Menjejak Pulau Tumasik (Part 1)

Awal bermula

Singapura. Negera yang dekat sekali dengan Indonesia, tapi entah kenapa jauh dari angan saya untuk bisa pergi ke sana. Dulu saya pernah bikin list, negara mana saja yang ingin saya datangi dan Singapura tak ada dari daftar saya itu. Kenapa? Entah. Kalau dibilang terlalu dekat ga juga, toh Malaysia masuk di daftar itu. Atau karena Singapura terlalu kecil? Dulu saya pernah baca kalau semua penduduk Indonesia buang air kecil dan disalurkan ke Singapura sana maka blep.. blep.. blep.. Singapura bakal tenggelam.

Bridgestone “The Ultimate Family Holiday”, yah itulah yang kemudian mengantarkan langkah saya ke Singapore. Apa sih itu? Itu adalah semacam promo berhadiah dalam rangka yah promo ban mobil yang bernama Bridgestone. Kalau kita beli 2 ban dengan tipe yang sudah ditentukan, maka akan dapat 1 formulir dan kemudian dari formulir yang terkumpul, dicarilah para pemenang. Tentu saja itu buat pembeli, bukan pedagang seperti kami. Terkadang ada pembeli yang malas buat ngisi, ada juga yang mesti kami bujuk dulu, dengan iming-iming, “siapa tahu bisa ke Singapore, kan lumayan.” Walaupun terasa jauh semua itu bisa mewujud jadi nyata.

Suatu hari, saya masih ingat itu Hari Jum’at, saya menemukan sebuah surat di meja. Saya pun membacanya dan terbelalak kaget, itu adalah surat pemberitahuan kalau salah satu pelanggan kami yang menang promo itu, ke Singapore euy… Dan di samping saya kakak sedang sibuk dengan hapenya.

“Ini beneran kak?” Tanya saya.

“Mau dicek dulu. Beneran atau penipuan,” jawab si kakak dengan hape di tangan. Soalna kan biasa tuh ada penipuan dengan kedok macam gitu. Singkat cerita ternyata benar. Pemberitahuan itu asli dan ada tour 3 hari 2 malam di Singapore.

“Aku diajak juga lho,” kata si kakak sumringah. Karena saya tahu kalau hadiah itu untuk 4 orang, maka saya pun menawarkan diri buat ikutan. Asumsi saya waktu itu, kalau si pelanggan berangkat sama istrinya, kan ada 2 tiket lagi tuh. Yang satu kakak, yang satunya lagi kan bisa buat saya. Wakakak, penyuka gratisan beraksi.

Bayang Singapore pun bermain-main di pelupuk mata saya. Tanpa pikir panjang, saya juga langsung minta izin ke abah dan mama, izin mereka mutlak harus saya kantongi dulu sebelum bepergian. Dan ajaibnya, mama abah yang biasanya syusah bener ngasih izin kali ini malah izin langsung keluar, tanpa harus ada lobi atau rayuan maut dulu keluar. Wow.. senangnyaaaaa…

Tapiii… mendadak saya dilanda muram lagi, dengan tegas si kakak bilang kalau dia ga mau mengajak saya, tapi pengin berangkat dengan temannya aja. Whuaaa…impian saya ke Singapore buyar. Gegas saya membelai hati saya, ‘tak apa yanti, jangan sedih.. toh kamu masih bisa jalan-jalan ke S’pore lewat mbah Google.’ Gedubrak!

Eits, cerita belum berakhir, ternyata si pemenang (langganan kami itu) menyerahkan sepenuhnya hadiah itu ke kami. Karena kataya ribet mesti ngurus paspor sendiri dan tiket ke Jakarta juga ditanggung sendiri. Yang gratis ya Ke Singaporenya aja. Harapan saya kembali muncul. Siapa tahu kakak mau mengajak saya ikut serta, kan sekarang tiket gratis bukan untuk 2 orang lagi, tapi empat euy.

Ternyata sama saja, meskipun begitu si kakak tetap pengin pergi sama teman-temannya aja. Hiks. Menyerahkah saya? Tidak.. hahaha… saya pun kemudian mengerahkan segenap kemampuan mempengaruhi saya agar si kakak berubah pikiran. Sanguinis beraksi. Didukung penuh oleh mama dan kakak ipar saya yang ikutan melobi dan tradaaa… dia mengangguk setuju dan saya pun segera menyiapkan berkas buat bikin paspor. Eitss.. bukannya udah punya? Belooom.. dulu baru punya paspor coklat yang sekali pakai udah kadaluarsa. Sekarang ngurus paspor hijau. Pintu buat saya keliling dunia. Aamiiiin…….

Hemmm…. Cerita yang lainnya di skip aja ya. Soalna ada banyak kejadian yang membuat maju mundurnya rencana ke Singapore ini. Kalau diceritakan kepanjangaaan, bisa jadi satu buku. Intinyaaa… pada tanggal 15 Mei 2011, mendaratlah saya untuk pertama kalinya di Pulau Tumasik. Teman yang ada di kursi sebelah saya langsung nyelutuk, “Ayo mbak.. pasang status kalau udah di S’pore.” Wkwkwk….

Hal-hal yang tidak menyenangkan di S’pore…

Bingung deh menceritakan dari mana saja, jadi yah dimulai dari yang tidak menyenangkan saja dulu yaa…

Susah dapat makanan halal.

Kalau dibanding negara2 lain yang muslimnya minoritas banget, mungkin S’pore rada mendingan yah, tapi tetap saja buat saya yang kelilingnya cuman di kampung dan pedesaan bumi Hulu Sungat Tengah terdjintah dan Kalimantan Selatan tersayang nyari makanan halal di sana syusah.

Beberapa hari sebelum berangkat malah tiba-tiba ada pikiran yang menyeruak, bagaimana dengan makanan di pesawat? Dalam itinerary yang disampaikan ke kami, kalau terbang ke S’porenya menggunakan S’pore airlines.. duuuh… saya jadi kepikiran, halal ga ya makanan dalam pesawat. Emang sih ini bukan kali pertama saya terbang dengan maskapai asing, tapi dulu, ga ada keraguan sedikit pun atau karena saya ga hati-hati ya. Mungkin karena dulu terbangnya dengan Emirats, Emirats kan milik Uni Emirats Arab. Arab = Islam = Halal. Hahaha… pemikiran yang sederhana sekali :p

Nah, bagaimana dengan S’pore airlines ini? Maka saya pun googling terkait hal ini. Dan hasil googling saya menemukan artikel seperti ini “S’pore airlines menyediakan makanan halal selama Ramadhan”. What??? Emangnya kita butuh makanan halal Cuma Ramadhan doang? Saya jadi ingat pernah nonton di mana gituu, ada seorang muslim yang disuruh teman2nya menengak minuman keras, dia bilang ga mau, itu haram. Trus kata teman2nya.. “tenang aja lah, Ramadhan masih lama,” huhuhu… padahal yang haram2 kan haramnya ga di Ramadhan aja. Tapi setiap saat, setiap waktu kan ya.

Tak berhenti sampai di situ, saya pun menelusuri beberapa artikel yang lain dan juga bertanya pada mbak Febi. Hasilnya? Kata mbak Febi insyaAllah halal, tapi lebih baik request Moslem meal aja. Dan dari artikel yang lain menyebutkan kalau makanan halal bisa direquest 24 jam sebelum penerbangan. Maka saya pun menyampaikan hal ini ke kakak ipar untuk disampaikan ke pihak travel. Sesampainya di pesawat, saya masih ragu aja dan akhirnya bertanya ke pramugarinya dan dengan mantapnya si pramugari bilang “Semua makanan yang ada di sini Halal.” Alhamdulillah🙂

Di pesawat selesai, sekarang di bumi Pulau Tumasik. Oh ya, saya belum cerita kalau ternyataa, fasilitas yang kami dapatkan selama di sana tidak termasuk makan siang dan makan malam. Yang gratis cuman makan pagi doang. Olalaaa…. Makanya saya pun akhirnya googling lagi makanan halal dan murah. Dan juga persiapan dari tanah air. Bawa Pop Mie dan kue juga cemilan. Wkwkwk… Hari pertama, pop mie pun langsung disantap, karena masih buta dengan S’pore, jadi sebelum jalan makan pop mie dulu. Malamnya kami makan di Ayam Goreng President di Lucky Plaza. Tsaaaaahhhh!!! Jauh2 ke S’pore makan ayam President??? Itu mah di Banjarbaru juga ada bo… yah, mau gimana lagiii.. namanya juga cari yang halal.

Pas sarapan, karena dapat sarapan gratis dari hotel saya dan keluarga pun melangkah mantap ke restoran di hotel itu. Wessss…. Hidangannya benar-benar menggugah selera. Eits, sebelum mengambil hidangan saya bertanya ke petugas di sana, “Apa makanan di sini halal?” dan dengan wajah penuh penyesalan dia berkata “I’m sorry, non halal,” dan kembali lah. Di pagi yang ceria itu menu sarapan kami adalah POP MIE. So, buat yang pengin ke S’pore, jangan lupa bawa Pop Mie atau Super Bubur. Iklan banget :p

Makan selanjutnya lebih banyak di Vivocity, kalau kita menyebrang pakai monorail dari Pulau Sentosa kan stationnya di VivoCity. Nah di lantai B2 di sana ada foodcourt yang bernama Banquet, saya tau info ini berdasarkan hasil googling, wkwkwk… thanks mbah google. Di foodcourt di vivocity ini ada 2 bagian, yang satu khusus makanan halal ya yang namanya Banquet tadi, yang satu lagi, entah apa namanya yang non halal. Dan di sana, saya menuju stan masakan padang. Wkwkwk… jauh2 ke S’pore makan nasi padang. Tapi nasi goreng Pattaya enak lho, entah beneran enak atau karena saya lapar berat.

Btw, tentang Nasi Goreng Pattaya, ingat cerita di KCB ga? Sewaktu Azzam mengantarkan barang-barang Anna dari Mesir kan disuguhkan Nasi Goreng Pattaya ini, jadi katanya nasi goreng Pattaya itu nasinya dibungkus sama telur dadar. Tapi kalau yang saya makan di Banquet ini sih bukan dibungkus, tapi di selimuti. Hehehe… soalna dulu pernah menyantap nasi goreng bungkus di mana Nasi gorengnya benar2 dibungkus sama telur dadar. Hasilnya? Kenyang makan telur dadarnya. Hihihihi….

Oya, bagaimana dengan roti atau kue? Hemm… saya tetap ga berani melahapnya. Malam pertama di S’pore jalan-jalan dengan mbak Rien (teman kost kakak ipar saya yang berdomisili di S’pore), mbak Rien bilang ga berani makan makanan sekalipun roti yang ga ada logo Halalnya. Jadinyaa.. saya ikutan ga berani.

Toiletnya ga asyik.

Wkwkwk… judulnya ga banget deh. Oke, saya cerita dulu ya, pertama masuk kamar hotel. Huwaaaa… kami segerombolan urang kampung ini langsung terpesona dengan hotelnya yang emang bagus bener. Viewnya gedung bertingkat dengan arsitektur yang keren abis. Eh.. kelihatan Merlion lagi yang katanya Merlion di Pulau Sentosa itu yang paling gede di Singapore sana. Bakat narsis dan eksis pun tersalurkan, sebelum kamar diacak2 dan masih rapi jali, kita berfoto2 dulu. Masih asyik foto2 dan bongkar2 apa saja yang ada di kamar hotel itu, kemudian terdengar teriakan histeris dari kamar mandi. Ups.. ada apaan siiih? Masa di kamar bagus kayak gini ada kecoa? Kayakna ga mungkin deh.

Dan ternyataaaa… yang teriak itu shock melihat toiletnya yang ga ada kran air, ember, shower atau apapun yang buat cebokan gitu. Hihihi… Yang ada cuman tissue. Ga masalah kali buat orang kota, tapi yang namanya orang kampung, shock juga melihat kondisi demikian. Cebokannya gimana dong? Di mana bisa beli ember dan gayung atau pipa buat menyalurkan air?

Pemutaran otak buat berpikir pun terjadi. Melirik ke sana ke mari apa yang bisa dijadikan ‘alat’. Dan tradaaaa….. pandangan jatuh ke tempat sampah yang abis dibersihkan bisa berfungsi jadi ember. Gayungnya? Mikir lagi… lihat ke sana ke mari lagi.. eh, ada gelas buat gosok gigi dekat wastafel, tapi terlalu kecil euy, jadi apaan dunk? Pandangan jatuh ke gelas pop mie yang isinya tandas berpindah ke perut. Dan jadilah bekas gelas pop mie itu yang jadi gayung. Tsaaaah…. Urang kampung masuk Singapur :p

Yang bikin kami heran, besoknya waktu kamar kami dibersihkan sama petugas hotel, sementara kami ga ada di kamar, ember dan gayung versi kami itu ga disentuh sama petugas hotel. Mungkin mereka mengerti kali yaaa… ada urang kampung yang masuk hotel bintang :p

Oya, toilet yang begituan juga ada di seantero Singapura. Tapi mungkin di antara deret toilet kaya gitu, ada terselip toilet yang ada airnya, karena waktu di Changi, petugas di sana nanya ke saya kayak gini, “mau masuk ke sini?” setelah saya melongok ke dalamnya… yay… ada shower airnya bo. Senangnyaa….

Tadinya saya kira ini cuman masalah saya dan keluarga aja, ternyata ada yang komen di status saya kalau ini juga bagian yang tidak menyenangkan di S’pore *melirik miss DSN*

Susah nyari tempat Shalat

Ini termasuk yang pertama kali saya cari tau juga tanyakan ke mbak Febi🙂

Dan emang tidak semudah mencari tempat shalat seperti di Tanah Air ya, saya jadi ingat kampus biru tercinta yang mushallanya ada dua, ga jauh2 amat lagi antara keduanya. Sementara di S’pore? Toloooong…

Tapi kerennya, di Universal Studio ada tempat shalat. Berdasarkan hasil googling, saya mendapatkan info kalau di USS ada ruang shalat di dekat pintu masuk. Atapnya tenda biru, satu lokasi dengan lost & found / annual pass. Nah, kami pun mencari tempat yang dimaksud. Pas sampai ke situ, celingak celinguk tapi kok ga ada terlihat praying roomnya ya? Di mana sih? Eh, di sela kebingungan kami petugas di sana menyapa dan menanyakan apa kami mencari praying room? Haiyaaa… mungkin karena kami jilbaban kali ya jadi langsung ditanya. Petugas di sana pun menunjuk ke sebuah pintu yang di balik pintu itu ada ruangan buat kita shalat, mukenanya juga tersedia. Waktu mau wudhu, petugasnya pun langsung mempersilakan kami buat berwudhu di wastafel buat anak kecil, jadinya di sana lebih nyaman buat mencuci kaki.

Hal ini berbeda dengan hotel tempat kami menginap. Karena kami harus sudah angkat kaki dari kamar yang nyaman itu jam 12 siang, sementara jemputan baru datang jam 2, saya pun bertanya pada petugas hotelnya di mana saya bisa shalat? Sengaja saya tidak bertanya di mana Mushalla atau praying room, tapi tempat di mana saya bisa shalat, dan petugasnya menggeleng lemah. Tidak ada tempat. Huwaaaa.. masa sih ga ada tempat? Saya ga mau menyerah.. akhirnya bilang ke Icha, “Cha, kita cari tempat yang agak tersembunyi yuk. Di mana aja asal bisa shalat.” Icha setuju dan kami pun mencari tempat. Ketemu? Alhamdulillah ada.

Tapi sewaktu udah selesai, dan ketemu sama kakak dan kakak ipar. Olalaaa… ternyata waktu dzuhur belum masuk. Padahal udah jam satu lewat. Huhuhu…. Saya kelewatan googling waktu shalat di S’pore. Merasa perlu diyakinkan lagi, saya sms mbak Febi bertanya jam berapa waktu Dzuhur, mbak Febi bilang jam setengah dua. Huwaaaa… itu artinya saya shalat sebelum waktu dzuhur masuk. Dan saya pun kembali bergerilya mencari tempat shalat di Changi. Ada? Kalau diada2kan ya ada. Hehehe….

Minim Bahan.

Duuu.. malas cerita mendetail tentang ini. Tapi bisa tebak sendiri aja ya.. setelah saya amati foto2 yang saya ambil, ternyata bagian minim bahan ini juga ikut ada terlihat.

Karena udah panjang bener.. bersambung aja yaaa……

*had been posted at Mp ‘n FB on 250511*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s