Mengorbankan perasaan..

Satu lagi dari Mayora… eh.. iklan banget.. maksudnya.. satu lagi dari novel Burlian yang ditulis Tere Liye. Kali ini masih dari kata2 yang dilontarkan oleh Bapak.. hoho.. Bapak menjadi tokoh favorit sy di novel ini. watu itu bapak bilang gini…

“Ah, setiap kali ada seseorang yang akan pergi.. maka sejatinya yang pergi sama sekali tidak perlu dicemaskan. Dia akan menemukan tempat-tempat baru. Berkenalan dengan orang-orang baru. Melihat banyak hal. Belajar banyak hal. Dia akan menemukan petualangan baru di luar sana.. sementara yang ditinggalkan.. nah itu baru perlu dicemaskan. Lihatlah, mamak kau menangis macam anak kecil saja.”

Sy pun menyepakati apa kata Bapak itu. Karena beberapa episode kehidupan yang sy lewati menunjukkan realita yang seperti itu. Salah satunya hampir sama dengan Burlian. Saat sy berkesempatan menemani mama bersilaturrahim ke rumah salah satu kerabat pada Ramadhan lalu.

“rumah ini sekarang sepi.” kata kerabat kami itu. Sy pun memutar pandangan ke sekililing rumah. Benar juga.. rumah besar bergaya tradisional itu memang terasa lebih sepi dari terakhir sy berkunjung ke sana.

“Cucuku meneruskan sekolahnya ke jawa. Mengikuti kakaknya. kalau kakaknya kemarin baru sekolah ke sana setelah tamat SMP, adeknya malah tamat SD sudah pengin melanjutkan ke sana.” beliau mulai bercerita. Aku dan mama menyimak. Sesekali mama bertanya. dan aku menyimak dengan diam.

“Cucuku itu masih 12 tahun. masih kecil. Rasanya watu yang akan kulewati dengannya hanya sedikit saja, karena aku sudah tua, dan dia malah tak ada lagi di sini. Rasanya sepiii sekali.” suara beliau berubah serak saat berkata seperti itu seraya menghapus air yang tiba-tiba mengalir dari ujung mata beliau.

Karena itu.. rasanya apa yang diungkapkan Bapak passs banget deh dengan situasi itu.. demi cita2 sang anak.. orangtua qta pun berkorban.. tidak hanya berkorban menguras tenaga untuk menyediakan materi yang cukup buat biaya sang anak di ujung dunia sana.. tapi juga perasaan.. menahan perasaan rindu dan kangennya.

Tapi hal itulah yang juga bisa jadi motivasi buat anak untuk berjuang memberikan yang terbaik buat orangtua dan keluarganya. Jangan sampai mengecewakanlah.. dan buatlah mereka tersenyum bahagia.. Dan kata2 Fahri dalam Ayat-ayat Cinta ketika meneguhkan hatinya buat tak loyo dalam menuntut ilmu juga bisa jadi motivasi tersendiri.. saat mengingat bahwa dia dilepas dengan selaksa doa dan airmata.. Seperti berikut nih kata2nya…

“Ah, kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang lebih panas dari hari ini dan lebih gawat dari hari ini. Hari ketika manusia digiring di padang Mahsyar dengan matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala.

Kalau tidak ingat bahwa keberadaanku di kota seribu menara ini adalah amanat. Dan amanat akan dipertanggungjawabkan dengan pasti.

Kalau tak ingat, bahwa masa muda yang sedang aku jalani ini akan dipertanyakan kelak. Kalau tak ingat, bahwa tidak semua orang diberi nikmat belajar di bumi para nabi ini.

Kalau tak ingat, bahwa aku belajar di sini dengan menjual satu-satunya sawah warisan dari kakek. Kalau tidak ingat bahwa aku dilepas dengan linangan airmata dan selaksa doa dari ibu, ayah, dan sanak saudara.

Kalau tidak ingat bahwa jadwal adalah janji yang harus ditepati. Kalau tak ingat itu semua, shalat dzuhur di kamar saja lalu tidur nyantai menyalakan kipas dan mendengarkan lantunan lagu El-Himl El-Arabi atau El-Hubb El-Haqiqi, atau untaian shalawatnya Emad Rami dari Syria itu, tentu rasanya nyaman sekali.”

 

*had been posted at FB on 260210*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s