Menjejak Pulau Tumasik (Part 2)

Sekarang… bagian yang menyenangkan dari S’pore. (sambungan dari part 1 tentunya…)

 

Gemerlapnya Singapura

Negerinya bersiiiih.. tentu saja. Saya pun terpesona dengan kebersihannya. Juga disiplinnya. Orang S’pore jalannya cepat2, kata mbak Rien dan suami, makanya turis Indonesia kelihatan sekali bedanya karena jalannya lambat. Wkwkwk…. Eh, ga hanya jalan kaki nya aja yang cepat. Eskalatornya juga punya kecepatan lebih di banding escalator di Indonesia. Kami malah sempat menemui ada yang terjengkang di Eskalator. Kalau lagi berada di escalator jangan main sama hape dulu. Tetap konsen. *mengingatkan diri sendiri*

 

Oya, kalau naik escalator di S’pore, ambil lajur kiri, karena lajur kanan untuk mendahului. Wkwkwk.. kayak jalan raya euy. Tapi beneran lho, lajur kanan emang dikosongkan. Itu khusus buat mereka yang pengin tetap berjalan di tangga yang udah berjalan itu. Info ini kami dapat lagi-lagi dari mbak Rien dan suami.

 

Mbak Rien dan suami juga cerita kalau S’pore ini negeri yang aman. Kata beliau berdua kalau gadis pulang malam2 juga ga masalah, karena insyaAllah aman saja. Saya lantas bertanya, “ada copet ga?” wkwkwk… padahal juga bawa uang ga banyak, tapi takut aja dicopet dan jawaban mbak Rien, ga pernah nemu kasus pencopetan selama di sini.

 

Dengan keterangan itu, jadinyaa.. saya berani jalan-jalan hanya berdua dengan Icha, berpisah dengan kakak dan kakak ipar. Emmm… kata mbak Rien lagi, selama beliau 4 tahun tinggal di S’pore belum pernah menemukan yang namanya listrik padam. Whuaaa… ngiriiii.. Karena baru satu hari saya mendarat kembali di bumi Kalimantan tercinta ini, listrik padam sudah menyapa dengan sangat mesranya.

 

Kuasai cara penggunaan MRT dan jalan2 lah sepuasnya di S’pore.

Dari hasil googling… (Googling muluuu….) saya dapati info kalau moda transportasi yang bisa digunakan dengan asyik itu MRT atau Mass Rapid Transit. Semacam kereta bawah tanah gitu deh. Walau banyak mengantongi info dari hasil googling tapi tetap saja.. pada awalnya bingung banget gimana caranya naik MRT itu. Awalnya syusah bener, bertanya sana sini sampai akhirnya kami berhasil naik MRT. Tapi setelah bertemu mbak Rien dan dijelaskan beliau seluk beluk MRT, cara penggunaan, membaca peta MRT dan juga bagaimana mengambil deposit dengan cara mengembalikan tiket MRT itu kami jadi ketagihan dan udah lihai bener naik MRT. Wkwkwk….

 

Oya, katanya naik MRT itu ini juga ada kekurangannya, karena lewatnya di bawah tanah jadi kita ga bisa melihat pemandangan kota S’pore. Tak apa yang penting cepat nyampai dan juga naik MRT sama saja seperti berwisata buat sy. Eh, beneran cepat ya? Iyaaa… cepat bener. Dari satu MRT ke MRT selanjutnya juga cepat datangnya. Masuk dan keluar MRT juga harus dilakukan cepat. Tapi emang tabiat orang S’pore yang serba cepat gitu ya.

 

Oya, satu lagi hal penting yang mesti diketahui. Kalau kita mau naik MRT, sebelum masuk kita berdiri di samping dulu. Dahulukan mereka yang keluar, setelah yang keluar udah abis, baru deh yang mau masuk bisa masuk. Jangan asal serobot. Kata mbak Rien, kalau yang main serobot, ketahuan kalau dia turis. Dan biasanya dari Indonesia. Ups.

 

Saya juga kemudian berkhayal2 ria, kalau MRT ada di daerah saya. Yah, ga perlu sampai Banjarmasin, cukup di seputaran Benua Lima Enam aja. Maka kalau saya mau ke rumah nini di Ilung tinggal naik MRT aja. Huahaha…

 

Universal Studio

Universal Studio seperti menjadi menu utama dalam hadiah liburan ini. Sebelumnya, saya mana tau apaan itu Universal Studio. Dan lagi-lagi saya bertandang ke mbah Google menanyakan apa sih mbah Universal Studio itu. Dan dijawab sama Om Wiki, yang katanya Universal Studios Singapore dibuka pada bulan Januari 2010, merupakan wahana bermain Universal Studios yang pertama kali dibuka di wilayah Asia Tenggara, dan merupakan yang kedua di wilayah Asia setelah Universal Studios Japan. Taman bermain bertema film-film terkenal Hollywood produksi Universal Studios ini berlokasi di Pulau Sentosa, Singapura.

 

Awal kedatangan kami sudah diberikan tiket masuk Universal Studio dan nginapnya juga di Pulau Sentosa, jadi Cuma jalan kaki aja ke Universal. Kami bebas masuk kapan aja di sana selama 3 hari itu, tapi disarankan mas Guide masuk sana hari kedua, karena itu hari yang full kami berada di S’pore. Dan kami pun memang ke sana di hari kedua. Ada apa di sana yanti? Huwaaaa…. Banyak bener tempat buat bernarsis ria. Wkwkwk… banyak bangunan atau objek menarik gitu deh. Katanya bangunan2 yang ada di sana yang ada di zaman klasik, tahun 50an gitu deh. Dan semuanya keren abis.

 

Tapi, berdasarkan tips dari (lagi-lagi) mbak Rien dan suami, foto2nya nanti aja, masuki dulu apa yang bisa dimasuki. Kalau kesiangan antrinya bisa panjaaaang bener. Dan beneran. Kalau udah rada siang, antrinya ga nahan.. Tapiii… foto2 nanti juga ga efektif, karena capek udah ga semangat foto2. hehehe….

 

Ga semua wahana sih kami jejal di Universal. Mungkin karena tiket gratis kali ya jadi ga ngoyo amat nyoba semua atraksi. Hehehe… Tapiii.. dari yang sedikit kami coba itu benar2 mengesankan. Kereeeennn deh. Salah satu yang layak dicoba Jurrasic Park. Awalnya sih biasa aja yaaa… kita diminta naik sekoci dengan posisi melingkar, trus ngelewatin sungai dengan pemandangan ada dinosaurus dan kawan2 gitu. Terkadang melewati arus yang lambat, tapi ada juga arus deras yang bikin histeris. Asyiiik juga.. Nah, kejutan ada di akhir. Kita akan melewati sebuah lorong gelap, gelap dan gelap.. berdebar2 menunggu apaan yang akan terjadi di sana. Dan kemudian.. Huwwaaaaa……… Sebuah kejutan sukses membuat jantung saya berdegup sangat kencang. Kaget dan histeris. Tapi Seruu… apaan sih yan? Ga seru ah kalau saya ceritakan. Untungnya itu kejutan yang saya benar2 ga tau bakal kayak gitu, kalau tau udah dari awal saya mundur teratur menjejal wahana itu.

 

Jadi, sebuah kejutan terkadang bisa membuat kita melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin atau tidak berani kita lakukan.

 

Saya juga sempat nonton pertunjukan Shrek 4D. 4D? iya katanya 4D itu film 3D yang memakai efek simulator dan lain-lain. Angin berhembus berasa, terguncang2 waktu Shrek naik kereta, juga pas ada yang bersin.. upss.. ada muncratan air yang mengenai wajah kita. Sewaktu ada pasukan laba-laba.. kyaaaaa… kaki kita juga merasakan serangan laba-laba itu. Tapi seruuu… ^^

 

Sempat juga melihat pertunjukan “Lights, Camera, Action!” yang dipandu oleh Steven Spielberg (rekaman aja. Bukan Om Stevennya datang langsung). Pertunjukan ini menyajikan simulasi syuting adegan kota New York dihantam badai. Singkat sekali pertunjukan ini tapi benar2 mengesankan. Terbukti dengan gemuruh tepuk tangan penonton begitu pertunjukan selesai.

 

Song of the Sea

Dari beberapa hasil googling saya menunjukkan kalau Song of the sea adalah pertunjukan yang sangat sayang untuk dilewatkan kalau ke Pulau Tumasik. Apalagi karena saya menginap di Pulau Sentosa dan bertebaran iklan tentang song of the sea sehingga membuat saya dan Icha ngotot pengin nonton.

 

Karena benar2 ga tau di mana letak pertunjukan song of the sea itu maka kami pun bertanya ke sana ke mari. Pertama pada petugas yang jaga monorail. Kami diarahkan untuk naik monorail dan turun di stasiun terakhir di Pulau Sentosa, Beach Station. Dari sana bertanya lagi, ke mana beli tiketnya? Tiketnya seharga 10 dolar. Setelah dapat tiket nanya lagi, di mana pertunjukannya? Hehehe… intinyaa.. banyaklah bertanya supaya ga bingung. Dan pada akhirnya ketemu juga. Yang nonton banyak bener. Saya jadi ikut berdebar-debar seperti apa sih song of the sea itu.

 

Ceritanya sih sebenarnya sederhana.. tapiii… gabungan teknologi laser, air mancur dari air laut juga ada semprotan api membuat pertunjukan ini sangat menarik. Waktu ada semprotan api itu, hangatnya terasa sampai ke bangku penonton.

 

Kopdar dengan mbak Febi

Nama Yudith Fabiola saya kenal sejak membaca satu buku mbak Asma Nadia, di mana ada tulisan beliau di sana. Memiliki rumah di Multiply membuat saya bisa sedikit lebih mengenal beliau dan bisa sok akrab dengan berkomen2 ria di postingan beliau. Begitupun juga ketika kami berteman di facebook. Saya merasa tersanjung sewaktu ada lomba menulis tentang teman maya yang klik, mbak Febi menulis tentang saya, bersanding berdua dengan ka Antung. Whuaaaa… sebenarnya saya yang ngefans sama mbak Febi lho ^^

 

Ketika rencana ke S’pore ini ada, maka yang pertama saya kasih tau ya mbak Febi ini, padahal waktu itu masih maju mundur rencananya. Kami pun merencanakan buat kopdar. Sempat bingung juga menentukan waktu dan tempat buat kopdar kami. Karena saya masih buta dengan yang namanya S’pore. Singkat ceritaaa.. kami akhirnya janjian ketemu di mesjid Al-Falah di Orchard. Tapi rencana itu gagal dan mbak Febi memutuskan buat menyusul ke hotel tempat saya menginap. Dan tradaaa… ketika maya mewujud jadi nyata, saya berhasil kopdar dengan mbak Febi, kopdar pertama dengan teman maya di luar negeri. Hehehe…  Hayo siapa selanjutnya?

 

Walau kopdar ini terasa singkat banget tapi mengesankan. Senang bisa bertemu dengan mbak Febi yang cantik. Juga sama mbak Nida dan mas Aufal.

 

Btw, mbak Febi menghadiahkan anggur segar buat saya. Anggurnya pun sampai ke Barabai saya tercinta. Mama saya nanya, “berapa harga anggur di S’pore?” saya pun menjawab. “Ga beli ma. Itu dikasih sama teman waktu ketemu di S’pore kemarin.”

“Teman? Di S’pore? Emang punya teman di sana?” Hehehe.. mama kaget. Beliau ga tau kalau anaknya punya banyak teman di berbagai pelosok dunia. :)))

 

Udahan ah, udah panjang bener. Kesimpulannya apa ya?

S’pore emang keren abis.. Tapi gemerlapnya S’pore tetap tidak bisa mengikis cinta saya akan negeri tercinta ini. Juga kampung halaman Barabai saya tercinta. Hehehe….

 

Sewaktu rencana ke S’pore ini tersebar di keluarga kami, ada anggota keluarga yang udah pernah ke S’pore bilang kayak gini, “Negaranya bagus. Bersih, rapi. Tapi mungkin karena saya udah tua kali ya, jadi tetap jauh lebih berkesan waktu ke Tanah Suci dibandingkan ke S’pore.” Dan saya sangat sepakat sekali dengan beliau walaupun masih muda. Wkwkwkwk…. Jauuuh lebih berkesan saat pandangan mata kita berkabut karena haru saat menatap Baitullah.. dan sensasi rasanya jauuuh lebih memukau saat kita menyentuh Raudah di Mesjid Nabawi. So, yang punya mimpi keliling dunia, yuks.. kita sematkan mimpi yang paling utama untuk ke Tanah Suci dulu.

 

*had been posted at Mp ‘n FB on 250511*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s