forgiven (yang tak terlupakan)

Saya pernah menonton sebuah film Jepang yang berkisah tentang seorang jenius yang sangat gandrung dengan matematika. Suatu ketika si jenius ini terlibat dalam sebuah pembunuhan dan kemudian ada satu orang jenius lagi yang gandrung dengan fisika yang mencoba mencari titik terang dari pembunuhan tersebut. Film itu menarik, karena si jenius matematika mencoba membuat alibi dengan logika matematika yang bermain di otaknya, yang menggandrungi fisika pun juga dengan logika2 fisikanya mencari tau apa yang terjadi di balik pembunuhan itu. Apa judul filmnya? Saya lupa!
Dan saya jadi tertarik dengan hal2 seperti di atas, cerita fiksi yang mengedepankan tentang orang2 Jenius. *sebenarnya udah dari dulu sih tertariknya* :p
Termasuk saat di twitter land saya menemukan ulasan tentang sebuah novel yang dikatakan tokohnya adalah seorang maniak fisika, juara olimpiede fisika sedunia. Terlebih saat sy menemukan testimoni orang2 yang begitu memuji terhadap novel itu. Ketertarikan saya mengkuadrat sempurna. Dan ketika menemukannya, saya tak ragu buat mengambil novel itu dan memboyongnya ke rumah🙂
Bagaimana setelah membacanya?
Forgiven judul novel itu. Ditulis oleh seorang penulis kelahiran tahun 1980 yang bernama Morra Quatro. Morra Quatro adalah nama asli penulis tersebut. Bukan nama pena dan novel ini bukan novel terjemahan. Yang menulis orang Indonesia asli🙂
Cerita Forgiven dimulai dengan cerita persahabatan Karla dan Will, di mana Will diceritakan begitu gandrung dengan fisika yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam di dalam lab melakukan penelitian yang tak dimengerti Karla. oya, ada nama2 lain juga yang berada dalam lingkaran persahabatan mereka, ada Wahyu, Laut dan lain2, di mana mereka selalu pulang sekolah bareng dan selalu bersama2 di masa SMA mereka. Dan Karla adalah satu2nya cewek di lingkaran persahabatan itu.
Cerita2 tentang masa SMA pun bergulir di situ, kenakalan2, pahit manisnya persabatan antara mereka, saling menguatkan dan saling berbahagia ketika salah satu dari mereka mewujudkan impiannya. 
Sampai kemudian masa SMA mereka berakhir. Di titik inilah Karla begitu tak ingin kehilangan Will yang hilang tanpa jejak. Di cover belakang novel itu tertulis kepergian Will tak ubahnya bagaikan El Nino yang memporakporandakan hati Karla habis-habisan. Will adalah sahabat terbaik Karla, tempat berbagi rahasia dan mimpi-mimpi yang tak sembarang orang tahu. Bagaimana ujung dari persahabatan Karla dan Will? Sekedar bocoran, ending dari novel ini benar2 tak terduga🙂
Iiih… sinopsis yang sy tulis garing banget :p Kesannya seperti hanya menyangkut dua kisah asmara anak manusia ya? humm… sebenarnya tidak juga sih. Ada banyak hal yang disajikan di novel tersebut.
Dari segi kepenulisannya si Morra ini saya suka. Cara penulis membawa pembaca hanyut dan berpenasaran ria memang piawai sekali. Ketika membaca cerita SMA mereka saya seperti membaca teenlit dan ketika periode waktunya berubah saat mereka sudah dewasa, sy pun merasa kesan teenlitnya menghilang, menjadi cerita novel bergenre dewasa yang tetap asyik dinikmati. Intinya.. sy suka dengan gaya menulis penulis ini.
Tapi… ada juga bagian yang tak saya suka, tak masuk lah buat saya. Apa itu? Pergaulan bebasnya itu loh. Yang tersaji di novel ini. Sedikit spoiler ya.. 2 tokoh wanita di novel ini diceritakan hamil di luar nikah. Aaah… Biasa aja kali yan. Namanya juga mereka tinggal di Amerika. Huhuhu… Bagi saya ini tetap bukan hal biasa. Dosa besar!
Saya jadi ngeri melihat novel2 seperti ini tersebar di mana2 dengan menceritakan pergaulan bebas itu. Bukan, novel ini tidak mengungkapkan pergaulan bebas secara vulgar, tapi tetap saja, sesopan apa pun disajikan, pergaulan bebas di novel ini tetap terasa dan tak ada taubatan nasuha yang diceritakan di situ. Mereka menanggapinya itu ya biasa aja. Sy jadi mengkhawatirkan ketika mereka yang membacanya (terlebih ABG) membuat berpikir kalau pergaulan semacam itu adalah hal yang biasa di masa kini. Padahal tetap aja kan, mau sekarang atau nanti.. mau zaman berubah gimana gitu.. tetap saja itu sebuah dosa besar. 
Huff… Jadi PR banget nih ya buat para penulis muslim dan muslimah, untuk membuat bacaan2 yang menarik dengan tetap memegang batasan2 pergaulan dan mari sebagai pembaca kita juga mengapresiasi karya2 mereka🙂
“Everyone makes mistakes. But only a few could forgive. Padahal ada banyak kesalahan yang hanya perlu dimaafkan bukan dihukum.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s