Masih ada hati bicara – Triani Retno

Baru baca buku.. eh.. novel.. yang judulnya Masih ada hati bicara, karya dari mbak Triani Retno. Hufff… akhirnyaa.. bisa juga saya baca karya fiksinya mbak Triani Retno. Soalna saya terpesona dengan tulisan non fiksi beliau, jadi penasaran bagaimana tulisan fiksi beliau? eh, ternyata sama aja. Tetap memesona

 

MAHB bercerita tentang Amanda, seorang mantan pecandu narkoba yang mencoba bangkit dan melupakan masa lalunya. Amanda pun hijrah dari Jakarta ke Bandung, untuk memulai sebuah kehidupan baru. Di Bandung, Amanda bergabung dengan Mitra Hati, sebuah lembaga anti narkoba. Manda bergabung di sana buat menebus dosa, karena selama ini dia tidak hanya menjadi pemakai, tapi juga sempat menjadi pengedar.

 

Tapiii… si Manda ini menyembunyikan masa lalunya. Dia ga terbuka ke orang2. Dan itu kemudian menjadi masalah gitu buat Manda setelah orang2 tau tentang masa lalu si Manda. Manda tidak siap untuk jujur.

 

Jadi ingat status teman saya yang bunyinya kayak gini :  jujur itu sulit di awal,namun mendamaikan di akhir.

 

***

 

Membacanya.. sy jadi mikir, apa begitu ya tanggapan, persepsi orang2 tertentu terhadap para mantan pengguna. Heran juga saya… malah yang bergelut di lembaga anti narkoba jadi antipati gitu juga begitu tahu tentang Manda. Apa karena Manda menyembunyikan masa lalunya? Saya pikir Manda berhak untuk itu. Tapi ya gitu deh.. orang2 memang sering berbeda penyikapan untuk berbagai masalah.

 

Saat membacanya.. sy jadi ingat sama satu lagu, yang dulu sering kakak saya putar. Daaan… sy suka liriknya hingga bilang ke kakak saya “liriknya bagus kak.”

“Iya, itu lagunya buat para mantan pecandu narkoba.”

Makanya lagunya jadi passs banget jadi OST novel ini

 

Lagu apaan sih yan? Usah Kau Lara Sendiri nya Katon Bagaskara sama Ruth Sahanaya. Nih liriknya :

 

kulihat mendung menghalangi pancaran wajahmu

tak terbiasa kudapati terdiam mendura

apa gerangan bergemuruh di ruang benakmu

sekilas kilau mata ingin berbagi cerita

 

kudatang sahabat bagi jiwa

saat batin merintih

usah kau lara sendiri

masih ada asa tersisa …

 

letakkanlah tanganmu di atas bahuku

biar terbagi beban itu dan tegar dirimu

di depan sana cahya kecil ‘tuk memandu

tak hilang arah kita berjalan

… menghadapinya …

 

sekali sempat kau mengeluh kuatkah bertahan

satu persatu jalinan kawan beranjak menjauh

 

letakkanlah tanganmu di atas bahuku

biar terbagi beban itu dan tegar dirimu

di depan sana cahya kecil ‘tuk membantu

tak hilang arah kita berjalan

… menghadapinya …

(usah kau simpan lara sendiri)

 

*diposkan di MP dan FB : 260611*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s