memang sudah waktunya…

“Memang sudah waktunya.” Kata-kata itu yang beberapa minggu yang lalu sering sekali q dengar dan q ucapkan. Berawal dari seseorang yang mengabarkan hasil perbincangannya dengan orangtuanya. Trus.. smsan q dengan seorang teman.. eh.. waktu ngobrol dengan teman setelah sekian lama taunya dia juga bilang “memang sudah waktunya yan..”

Hemm.. jadi ingat.. di awal tahun yang lalu. Saat aq ikut deg2an menunggu kelahiran sepupu q. Aq jadi mengikuti perkembangan sang bunda dari hari ke hari.. yah… mau gimana.. tiap ke sana ada saja laporan tentang perkembangan sepupu kecil q yang masih dalam rahim sang bunda. Memperlihatkan hasil USG atau memberitahu kapan perkiraan lahirnya.

Perkiraan dokter acil q itu akan melahirkan awal Januari.. hari2 berlalu.. Januari juga sudah bukan di awal lagi, tapi sudah masuk pertengahan, namun tak kunjung juga si kecil nongol di dunia. Sampai januari berakhir pun.. dia betaaahhh banget diam di rahim sang bunda. “hey.. kamu ga mau lahir atau apa ya?”..🙂

Akhirnyaaa…. pada tanggal 5 februari dini hari lahir jua lah si kecil yang 7 hari kemudian diberi nama Hilyati Shafarina . Hari itu adalah batas akhir si ibu untuk melahirkan normal.. maksudnya.. kalau sampai tanggal itu ga melahirkan juga maka proses Caesar akan dilakukan. Katanya sih.. plasenta sang bayi udah lepas.. jadi dia tidak mengasup makanan lagi. Tapi untunglah.. masih bisa melahirkan normal. “memang sudah waktunya hari itu.” Kata beberapa orang keluarga ketika mendengar betapa betahnya Hilya di rahim sang bunda.

Beberapa bulan kemudian.. pagi2… sy diminta paman untuk ikut ke Rumah Sakit. “urus adminitrasinya Ti.” Perintah beliau. Saat itu paman sy yang lain minta dibawa ke Rumah Sakit. Melihat sakitnya beliau kayakna ga parah2 amat.. toh.. beliau masih bisa jalan sendiri menuju ruang pemeriksaan. “aku cari tempat yang tenang.” Ungkap beliau esoknya. Lingkungan rumah beliau memang ga “sehat” kalau malam. Banyak pemuda kampung yang bergadang dan main musik yang ga jelas gitu.

Atas dasar itulah.. karena merasa beliau sehat2 saja. Kami sekeluarga pun nyantai saja.. tidak memberitahu keluarga jauh. Khawatir merepotkan pikir kami. Karena kalau dikasih tau.. mereka pasti berpikir buat ngebesuk. Karena tidak ingin merepotkan itulah.. jadinyaa.. cuman segelintir yang dikasih tau.

Hari ke 3 di rumah sakit, siapa sangka kalau ternyata kondisi beliau menurun drastis. Sy pun terkaget2 mendengarnya, gegas memacu motor ke rumah sakit. Belum satu jam sy tiba di Rumah Sakit. Beliau pun menghembuskan nafas yang terakhir. Sy dan kakak bergerilya menghubungi keluarga2.. yang dapat dipastikan semuanya kaget. “sakit apa?”
“di rumah sakit?”
“di opname kok ga ngasih kabar?”
Pertanyaan2 sejenis itu yang mendominasi reaksi dari keluarga, lawan bicara kami. Menyesalkan tidak ada pemberitahuan tentang opname beliau. Walaupun akhirnya kami semua menyadari… “memang sudah waktunya.”

Kelahiran dan kematian manusia memang sudah ada yang mengaturNya. Jika sudah sampai waktunya qta manusia tak punya kuasa untuk memperlambat atau mempercepatnya.

*had been posted at FB on 270210*

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s