Sekelumit dari ‘Risalah Cinta Untukmu’

Keinginan untuk membuka kembali buku ini menyeruak sesaat setelah membaca sebuah essay yang sangat manis dari mbak Ifa Avianty (Mengungkap Luka dengan cara yang indah) tentang penulis buku ini. Helvy Tiana Rosa, seorang penulis yang telah memberikan jejak-jejak berarti dalam hidup saya. Masih ingat betapa ‘tertampar’nya sy membaca kumcer dari mbak Helvy saat sy sedang ‘bandel2’nya saat itu. Kumcer yang berjudul ‘Hari-hari Cinta Tiara’ dikerjakan bareng dengan adek beliau, yang di kemudian hari karya2nya juga banyak menginspirasi sy, mbak Asma Nadia.

Malam ini sy pun kembali terpukau dengan gaya bertutur mbak Helvy. Sy banyak belajar lewat untaian kata di buku itu, terutama pada bagian ‘Episode Helvy vs Djenar’, sebuah tulisan yang inspiratif sekali. Sy mengangguk-angguk setuju membacanya. Dan tak lupa menggarisbawahi kalimat-kalimat di buku itu tak hanya di lembaran kertasnya tapi juga di hati sy. Bisakah? Semoga.

Sy tak pernah membaca karya Djenar, namun sy tau lah bagaimana karyanya walau tak membacanya. Dan bagaimana saat Djenar dan Helvy bertemu dalam sebuah forum? Dan mereka bebas menuangkan pendapat mereka dalam forum itu terhadap karya-karya lawan bicaranya. Dari dua kutub yang berbeda, dan mereka pun bersepakat untuk tidak sepakat, namun semua pendapat itu dikemukakan dengan cara yang baik, tanpa emosi. Sy rasa dalam hal ini diperlukan manajemen emosi yang sangat baik. Dan sy simpulkan keduanya mampu memanejemen itu dengan sangat baik.

Dan renungan yang diberikan mbak Helvy sebagai penutup yang sy garis bawahi. Kita sering tak setuju dengan seseorang, secara sangat prinsipil. Lalu, bagaimana kita menyampaikan hal tersebut di depan forum? Frontal? Membantai? Mencaci dan menyakitinya? Atau kita perlu menyampaikannya dengan bijaksana, bilhikmah? Jangankan pertanyaan yang keliru, bukankah maksud baik saja sering tak sampai bila kita ucapkan dengan gegabah, dengan emosional? Alih-alih menerima, bisa-bisa orang itu menjadi sangat sebal kepada kita yang telah memahatkan luka di hatinya. Bagaimana pun niat baik kita harus disiasati dengan lisan yang bijak dan akhlak karimah. InsyaAllah akan terlihat indahnya.
(Dari sebuah buku mbak Helvy ‘Risalah Cinta Untukmu’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s