Ranah 3 Warna (A. Fuadi)

Kalau kita kondisikan sedemikian rupa, impian itu lambat laun akan menjadi nyata. Pada waktu yang tidak pernah kita sangka-sangka.

 

Satu hal yang tidak bisa saya lepaskan ketika awal membaca buku ini adalah pulpen. Ahaha… Sy kan punya kebiasaan menggarisbawahi kata2 bagus atau menarik yang ada di buku. Dan di Ranah 3 Warna yang sy garis bawahi banyak banget. Yang mampu menyainginya kayakna cuman bukunya Andrea Hirata aja.

 

Buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara ini bercerita tentang Alif Fikri setelah menyelesaikan pendidikannya di PM. Dia kembali ke kampong halaman dan menorehkan impian ingin sekolah di Teknik Penerbangan. Menjadi seperti pak Habibie. Tapii.. sayangnya dia tidak punya ijazah SMA sehingga harus ikut ujian penyetaraan dan Alif hanya punya waktu sedikit untuk belajar mata pelajaran SMU yang tidak dia pelajari di PM. Setelah ijazah SMU dia pegang, masalah tidak selesai.. dia harus melewati UMPTN untuk masuk jurusan yang dia inginkan. Bla… bla.. gitu deh… perjuangan meraih impian, berbagai halangan yang tak menggoyahkan Alif dan mantera2 sakti yang coba Alif dengungkan untuk menyemangatinya. Man Jadda Wajadda dan Man Shabara Zhafira

 

Baguss Banget… Terlebih saat berbagai nestapa yang menghadang kehidupan Alif. Huwaaaa…. Bikin menangis semalam (soalna bacanya malam2). Sy akui penulisnya pintaaaar sekaliii menguras emosi pas bagian itu. Tapi itulah… semakin pekat malam itu pertanda akan semakin dekat dengan fajar

 

Tapi setelah sang fajar datang.. sy kok merasa konflik berjalan seadanya.. Mungkin karena di awal udah disuguhin yang “BLAARR!!!” Seperti petir menyambar hingga kemudian pas di tengah, sy merasa yang ada Cuma riak-riak kecil.

 

Awalnya saya sudah mantap banget memberikan 5 bintang untuk buku ini (perlu diingat sy orang yang tidak pelit ngasih bintang), tapi dua bintang sy tarik kembali.. Sorry… sy lagi sensi aja kali sehingga merasa sosok Rusdi digambarkan terlalu lebay untuk membuat segar cerita. Ohoho… sekampungan itu kah urang Banjar yang bisa mendapatkan ‘tiket’ ke Kanada? Jadi penasaran.. apa sih pendapat mereka yang hidup di luar Kalimantan tentang Kalimantan? Apa isinya Cuma Hutan dan penduduknya hanya mengenal Hutan, sawah dan ladang? Iiiihhh…. Yanti sensiiii… :p

 

Begini yaa… kalau melihat seleksi dari sisi Alif waktu berhadapan dengan Bu Sonia cs.. sy merasa Rusdi kayakna ga bakalan mendapatkan ‘tiket’ ke Kanada. Kenapa? Dikabarkan kalau grogi Rusdi akan mengeluarkan bunyi ‘kelutukan’ yang seperti mematahkan tulang. Semakin grogi, semakin sering bunyi itu terdengar. Bukankah bunyi itu cukup menganggu? Dan berpengaruh terhadap penilaian penampilan kan? Kok bisa lulus? Apalagiiii…. Diceritakan Rusdi bukan orang yang menguasai seni, dia sama dengan Alif. Lalu apa keistimewaan Rusdi? Bisa berpantun? Orang Kanada ga ngerti pantunnya. Apa dia ada hanya untuk bikin lucu suasana. Dan bagi sy itu tidak lucu sama sekali.

 

Trus lagi.. sebagai salah satu duta bangsa, yang terpilih tentunya kaan.. setidaknya apa ya.. sy rasa Rusdi seharusnya mempunyai semacam kepribadian atau aduuuh.. bingung bilangnya.. Intinyaa.. orang yang berpendidikan gitu loh. Masa orang yang diceritakan mau ke Kanada yang lulus seleksi berdasarkan hasil sederetan test macam2 itu berjalan cepat melintasi lapangan upacara seperti perantau yang tersesat dan membuat orang tertawa dengan polahnya? Ga bertanya di pojokan gitu secara elegan. Pakai warna koper kuning menyala lagi ceritanya.

 

Contoh yang lebih konkret tentang orang kampung yang berpendidikan misalkan kayak si Doel. Alif juga orang kampung kan? Tapi kenapa orang kampung yang digambarkan begitu kampungannya justru urang Banjar? Whuaaa…. Saya sensi nih.. Buktinya urang Banjar lain yang sy Tanya malah biasa aja. Malahan Bangga urang Banjar disebut di novel itu. :p

 

Satu lagi, nama lengkap Rusdi adalah Rusdi Satria Banjari. Aaaa…. Kok ada Banjari segala di belakangnya? Tak bisakah penulisnya mencari nama yang lebih mengkhaskan suku Banjar tanpa menggunakan kata Banjari? Pakai “SYAH” mungkin..

 

Tapii.. di balik semua itu.. Sy suka banget ama novelnya kok. Emang bagus banget ^^

Sy juga suka cara bang Togar mengajari Alif menulis. ^^

 

*had been posted at Mp ‘n FB on 080211*

One thought on “Ranah 3 Warna (A. Fuadi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s