Karena Senja memang tak pernah berjodoh dengan Fajar…

Saya jadi teringat kejadian beberapa waktu kemarin. Saat HSWC, salah satu komunitas menulis di FB yang digawangi oleh ka Fitri dan mbak Luluk mengadakan sebuah lomba cerpen lintas benua dan kemudian ketika awal diumumkan banyak sekali pro kontra yang terdengar. Kontranya malah banyak dari orang2 yang berkecimpung lama di dunia kepenulisan.

 

Hal yang membuat mereka kontra adalah tentang aturan lomba. Di mana, dalam aturan lomba tersebut, awal dan ending dari cerpen itu sudah ditentukan oleh panitia. Artinya pesertanya ‘hanya’ diminta membangun cerita di bagian tengah. Kata mereka yang kontra.. cerpen seperti itu tidak akan menarik. Karena biasanya kita mendapatkan kejutan di ending.. dan akan terasa membosankan bagi pembaca jika sudah bisa menebak endingnya bagaimana. Kata kasarnya.. Apa menariknya sebuah cerpen jika kita sudah tau ke mana cerita akan berakhir? Dan bagi yang menulis pun tidak ada tantangan. Karena sudah diatur endingnya harus begini dan begini.

 

Begitu kah? Terkadang memang begitu. Kalau ending udah bisa ditebak, kita jadi jenuh. Tapi bagi sy terkadang malah sebaliknya. Sy bangga jika bisa menebak endingnya. Hihihi….

 

Ah… sudahlah basa basinya. Sekarang inti cerita… sy hari ini betul2 terpesona oleh sebuah cerpen mbak Asma Nadia dalam buku kumcer beliau Emak ingin Naik Haji. Melihat judulnya.. sy udah nebak.. endingnya pasti kayak gini.. Karena itulah cerpen tersebut termasuk yang terakhir sy baca.

 

Cerpen tersebut berjudul ‘Cinta Begitu Senja’ dengan kalimat pembuka : Tidak ada yang tahu kapan persisnya Fajar mencintai Senja. Ergghh… begitu membaca kalimat pembuka saja dan begitu tahu kalau nama tokoh utama di cerpen itu Fajar dan Senja, sy udah bisa nebak.. kalau mereka itu ya jelas tidak berjodoh. Hayoo.. kapan Fajar bisa bertemu dengan Senja??? Ga pernah kan? Jadinya… ya endingnya pasti lah cinta mereka tidak akan berujung bahagia. Karena udah tau endingnya.. sy jadi malas bacanya (padahal karena semangat baca lagi turun).

 

Tapi toh, pada akhirnya saya terpukau sendiri ketika membacanya. Kenapa? Cara mbak Asma Nadia membangun cerita sungguh membuat sy kagum. Jalinan cerita yang apik, konflik yang meliuk-liuk, geregetan dengan dua orang yang sebenarnya saling mencintai tapi hanya menyampaikannya dengan diam hingga bagaimana melambungkan harapan pembaca.. yang sempat mengira pada akhirnya Senja memang dengan Fajar. Tapi kemudian mbak Asma menghempaskan itu semua. Senja memang tidak pernah berjodoh dengan Fajar.

 

Nah, kalau sudah begini.. harus sy akui.. Ending yang bisa ditebak oleh pembaca tak selamanya akan mengurangi kenikmatan ketika membacanya. Yang tidak kalah pentingnya juga bagaimana cerita itu dibangun. Bagaimana dengan ending yang sudah bisa ditebak, pembaca tetap merasa puas dengan tulisan tersebut.

 

 

“Sesuatu yang terlambat, mungkin memang tidak perlu dimulai.”

“Perempuan bukan tempat yang terbuka dalam membicarakan perasaan.”

(Dari Cerpen ‘Cinta Begitu Senja’ dalam KUMCER “Emak Ingin Naik Haji” – Asma Nadia)

 

 

*hanya sebuah curahan hati seorang pembaca*

 

*had been posted at Mp ‘n FB on 210311*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s