tentang film Hafalan Shalat Delisa

Sebenarnya sy belum nonton filmnya. Hah? Gaya banget lo yan, belum nonton filmnya tapi sok bener mau nulis tentang film Hafalan Shalat Delisa. Jyaah… dengerin dulu gue ngomong napa -_-

Oke deh, silakan nyerocos :p

Yup, sebenarnya sy belum nonton filmnya. You know lah kenapa sy belom nonton. Di kota ini ga ada bioskop dan buat menyentuh kota yang ada XXInya harus menempuh perjalanan yang jauh. Sekitar 4 jam perjalanan gitu deh. Dan sy bukan orang yang suka jalan2, terlebih izin buat pergi sekedar jalan2 itu syusah bener sy dapat dari ortu terdjintah. Yah, walaupun udah segede dan setuwir ini tapi tetap ajah kalau bepergian izin keduanya mesti sy kantongin.

Tapi film ini beneran menarik perhatian sy dan sy antusias tiap menemukan review dari film ini, pengin tauuu.. Nah, dari situlah sy jadi tau kalau beragam kritik terhadap film HSD ini. Yang paling banyak sy temukan adalah kurangnya dialek khas Aceh di film itu dan juga setting Acehnya yang ga dapat.

Seperti tau (kayakna emang tau deh) penulis novelnya (film ini diangkat dari sebuah novel yang bikin sy nangis bombay dan besoknya mata sy bengkak) menulis semacam pembelaan… eh.. penjelasan gitu. Lengkapnya bisa lihat di sini

Membaca pembelaan dari penulis HSD itu sy jadi ingat kalau beberapa waktu yang lalu sy juga pernah menulis cerita yang sangat pendek sekali. Waktu itu beberapa komentar yang masuk dari teman2 memberikan kritik terhadap tulisan sy itu. Terlalu ini lah… terlalu itulah.. Tapi sy tak peduli. Hahaha…. yup, sama dengan penulis novel HSD sy waktu itu hanya fokus pada yang ingin sy sampaikan saja. Ketika hal itu udah bisa dirasakan atau ditangkap oleh yang baca.. ya sudah.. yaah… walaupun dalam hal ini tentu saja sy masih ga ada seujung kukunya penulis HSD ini. Siapa sih sy? Hanya seseorang yang suka coret2🙂

Jadiii…. sy ngerti dan dapat memaklumi deh apa yang diinginkan penulis HSD yang katanya hanya fokus pada cerita serta pesan moral.

Tapi di sisi lain… humm… sy ikut sebuah sekolah menulis, terlibat dalam diskusi dengan Bu Guru dan teman2 di sana. Dari situ, sy tahu kalau riset ketika mau nulis itu penting banget. Bagaimana kita menciptakan setting yang ga asal2an. Toh, sy juga kerap protes kalau cerita yang sy baca settingnya ga sesuai kenyataan. Bahasa daerahnya terlalu dipaksakan, dll. Dulu sy pernah protes pada novelnya mbak Ifa yang memuat tentang pasar seng dengan setting cerita tahun 2008 atau 2009 padahal tahun itu pasar seng udah tinggal kenangan.

Tapiii… sy juga mendukung saja apa yang dilakukan Tere Liye selaku penulisnya. Yaah… kalau mikirin riset mulu ntar malah ga ada tulisan yang terbit, maka kita tak akan membaca karya2 Tere Liye yang Subhanallah.. memang menginspirasi kan?

So, buat Bang Tere… tetaplah menulis. Tetaplah berkarya dan tetaplah menginspirasi kita semua🙂

03012012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s