Segenggam Gumam Pemilukada

“Jika anda terpilih, dan di kemudian hari ternyata anda terbukti korupsi. Apakah anda bersedia mundur dari jabatan anda?”

Itulah pertanyaan yang paling menarik perhatian sy saat ada debat cagub dan cawagub Kalsel yang disiarkan secara nasional. Sebuah pertanyaan yang menurut sy jawabannya sangat simpel dan mudah untuk dijawab. Jawab saja begini “sy tidak akan korupsi tapi jika suatu ketika sy tergelincir dan melakukan korupsi tentu saja sy akan mundur dan bersedia diproses secara hukum.”

Mudahkan menjawab begitu? Tak sampai satu menit lah buat memberikan jawaban seperti itu. Tapi itu bagi sy yang jelas tak menjadi kandidat atau pendukung salah satu kandidat. Tapi ternyata, entah pertanyaan itu begitu sulitnya atau enggan untuk dijawab, masih ada saja kandidat yang jawabannya malah berputar-putar. Hingga 2 menit waktu yang disediakan untuk menjawab pertanyaan sederhana itu ternyata belum cukup. Waktu habis sebelum pertanyaan inti terjawab.

Sejak awal seharusnya para kandidat tahu kalau waktu yang disediakan buat menjawab pertanyaan itu tidak banyak. Dan haruslah memperhatikan efisiensi dari waktu tersebut. Intinya tidak perlu banyak basa basi, langsung ke inti permasalahan. Jika waktu dalam debat dijadikan tolak ukur, maka sy khawatir mereka yang tak bisa memanfaatkan waktu itu justru juga tak bisa optimal memanfaatkan 5 tahun kepemimpinan. Siapa tahu di awal dan tengah kepemimpinan mereka berputar-putar entah ke mana dulu. Menjelang waktu habis eh malah bilang gini.. “5 tahun tidak cukup bagi kami untuk melaksanakan semua program pembangunan.. beri kami waktu 5 tahun lagi.”

Dan hari H untuk memilih pemimpin sudah semakin mendekat. Dari beberapa orang yang sy Tanya rata-rata mereka masih belum tau mau memilih siapa. Begitu pun dengan saya. Tidak adanya calon ideal bagi sy membuat sy hampir memutuskan memilih untuk tidak memilih. Tapi tidak lah. Terlalu sayang jika suara sy terbuang percuma.

Sy jadi teringat cerita di sebuah novel yang berjudul Burlian. Penulisnya Tere Liye memotret dengan sangat manis tentang pemilihan pemimpin di negeri ini. Dalam novel itu diceritakan akan terjadi pemilihan kepala Kampung. Tidak ada yang mencalonkan diri selain satu orang yang baru pulang kampung ketika pemilihan akan berlangsung. Satu-satunya calon itu diceritakan seorang kaya raya yang membagi-bagikan uang, sarung, beras kepada penduduk kampung agar dipilih. Penduduk kampung tak senang. Itu perbuatan tercela. Menjijikkan. Tapi, sekali lagi hanya ada calon itu yang mencalonkan diri. Dan sy suka nasehat bijak bapak kepada Burlian.

“Dunia ini tidak hitam – putih, Burlian. lebih banyak abu-abunya. Jarang ada orang yang hatinya hitam sekali, dan sebaliknya juga susah mencari yang hatinya sempurna putih. Semua orang punya kelemahan, dan karena itulah seringkali kita tidak selalu diberikan pilihan terbaik. Setiap kali kita memilih pemimpin, sejatinya kita bukan memilih orangnya. Sejatinya itu hanya soal apakah kita mau dipimpin si A, si B atau pilihan lainnya. “

300510.. memasuki hari2 tenang dari masa kampanye..
Segenggam Gumam sepertinya salah satu judul dari karyanya mbak Helvy Tiana Rosa.. pinjam judulnya ya mbak…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s