Apakah pernikahan membuat kita lebih bahagia?

Apakah pernikahan membuat kita lebih bahagia?

Pertanyaan itu pernah terlintas dalam pikiran saya. Oh.. bukan pernah.. tepatnya beberapa kali atau malah sering tanya itu bergelayut manja dalam benak saya.  Bahkan mungkin sampai sekarang pertanyaan itu masih sajaa menempel dalam otak sy ini.

Ada beragam hal yang membuat sy mempertanyakan hal tersebut. Salah satunya mungkin krn sy sudah merasa cukup bahagia dengan kehidupan sy sekarang. Termasuk dalam kelompok orang2 yang menggaungkan ‘I’m single I’m very happy’.. jadi yaa… sy bahagia2 aja tuh. dan bertanya2 apakah pernikahan bisa membuat sy lebih bahagia dari sekarang? Jika ya.. ya bagus. Jika tidak? Buat apa menikah? Eh.. kok kesannya sy jadi anti menikah ya? Ga kok. Bagaimana pun juga sy cukup sering merasakan kalau berdua itu lebih baik.

Apakah kita lebih bahagia dengan menikah?
Pertanyaan itu hadir kemungkinan juga disebabkan oleh masalah2 rumah tangga, tentunya milik orang lain yang saya dengar, temui dan lihat. Entah itu dalam kehidupan nyata yang saya temui dengan mata kepala sy sendiri. Atau yang saya baca lewat buku, blog, koran, majalah dan beragam hal lain di media elektronik atau media massa.

Pernah suatu kali seorang teman mengatakan kepada saya. Katanya… masa bahagia dalam pernikahan itu hanya 1 minggu, setelahnya.. welcome to the club. Akan ada banyak masalah2 dalam rumah tangga yang menghadang. Baik itu pasangan yang ternyata ga sesuai impian qta, hubungan yang tak harmonis dengan keluarga pasangan, masalah ekonomi dan ini itu…

Pernah juga sy membaca sebuah buku yang isinya mengemukakan ujian2 dalam rumah tangga dalam stadium yang dramatis. KDRT, Selingkuh, suami jatuh cinta dengan wanita lain dsb. Ergggh… membaca buku itu membuat gumpalan ketakutan dalam hati sy semakin menjadi. Saya termasuk orang yang pengin punya koleksi buku yang banyak.. jadi peliiit sekali kalau harus memberikan buku ke orang lain. Tapi untuk buku itu… sy hibahkan dengan sukarela pada seorang teman.

Tapi toh… isi buku itu sudah sy baca. Dan parahnya terekam dalam benak sy. Suatu ketika sy pernah menceritakan hal ini pada seorang kakak, yang dia bilang.. “ya sudah, ga usah baca buku itu lagi. Pikirkan yang indah2 saja dalam hal pernikahan.”
Hemm… Tapi rasanya ga adil juga ya kalau hanya memikirkan yang indah2 saja dalam menikah…

Apakah kita lebih bahagia dengan menikah?
Aaah… ternyata pertanyaan itu bukan milik saya saja. Dalam novel yang saya baca sy menemukan pertanyaan sejenis. Waktu itu ada segerombolan cewek usia matang yang sedang ngaji di mesjid UI. Dan bahasan pengajian mereka itu mengambil topik ‘Pernikahan Bukan Menara Gading’. Di mana, yang ngisi pengajian itu bilang kayak gini :

“Pernikahan bukanlah sebuah menara gading impian yang diharapkan bisa menjadi solusi total semua permasalahan kita. Menikah mungkin akan menyelesiakan satu atau dua persoalan, tapi nggak semua persoalan bisa dilarikan ke pernikahan.Seperti halnya setiap tahapan dalam kehidupan kita, pernikahan juga punya masalahnya sendiri,”

yang kemudian menuai sebuah pertanyaan yang mirip dengan pertanyaan saya di atas.
Pertanyaan dilontarkan oleh Madelynn.
“Kalau begitu, kan jadinya sama aja bohong ya, menikah atau nggak. Daripada ribet begitu, apa mendingan nggak usah nikah aja ya, mbak?”

Lalu apa jawaban mbak Winda, sang pengisi pengajian.
“Jadi gini, Madelynn, bukan sama saja bohong, tapi kita mencoba mengambil lebih banyak kebaikan dengan menikah. Jadi pernikahan itu akan membuka banyak sekali pintu-pintu kebaikan dalam posisi kita sebagai pribadi yang mampu lebih menjaga pandangan dengan pernikahan, sebagai istri dengan amalan-amalannya, dan sebagai ibu…”

”Seperti halnya setiap masa dalam kehidupan kita, setiap detak nafas dan jantung kita, pernikahan adalah nikmat Allah kepada kita yang mesti kita syukuri.  Selalu ada kesempatan berbuat yang terbaik di setiap jengkal kehidupan kita, dan mulailah dengan bersyukur.”

Yups, karena bahagia itu letaknya di hati yang bersyukur, sy setuju dengan apa yang disampaikan di novel itu. Lebih bahagia atau kurang bahagianya kita… coba cermati hati qta sendiri. Jangan2 qta kurang bersyukur.

Dan juga ketika masa untuk menikah itu belum datang ke kita tak mesti kita harus bergalau2 ria juga kan? Karena ada banyak peluang kebaikan kok yang masih bisa kita lakukan. Coba mengoptimalkan itu aja. Dan tentang masalah, menikah atau belum menikah… ya qta memang punya jatah ujian masing2.

Ketika qta menikah mungkin ada masalah2 yang selesai, tapi juga tak bisa dipungkiri kalau ada masalah2 baru yang timbul. Namanya juga hidup… ada sajaaa masalah yang timbul tenggelam yang datang ke qta.Tapi satu hal yang pasti kalau kesulitan itu didatangkan pada kita satu paket dengan kemudahan setelahnya. Dan apapun masalah yang datang ke qta, pasti qta sanggup memikulnya.

091111
Buatku dan seorang sahabat di sana… Jangan ada galau di antara kita. wkwkwkwk…….

*novel yang sy maksud di atas.. yg kata2nya sy kutip itu.. novelnya mbak Ifa Avianty 9 weddings and a wish*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s