trus apalagi wiskulnya? Saya juga tak mau ketinggalan menikmati es krim movenpick yang begitu menggoda itu, walau ada gelaja flu gitu. Dan seperti yang dulu lagi-lagi di hari terakhir saya berani habis2an maem es krim. Selain es krim Movenpick saya juga beli es krim Baskin Robbins. Ga kalah enak dari movenpick ternyata. Dan ternyata di Banjarmasin udah ada juga B ‘n R ini. Hahahaaha…




Saya juga sebenarnya pengin banget makan kebab di Tanah Suci. Dulu sama kakak sering beli. Tapi beberapa kali celingak celinguk ga nemu yang jualan kebab yang ayam atau daging sapinya itu digulung2 juga. Trus ada satu sisi yang dijilat api alias dibakar, di sisi itulah ntar yang dipotong atau disayat. Dicampur dengan sayuran dan dimasukkan ke kulit kebab. Asli ga nemu tuh warung kebab di perjalanan antara Masidil Haram ke Hotel. Yang ada waktu perjalanan menuju Tan’im dan ga bisa mampir.




Jadinya pas di Jeddah saya pun memburu kebab itu, dulu soalna pernah beli di Jeddah seharga 10 riyal untuk ayam dan 8 riyal untuk daging. Pas ketemu saya jadi kaget sendiri karena harganya Cuma 4 riyal. Kok murah? Ada harga ada rasa ternyata. Karena kebab seharga 4 riyal ini kurang sedap😀


di warung Kebab





Dan karena masih lapar saya pun menikmati Bakso Mang Oedin yang udah diceritakan di postingan sebelumnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s