meninggalkan… ditinggalkan…

Dulu aku pernah menuliskan sebuah postingan di MP tentang yang ditinggalkan dan yang meninggalkan mana yang lebih nelangsa?


Postingan itu ada karena waktu itu aku baru saja mengantarkan abang buat bepergian jauh. Dan serta merta aku disergap kenangan ketika aku dalam posisi abang, meninggalkan. Dan 2 tahun setelahnya aku yang dalam posisi ditinggalkan. Dan kemudian aku mencoba membandingkan rasa keduanya. Dan sampai pada satu kesimpulan kalau ditinggalkan itu lebih nelangsa. Entahlah… Aku merasa ada yang kosong saat ditinggalkan, merasa sesak dan merasa humm… ada yang hilang.


Ketika aku yang meninggalkan, aku memang sedih berpisah untuk sementara waktu dengan orang-orang tercinta. Tapi kemudian aku kembali asyik dengan hal-hal baru yang kutemui. 


Hari ini aku mendapatkan untaian kata yang cantik dari Tere Liye tentang meninggalkan dan ditinggalkan ini. 


Dalam proses kepergian, biasanya yang pergi selalu lebih ringan dibandingkan yang ditinggalkan. Lebih ringan untuk melupakan. Yang pergi akan menemui tempat-tempat baru, kenalan-kenalan baru, kehidupan-kehidupan baru, yang pelan tapi pasti semua itu akan mengisi dan menggantikan kenangan lama. Sementara yang ditinggalkan biasanya tetap berkutat dengan segala kenangan itu 

Yah… Lihat bagaimana Tere Liye bisa menggambarkan bisa menuliskan apa yang kurasakan dengan untaian kalimatnya yang cantik🙂


Kemudian.. aku jadi berpikir. Bagaimana nantinya saat aku meninggalkan untuk selamanya? Bagaimana nantinya proses saat aku berpindah ke alam lain agar tetap menyenangkan. Sebagai orang beriman, tentu seharusnya tak berkeberatan kapan pun kematian menjemput, karena kematian lah yang menjadi jalan untuk berjumpa denganNya.


Seharusnya aku juga begitu. Tapi… aku masih dilingkupi perasaan takut. Alasannya jelas… aku masih merasa bekalku tak seberapa, amalku masih kurang, dosaku masih bertumpuk. Ah, sampai kapan aku merasa belum siap? Padahal kematian akan datang tanpa bertanya sudah siapkah aku? Dia bisa datang kapan saja.


Apalagi yang bisa kulakukan selain mempersiapkan semuanya sebaik mungkin. Waspada setiap detik, karena setiap saat Izrail bisa datang menghampiri. Dan aku ingin ringan dalam meninggalkan, bersemangat ketika meninggalkan karena akan menjadi jalan bertemu denganNya. Syauqi LiqoiK.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s