Catatan setelah membaca buku ketiga dari penulis “Diorama Sepasang Al-Banna”

Judul notesnya panjang bener.. hehe.. Sama dengan Diorama Sepasang al-Banna dan Dilatasi Memori, buku ketiga dari Ari Nur ini juga teteup masih tentang arsitek. Bedanya.. buku kali bacanya bikin ngakak.. upss.. maksudnya ketawa ketiwi. (kalau ngakak kesannya kurang sopan :p)

Judul bukunya apa sih? Penganten Baru. Sengaja ga naruh judul buku di atas, ntar dibilang sy mau jadi kompor buat yang belum nikah. Tapi tenang kok baca buku ini ga bikin terprovokasi mau nikah, malah sebaliknya bikin qta jadi mikir lagi. Hehe.. Ga ding, biasa aja lah kalau menurut saya. Saya jauh lebih banyak dapat lucunya ketimbang cerita tentang indahnya menikah di buku ini.

Bagian yang saya suka ada di bab “Lala mau jadi Ici Buluk”. Apa itu Ici Buluk? Itu loh penyakit yang bikin anak kurus, jauh dari berat badan ideal dan rentan terhadap penyakit. Ah.. bisa di protes anak FK kalau sy memberikan info yang salah tentang Gizi Buruk. Yah, maksudnya gizi buruk yang kalau dilafazkan anak kecil jadi Ici Buluk. Di bab ini diceritakan bagaimana anak terkadang menjadi ambisi orang tua. Mereka disuruh les ini dan itu. training ini dan itu, padahal keinginan mereka pada usia mereka saat itu adalah bermain. Anak bukan mangga yang bisa dikarbit. Bab ini katanya terinspirasi dari buku Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela oleh Tetsuko Kuroyanagi dan tulisan Dewi Utama Faizah berjudul ‘anak-anak karbitan’.

Bab yang lain adalah bab terakhir, waktu si Bagas termenung, mendung sehabis reunian dengan teman2 lama semasa kuliah. Kenapa? Karena ada temannya yang sekarang kaya banget padahal temannya itu penghuni terakhir di angkatan (Lulus paling terakhir). Tapi ngerasa ga bakat jadi arsitek karena salah jurusan waktu kuliah akhirnya dia banting stir buka bisnis jualan gorengan singkong yang kemudian menjadi kripik singkong dengan omzet 2 milyar perbulan. Menyadari hal itu, si teman udah melimpah rezekinya, Bagas dan Inda pun pengin mandiri. Ga mau lagi jadi karyawan yang jadi suruhan orang. Mereka keluar Dari kerjaan dan bikin biro arsitek sendiri. Berhasilkah usaha mereka? Baca aja sendiri ya..🙂

Oya, sy juga terkesan dengan jawaban Inda ketika ditanya Bagas kenapa mau menerima dia sebagai suaminya. Tau ga apa jawaban Inda? Bukan karena si Bagas sholeh. Atau karena si Bagas memenuhi criteria yang dia inginkan. Sama sekali bukan itu. Tapi Inda menjawab dengan penuh kejujuran, “Kalau nolak, kapan lagi saya nikah.”. Jawaban yang menarik sekali😀

Intinya… buku ini lucu. Buat yang senang bacaan yang renyah dan gurih dan bikin ga stress atau mau ngilangin ngantuk tanpa minum kopi, sepertinya buku ini cocok. Tapi tetap ada “nilai” yang bisa qta ambil setelah membacanya. Bukan hanya bacaan kosong tanpa makna yang cuman ngajak qta ketawa.

*makasih buat teh Anne yang ngasih pinjam buku ini waktu kopdar.. jyaah.. ketahuan deh cuman pinjam..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s