Selepas membaca Manusia Setengah Salmon

Ini buku Raditya Dika yang pertama saya baca. Walau dulu pernah begitu tertarik dengan yang namanya Marmut Merah Jambu, tapi sy tak berhasil menemukan buku itu sehingga urung membelinya. Maka… Jadilah Manusia Setengah Salmon adalah buku Raditya Dika yang pertama.

Sempat begitu tertarik dengan buku ini ketika membaca satu resensi di mana di situ dikatakan kalau buku Radit yang satu ini beda dengan buku2nya terdahulu. Katanya di sini si radit jadi lebih dewasa gitu…. Dan ada pemikiran2 bijak yang bisa ditemukan di bukunya. Hal ini bikin sy kepengiiin banget baca bukunya Radit ini. Tapi buat membelinya kok masih rada berat yaa…
 
Maka tak berlebihan dong jika sy merasa senang luar biasa sewaktu sepupu sy bilang dia membeli buku ini. Yay… sy udah mesan mau pinjam. Tapi tunggu punya tunggu, pinjaman tak kunjung datang. Mungkin sepupu sy trauma kali yaa, beberapa buku yang sy pinjam dari dia lama banget baru balik. hehehe….
Dan akhirnya buku itu berhasil diantarkannya ke rumah sy, dengan iming2, sy pinjamnya satu hari aja. Hehehe… Berhubung punya waktu yang agak luang, jadi sy berani meminjam satu hari itu dan juga dengan keyakinan, sy bisa membaca buku itu secara cepat tanpa disergap bosan. Dan ternyataa… ya memang sy bisa menyelesaikan buku itu dengan cepat. Tanpa disergap bosan. Bukunya menarik? Yaa… enak sih dibacanya. Ada lucu2nya juga tentu, ada pesan moralnya juga.
Buku ini terdiri dari berbagai cerita.. macam2 deh.. ada tentang pindah rumah, pindah hati, tentang PDKT temannya si Radit yang namanya Trisna, ada cerita tentang sopirnya, ada cerita tentang kebiasaan ayahnya dan sepertinya yang rada banyak adalah cerita tentang nyokapnya yah… Yang paling ngebosanin dan bikin sy ngantuk cerita tentang Jomblonology itu.
Hadoh… sy mau cerita apa yah? Seperti biasa kalau buku pinjaman kan sy mau nulis review yang lengkap jadi kalau agak lupa2 gitu dengan ceritanya kan tinggal dilihat reviewnya karena ga bisa ngambil bukunya.
Oya… di sini juga Radit cerita tentang selera makan. Wuiiih… sy sih percaya benar kalau soal makan ya masalah selera. Kalau orang suka ama jenis makanan tertentu.. belum tentu qta suka. Begitu juga sebaliknya. Ah… ini sih semua orang juga tahu yaa… Di sini juga diceritakan si Radit🙂
Ah ya, pada bagian makanan Radit juga bercerita tentang salah satu resto yang menyajikan pizza yang para pelayannya kelewat ramah. Ahahaha… sy tau lah apa restoran itu. Humm… benar juga sih apa kata Radit terkadang yang serba terlalu itu ga bagus. Sy jadi punya cerita sendiri tentang ini. Tapi penggambaran Radit (atau imajinasinya?) kadang malah sy ngerasanya terlalu lebay…
Trus pada bab Kasih Ibu Sepanjang Belanda… Ini bab favorit sy nih. Berkisah tentang perhatian2 nyokapnya radit yang radit merasa terganggu akan itu.. Dan kemudian.. di ending bab ini radit memberikan kesimpulan yang menarik
Seharusnya semakin tua umur kita, kita tidak semakin ingin mandiri dengan orangtua kita.
kita gak mungkin selamanya bisa ketemu dengan orangtua. Kemungkinan yang paling besar adalah orangtua kita bakalan lebih dulu pergi dari kita. Orangtua kita bakalan meninggalkan kita, sendirian. Dan kalau hal itu terjadi, sangat tidak mungkin buat kita untuk mendengarkan suara menyebalkan mereka kembali.

Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terbaik yang pernah kita terima.

Kemudian di tulisan yang berjudul Rumah yang Sempurna. Di sana Radit menganalogikan pindah rumah, beradaptasi dengan rumah yang baru seperti dengan pindah hati atau mencari seseorang yang baru. Sy sih ya ga sepaham dengan pacarannya.. mungkin lebih ke jodoh kali yaa… kalau rumah adalah dia. Karena dia adalah tempat gue pulang. Karena, orang terbaik buat kita itu seperti rumah yang sempurna. Sesuatu yang bisa melindungi kita dari gelap, hujan dan menawarkan kenyamanan.
Dan tulisan terakhir yang menjadi penutup adalah tulisan yang berjudul Manusia Setengah Salmon… Tentang Radit yang datang ke pesta kawinan temannya dan kemudian bertemu dengan temannya yang lain yang udah punya anak.. Dan kemudian dia berpikir, betapa semuanya telah berubah.. Dulu masih asyik main2, sekarang mereka udah punya kehidupan sendiri, punya istri dan anak. Ahaha… Sy juga kerap berpikir seperti ini.🙂

Kenapa memakai kata salmon? Ini berdasarkan ketika si Radit menonton Discovery Channel. Saat itu, Discovery Channel sedang membahas tentang ikan salmon. “Setiap tahunnya, ikan salmon akan bermigrasi, melawan arus sungai, berkilometer jauhnya hanya untuk bertelur. Beberapa spesies, seperti Snake River-Salmon bahkan berenang sepanjang 1.448 kilometer. Di tengah berenang, banyak yang mati kelelahan atau menjadi santapan beruang yang menunggu di daerah-daerah sungai yang dangkal. Namun, salmon-salmon itu tetap pergi, tetap berpindah, apa pun yang terjadi.

Hingga kemudian hal itu membuat raditya Dika mengambil kesimpulan.. kalau Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara proses perpindahan yang satu dengan yang lainnya. Kita hidup di antaranya.
Tidak ada kehidupan yang lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan. Mau tak mau, kita harus seperti ikan salmon. Tidak takut pindah dan berani berjuang untuk mewujudkan harapan. Bahkan rela mati di tengah jalan demi mendapatkan apa yang diinginkan.
Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani berpindah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s