biarkan tanpa judul

Beberapa waktu yang lalu sy menemukan sebuah QN di MP, sebuah kutipan dari penulis ternama negeri ini, sy lupa persisnya gimana, tapi intinya seperti ini : “mereka atau siapapun boleh mengatakan HAMAS itu teroris, tapi tentang dosa dan pahala, bukankah itu urusan Allah?”

Sy bukan mau membahas tentang HAMAS, bukan itu, tapi jujur, sy sedih sekali ketika.. huff.. lagi-lagi di dunia maya ini menemukan komentar2 yang menyedihkan. Ketika mendengar kedzoliman, kejahatan atau apa pun namanya yang dilakukan anak manusia, kenapa sebegitu mudahnya mengatakan “dia pasti masuk neraka.”

Bukan, sy bukan membela kejahatan yang dia lakukan, sy juga benci akan kejahatan itu, tapi kebencian itu tak lantas membuat qta menjudge dengan mudahnya ke mana orang itu akan berada di akherat nanti. Karena qta tidak pernah tahu bagaimana akhir hidup manusia.

Teringat cerita, tentang seseorang yang membunuh 99 manusia, maka ketika dia bertanya kepada seorang pendeta bisakah dia bertobat, dia mengatakan tidak bisa, maka dibunuhlah pendeta itu hingga genap menjadi 100, kemudian dia datang lagi kepada seorang Alim, menanyakan bisakah dia bertaubat. Seorang alim itu mengatakan bisa, maka dia menyarankan orang itu untuk pergi ke sebuah desa yang di sana penduduknya bertaqwa kepada Allah, maka pergilah dia ke sana, dan di tengah perjalanan dia meninggal. Singkat cerita dihitunglah jarak mana yang lebih dekat, tempat dia dulu bermaksiat atau dia ingin bertaubat, dan ternyata tempat dia ingin bertaubat lebih dekat jaraknya. Maka tobatnya diterima.

Sekali lagi, qta tidak tahu bagaimana akhir hidup manusia. Karena itu rahasia Allah. Kalau seorang yang telah membunuh 100 orang bisa bertaubat, lantas kenapa qta sebegitu sok taunya terhadap orang yang bahkan tak pernah membunuh, akan berada di mana dia di akherat nantinya hanya karena merasa sakit hati dengan sikap orang tersebut yang dia terkhilaf karenanya atau atas suatu kesalahan yang kemudian disadarinya.

Seorang ustadz pernah mengatakan, bahkan terhadap seorang kafir pun qta tidak tau bagaimana akhir hidupnya, bisa jadi menjelang ajal dia beriman, bukankah dengan itu telah terhapus segala dosanya seperti bayi yang baru lahir.

Tahan lisanmu yanti. Seperti kata Aa Gym, jika lisan diibaratkan teko, maka dia hanya akan mengeluarkan isinya. Jika isinya baik, maka yang baik lah yang akan keluar dari sana. Dan.. sy suka hadist ini,
“…di atas orang yang berdoa ada malaikat yang mewakili, setiap seorang muslim mendoakan saudaranya pada kebaikan, maka malaikat yang mewakili itu berkata. ’Juga untukmu seumpamanya.’” (HR. Muslim).

 

*had been posted at Mp ‘n FB on 290310*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s