Kagum

Pernahkah merasa kagum dengan seseorang? Ya. Saya pernah. Ada banyak hal yang menyebabkan sy mengagumi seseorang. Entah itu sikapnya yang bijaksana, perilakunya yang mempesona, kebaikan hatinya, kerendah hatiannya dan banyak hal lain lagi yang menjadi alasan sy kagum dengan seseorang.

Semisal saat sy mengagumi bunda Wirianingsih Mutammimul Ula, ibunda dari 11 orang anak penghafal Al-Qur’an, cara beliau konsisten mendidik anak2 beliau untuk setor hafalan tiap harinya sungguh membuat sy kagum. Sy juga kagum dengan mbak Helvy Tiana Rosa yang mampu berdebat dengan Djenar tanpa emosi. Walaupun tak melihatnya langsung, sy percaya itu terjadi. Hal itu dikuatkan dari saksi mata yang bercerita pada sy.

Belakangan sy memang sering kagum dengan orang-orang yang bisa mengendalikan emosi dengan baik. Tidak meledak ketika diserang. Karena itulah sy teramat sangat mengagumi sosok ini, kebaikan hatinya, kelemahlembutan perilakunya sungguh membuat sy terpesona.

Sy membayangkan bagaimana kah reaksi sy ketika ada orang lain mencaci maki dengan kata-kata “orang gila, pembohong dan tukang sihir”. Dengan nada bercanda atau hanya sebuah sindiran sj mungkin sy akan marah atau paling minim kesal dibuatnya. Kalau serius, wuih.. Hati dan pikiran sy tentulah mendidih, bahkan mungkin lisan ini juga akan mencibir tak senang, atau mungkin mengatakan hal yang sama.

Kalaupun sy masih bisa menahan diri untuk tidak melakukan serangan balik, tapi hati ini pasti lah ada perasaan tak nyaman yang menghujam sedemikian dalamnya. Hingga hanya bisa membelai-belai hati dan merayu-rayuNya, meminta diberikan kesabaran dan kelapangan hati. Itupun jika teringat lagi hal itu perih itu masih ada. Ah, susahnya ikhlas.

Tapi tidak dengan seseorang ini. Dikatakan seperti itu sama sekali tidak memberikan serangan balik, dan sy yakin tidak ada kekesalan dalam hati beliau. Jika ingin membalas tentu punya peluang untuk itu. yang mencaci makinya dengan sebutan “orang gila, pembohong dan tukang sihir” adalah seorang pengemis yang sudah renta dan buta.

Peluang untuk membalas caci maki itu jelas ada. Tapi itu tidak dilakukan. Dengan penuh kelemah lembutan beliau selalu mendatangi pengemis itu setiap harinya, menyuapinya dengan makanan yang telah lunak hingga pengemis itu tak lagi perlu mengunyahnya dan langsung menelannya saja. Suapan makanan diberikannya di sela caci maki pengemis itu terhadap dirinya, Tidak ada kekesalan, tidak ada bete, tidak ada cemberut di wajah.

Pengemis itu sama sekali tak tahu kalau yang menyuapinya adalah orang yang dia caci maki. Pengemis itu baru mengetahui saat sosok penuh cinta itu tak ada lagi di dunia. Kebaikan hatinya tiada yang mampu menandinginya. Sungguh sy selalu dibuat kagum oleh segala perilaku beliau. Dan ingin selalu meneladani beliau. Doakan yaaa…

*saat kembali membolak balik Muhammad SAW, Lelaki Pengenggam Hujan – Tasaro GK*

 

*had been posted at Mp ‘n FB on 100510*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s