Jika Aku Menjadi…. IBU

Beberapa waktu yang lalu ada lomba di fesbuk dalam rangka promo buku “Ya Allah, Beri Aku Satu Saja”. 

Maju mundur pengin ikutan karena merasa temanya berat menulis tentang.. waktu itu ada 2 opsi

  •  Apa yang akan anda lakukan jika kelak memiliki buah hati,
  • Apa yang akan anda lakukan untuk buah hati sebagai bentuk ungkapan cinta dan rasa menghargai atas karuniaNya.

Tapi toh akhirnya aku ikutan juga dengan memilih tema yang pertama. Dan Alhamdulillah… tulisanku masuk sebagai salah satu yang mendapat hadiah buku “Ya Allah, Beri Aku Satu Saja”

Dan jujur nih ya, sebenarnya aku juga suka banget dengan tulisanku tersebut. Ahaha… Tenang pemirsah, bukan bermaksud narsis tapi kalau bukan aku yang menghargai tulisanku sendiri siapa lagi? hihihi… Dan izinkan aku menjadi pengagum pertama karya2ku :p

Oya, aku juga suka tulisan itu karena ketika membacanya aku seperti diingatkan tentang apa yang kuinginkan. Dan menjadi motivasi sendiri buatku pribadi. Wuiiih.. kayak dahsyat bener tuh tulisan. Ga juga kok, masih amburadul seperti tulisan yanti biasanya tapi aku suka :p

Ini tulisannya. Cekidooot😀

 

###

 

Pernah saya membaca, tentang seorang Ibu yang dibuat tertegun ketika bermain dengan anaknya karena sang anak dengan tiba-tiba mengucapkan ‘wa utuu bihi mutasyabihaa..‘ (potongan dari Surah Al-Baqarah) yang kerap diperdengarkan di rumah mereka. Ibu itu menjadi tersadar, kalau anaknya, ternyata merekam apa yang mereka dengar. Dan sejak saat itu sang Ibu menjadi bersemangat, mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anaknya sehingga ke 11 anak beliau menjadi penghafal Al-Qur’an.*

Pernah juga saya mendengar, tentang bagaimana orang-orang shalih zaman dulu mendidik anak mereka. Mereka bangunkan anak-anak mereka di sepertiga malam. Membuat anak-anak itu terbiasa terjaga, walau yang dilakukan anak-anak itu hanya bermain. Jika sudah sampai pada masanya, akan mereka ajarkan ilmu pada anak-anak mereka, betapa berharganya waktu di sepertiga malam itu.

Wuiiih… membaca dua cerita di atas membuat semangat saya berkobar-kobar. Betapa saya juga ingin nantinya, jika Allah memberikan amanah, saya ingin anak-anak saya nantinya menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Mereka hafal Al-Qur’an seperti anak-anak Ibu yang saya ceritakan di atas itu. Akan saya perdengarkan ke anak-anak saya murattal Al-Qur’an tak hanya ketika mereka sudah lahir, tapi juga sejak dari mereka dalam kandungan. Agar mereka merekam apa yang mereka dengar.

Seperti kebiasaan si Ibu di atas, saya juga ingin, menjadikan waktu ba’da maghrib dan ba’da subuh, sebagai waktu untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an, mengajarkan mereka membaca dan menghafal sedari dini. Juga, seperti cerita kedua, menjadikan mereka terbiasa bangun di penghujung malam.

Duh, betapa ingin saya memiliki anak-anak yang terbiasa tahajud, dhuha, tilawah dan beragam amaliah yang lain. Yang Fardhu? Itu mah so pasti dong!

Itu mimpi saya. Dan saya mengenggam mimpi-mimpi itu. Sampai pada satu ketika, saya mendapati sebuah sms yang isinya :

Saya ngerasa selama ini kamu terus-terusan cuma berwacana dan bercerita saja. Semua impian dan cita-cita, kamu pikirin semuanya di kepala kamu. Kamu pikirin terus sampai akhirnya kamu pusing sendiri Jangan Cuma berwacana! Start to act, not talk only! Sorry if I’m being to rude buat it’s your own good.**

Aaah…. Sms itu nendang saya banget deh. Selama ini saya hanya bisa merancang mimpi-mimpi saya tanpa ada usaha yang jelas buat mewujudkannya. Betapa saya ingin anak saya begini dan begini nantinya, tapi saya masih saja berdiam diri di sini.

Tapi saya kan belum menikah? Jadi wajar aja kan kalau saya belum bisa melakukan apa-apa.

Plak! Sadar dong yanti!

Bagaimana mungkin kamu ingin anak kamu nantinya menjadi penghafal Al-Qur’an, sementara Ibunya tak punya hafalan apa-apa.

Bagaimana bisa anakmu menjadi terbiasa bangun malam? Kalau Ibunya saja masih terlalai di bawah selimut sepanjang malam.

Jadiii… Apa yang saya impikan pada anak saya, harus saya lakukan pada diri saya dulu. Stop berwacana yanti!

Hemmm…. Mungkin itu rahasiaNya kenapa sampai sekarang saya belum menikah juga. Cita-cita saya akan sebuah rumah tangga terlalu tinggi. Dan saya merasa terkejar-kejar sendirian***. (Kok jadi curhat ini?) :p

###

Ket :

*Ibu yang saya maksud adalah Ibu Wirianingsih

** Sms itu ada di buku KENING karya Rakhmawati Fitri

*** ngutip dari bukunya mbak Ifa Avianty : Jejak-jejak Kembara Cinta

###

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s