The Road to the Empire

Saya pernah sebegitu menginginkan novel ini. Bersanding dengan Galaksi Kinanthi, dua novel itu selalu menjadi pesanan saya ketika kakak saya akan bertolak ke Banjarmasin. Dengan debar penuh harap saya menanti kedatangan kakak, tapi novel itu tak pernah ada di tangannya ketika dia pulang. “Kosong. Udah habis,” begitu jawabnya ketika saya bertanya. Pada akhirnya saya mendapatkan Galaksi Kinanthi lewat seorang adik dan keinginan untuk memiliki novel ini meredup, seiring dengan buku-buku baru yang terbit yang menjadi sasaran perburuan saya berikutnya.

 

Namun, kemudian… saya menemukan novel ini kembali, beberapa bulan yang lalu, ada seorang kakak yang bersedia meminjamkan novel ini pada saya. Yay.. pada akhirnya.. kalau jodoh emang ga akan ke mana kan? *Loh?*

 

Hal yang paling aneh adalah jika impian telah di depan mata seringkali hati bimbang untuk menghadapinya.

 

Kalimat itu saya temukan di halaman 364 novel ini. Hihihi, coba dipaskan dengan keadaan saya. Soalna, ketika buku yang dulunya begitu saya impikan ini sudah ada dalam dekapan, tidak ada keinginan yang begitu menggebu untuk segera menuntaskan membacanya. Saya sempat membukanya, mencoba membaca kemudian novel itu saya taruh lagi.

 

Ada beberapa hal yang yang menjadi penyebab, pertama karena saya ruwet dengan nama-nama tokohnya. Tentulah nama asing.. bukan nama Indonesia karena novel ini settingnya adalah Mongolia, apalagi tokohnya ada yang pakai nama samaran. Tambah banyak nama jadinya.. Kedua, saya tidak terlalu suka epik. Waktu zaman Annida cetak masih ada dulu, Epik termasuk rubric paling akhir yang saya baca. Beberapa edisi bahkan belum terbaca hingga saat ini. (masalah selera aja). Ketiga, ada banyak narasi panjang untuk menjelaskan setting sampai sedetail2nya, tapi saya orangnya kan pembosan, jadinyaa.. ya bosan duluan deh.. saya lebih suka cerita yang banyak dialognya. Dialog yang tek-tok *berbagai alasan itu hanya selera pribadi saya. Saya ga nyebut bukunya jelek lho ya.. *

 

Dan beberapa hari yang lalu, keinginan untuk melahap buku ini kembali meletup dalam diri saya. Dan saya pun mencari ‘perangsang’ agar saya bisa bersemangat menuntaskan membacanya. Dengan apa? Tentu saja dengan mencari dan membaca review tentang buku ini. Itulah latar belakang saya menulis QN di MP yang menyebutkan kalau saya suka mencari review buku-buku sebelum membacanya. Biar saya tahu seberapa layak buku itu untuk dibaca.

 

Hasil perburuan saya berbuah positif. Karena dari review yang saya temukan banyak yang memuji novel ini dan menyematkan bintang-bintang berkilau. Bahkan, seseorang yang saya nilai ‘kejam’ dalam ngereview juga memuji buku ini. Membuat saya kembali menekuri lembar demi lembar novel tebal itu.

 

Dan tradaaa… Saya akhirnya jatuh cinta dengan novel ini. Saya suka alurnya, suka konflik yang dibangun, suka karakter tokoh2nya. Novel ini berjudul The Road to the Empire. Karya mbak Sinta Yudisia. Bisa dibilang nama Sinta Yudisia lah yang membuat saya seperti diceritakan di awal begitu menggebu untuk memiliki novel ini. Beliau kan salah satu penulis favorit saya.

 

Gimana sih cerita tentang TRTTE ini? Jadii… Ada seorang kaisar, penguasa Mongolia yang bernama Tuqluq Timur Khan, sang Kaisar ini digambarkan bijaksana dan baik gitu deh, apalagi ada Permaisuri Ilkhata di sampingnya. Trus, mereka punya 3 putera. Takudar, Arghun, Buzun. Suatu ketika ada pembunuhan terhadap Kaisar dan Permaisurinya. Pangeran ke satu (Takudar) menghilang dan kemudian naik tahta lah Pangeran Kedua, yang dalam pemerintahannya disetir oleh Albuqa Khan, sehingga yang dia pikirin bukan kesejahteraan rakyat, tapi perluasan wilayah mulu, perang, perang dan perang. Jadi kejam gitu. Bagaimana dengan si Bungsu, Pangeran ketiga? tetap mengabdi di kekaisaran, tapi dengan rasa rindu dan penasaran terhadap hilangnya sang kakak, Takudar. Pangeran ketiga ini ga jahat. Dia punya perasaan yang halus.

 

Kita kembali dulu ke Tuqluq Timur Khan. Semasa hidupnya Tuqluq Timur Khan berjanji kepada Syaikh Jamaluddin bahwa ia akan menjadi seorang Muslim usai menyatukan Mongolia. Belum sempat menunaikan janjinya Tuqluq Timur Khan keburu wafat. Tapi sebelum wafat, Tuqluq Timur Khan telah mewariskan janjinya kepada Takudar, sedangkan Syaikh Jamaluddin kepada Rasyiduddin. Karena itulah kemudian.. Pangeran kesatu bergabung dengan pasukan Muslim dan menjadi Muslim sejati dan ingin menghentikan tindakan ambisius Arghun supaya ga perang terus.

 

Yah.. intinya gitu deh… Ada tentang persaingan, peperangan, permusuhan, perjuangan kaum Muslimin, kesetiaan tapi juga tak ketinggalan ada bumbu romantisnya yang menjadi pemanis cerita (benar2 menjadi pemanis cerita). Ada cinta segitiga antara antara Urghana, Buzun dan Arghun.. Ada cinta terpendam Almamuchi, walau terpendam tapi bisa dibaca dengan jelas oleh mereka yang ada di sekitarnya.

 

Cerita TRTTE memang sudah selesai. Namun… bukan berarti ceritanya berakhir. Masih banyak cerita yang bisa dikembangkan. Dan lanjutannya sudah ada euy, berjudul Takhta Awan. Di sana ada lanjutan cerita tentang Almamuchi, Takudar dan lainnya. Jadi Penasaran bagaimana cerita mereka selanjutnya?

 

Kutipan dari TRTTE :

Ada masanya seseorang tak mau berbagi masalah yang merupakan rahasia hati

 

Tak seorang perempuan pun sanggup menghadapi pernikahan suami dengan wanita lain, seindah apapun undangan dan upeti diantarkan. (Hal. 146)

 

Mengapa ia tak mengerti bahwa sebuah hati tak bisa dipaksa begitu rupa untuk mencintai seseorang? Hati bukanlah adonan tepung yang dapat dibentuk sesuai kehendak.

 

Hubungan antar manusia kadang berkembang tak terduga, ke arah baik atau sebaliknya (hal 350)

 

Jangan biarkan perasaan mengusir semua pertimbangan akal sehatmu (Hal. 351)

 

Bagi kaum Muslimin, airmata bukanlah kelemahan. Airmata yang bercucuran ketika mereka shalat atau tilawah atau berada di majelis-majelis ilmu, membuat mereka menjadi manusia tangguh yang tak mudah patah oleh beragam kesulitan. (Hal 456)

 

Kekayaan apapun yang dimiliki seorang gadis tak sebanding dengan kehormatan dirinya. Jika ia tak memiliki kesucian yang akan ia persembahkan kelak kepada suami yang mengayominya, ke mana lagi ia mencari harga diri. (Hal 542)

 

Aku hanya Seorang lelaki biasa yang tidak sebijak Abubakar, tidak sekuat Umar, tidak sekaya Utsman, tidak secerdas Ali. Hanya pemuda dhaif yang meyongsong

kebangkitan (hal 459

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s