Tak ada habis-habisnya..

Buku bersampul biru itu masih tergeletak tak berdaya di tempat biasa aku melihatnya (ya iya lah.. kalau bukunya bergerak sendiri seram banget…).. tapi walau diam dia seolah bicara *lebay.. :p..*.. memanggil-manggilku untuk segera mereview dirinya dan masih menggodaku untuk kembali membuka lembar-lembar halamannya.

Lalu.. kenapa kemudian terasa berat untuk mereview buku itu? entahlah.. mungkin ada kekhawatiran berlebih. Karena judulnya tak biasa yaitu “doa-doa enteng jodoh”.. tuh kan.. pastinya nantinya ada komen yang gimanaaa gituuu… trus mungkin ada pertanyaan “kapan nikah yan?”.. hoho…padahal menurut buku ini pertanyaan “kapan menikah?” lebih sering menjebak dan memenjara rasa.. bukan memberikan jalan keluar atau mengantarkannya pada solusi… so.. jangan bertanya kapan nikah? kalau tidak bisa memberikan solusi.. hihihi… *mengingatkan diri sendiri :p..*

Karena itulah enggan ini masih sedemikian besarnya untuk ngereview buku ini. ya sudah lah.. pikir sy kemudian.. sy mungkin akan mereviewnya jika sudah menikah. entah kapan waktunya. tapii…. lagi2 sy mikir.. kalau ngereviewnya setelah menikah jangan2 malah dikira pamer banget mentang2 udah dapat jodoh.. hadoooh… jadi serba salah…

jadi ingat cerita yang sangat terkenal.. cerita Lukmanul Hakim ya? waktu melakukan perjalanan dengan anak beliau dengan seekor keledai. jadi ceritanya kan waktu itu sang anak lah yang menunggang keledai itu, sementara ayahnya berjalan di samping, maka muncullah komentar dari orang2.. “tega nian sanga anak.. membiarkan ayahnya berjalan.. sementara dia asyik di atas keledai.” maka berganti posisi lah mereka.. kali ini sang ayah yang yang menunggang keledai itu, mereka meneruskan perjalanan. daaann… tetap aja ada yang komen “Aihhh… ayah macam apa itu. Enak2an menunggang keledai sementara anaknya masih kecil berjalan.”

Mendengar komen itu.. kembali posisi di rubah.. kali ini mereka berdua hanya berjalan di samping keledai, tidak ada yang menunggangnya.. eh.. belum seberapa jauhperjalanan ditempuh ada yang komen lagi.. “aneh,,, ada keledai tapi mereka berdua malah berjalan.”.. mendengar komen itu, kembali lagi mereka menaiki keledai berdua.

Jadilah keledai itu kepayahan karena ada dua manusia di atas punggungnya dan menarik komen dari orang yang melihatnya “tega nian bapak dan anak itu.. keledai itu dinaiki berdua, tidakkah mereka melihat keledai itu sudah sebegitu kepayahan.”… hoho.. begitu mendengar hal tersebut mereka berdua pun akhirnya turun dari keledai tersebut dan kali ini mereka berdua lah yang menggendong keledai itu.. daaann… dapat dibayangkan bagaimana lagi reaksi orang2 yang mereka temui dalam perjalanan itu.

Intinyaa… kalau qta mendengarkan pembicaraan orang lain itu ga akan ada habis2nya kan.. ada sajaa yang salah dari sikap yang qta ambil. So.. kembalikan pada diri qta aja kali ya… mana yang menurut qta paling baik dan paling tepat..

Jadi ingat cerita di Ayat-ayat Cinta.. waktu Fahri menjelaskan pekerjaannya sebagai penerjemah. Banyak yang mencibir dengan apa yang digeluti Fahri itu. Menjadi penerjemah sama saja menjadi mesin pengalih bahasa. Tidak menghasilkan karya. Tapi Fahri tak peduli, baginya dengan menjadi penterjemah itu bisa menambah ilmu dan mentransfer ilmu. Menuruti kata orang tak pernah ada habisnya kata Fahri. dan dia menutup pembahasan itu dengan seuntai kalimat dari Imam Syafi’i : “Memenuhi segala kecocokan dengan hati semua manusia adalah hal yang tidak mungkin kamu capai.”

*Akhir bulan Shafar

*had been posted at Mp ‘n FB on 130210*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s