Jilbab Traveler (review gado-gado)

Telah lama saya mengetahui tentang buku ini, tapi tak juga tertarik untuk memilikinya. Mungkin karena saya merasa bukan orang yang suka atau punya kesempatan buat traveling. Jadinya yaa.. buku ini tidak saya butuhkan.

Keinginan untuk memiliki buku ini sempat ada ketika mbak Asma mempromosikan buku ini dengan mengatakan buku ini bukan hanya mengupas tentang traveling tapi juga perwujudan sebuah mimpi. Ow.. ow.. itu sih saya banget. Betapa banyak mimpi2 yang ingin sy wujudkan🙂

Tapi promo itu juga tak membuat sy langsung memburu buku ini. Di kemudian hari sy mendapat list beberapa buku yang bisa saya jadikan referensi untuk mewujudkan satu proyek mimpi saya, dan hal itulah yang kemudian membuat sy benar2 meraih buku ini dan membawanya ke kasir.

Mimpi yang berawal dari pintu kulkas

Itulah yang menjadi tulisan pembuka di buku ini. Yah, mbak Asma betul.. buku ini juga mengupas tentang perwujudan mimpi. Di mana di sana diceritakan bagaimana mimpi mbak Asma yang berawal dari pintu kulkas. Mimpi yang seakan jauuuh sekali dari bayang-bayang mewujud menjadi nyata, toh pada akhirnya dengan kuasaNya terwujud juga. Mimpi apa? keliling dunia. Kenapa dari pintu kulkas? Karena mbak Asma melihat kulkas yang bertabur dengan magnit souvenir dari berbagai negara, yang membuat keinginan untuk keliling dunia itu jadi ada.

Karena itulah, waktu kemarin sy menemukan magnit souvenir ini sy juga membeli beberapa buah. Siapa tahu ada yang mau bermimpi dari situ..hehehe…

Banyak tips keren

Dalam beduk La Tahzan for Jomblo yang diisi mbak Asma Nadia di Banjarbaru beberapa bulan yang lalu, mbak Asma sempat menceritakan sedikit tentang buku ini. Bagaimana ketika beliau melihat seorang cewek bule dengan celana pendek dan baju tanktop membawa tas punggung. Kelihatannya simpel banget kan… tas punggung mereka bisa muat pakaian buat beberapa hari.

Bagaimana dengan muslimah? Lebih ribet kah? karena harus membawa semua pakaian dari ujung kaki sampai ujung rambut. Belum lagi peniti buat jilbab, manset, ciput, mukena dll. Tapi di buku ini ada tips buat mengatur apa saja yang mesti kita bawa biar efektif dan efisien. Tidak hanya tips packing, saya juga membaca semua tips yang ada di buku ini. Alhamdulillah, saya terbantu dengan tips-tips itu🙂

Teman satu kendaraan

Ada bagian di buku ini yang membuat saya terkekeh, tentang bagaimana mbak Asma menebak-nebak siapa yang akan menjadi teman yang duduk di sebelah beliau selama dalam perjalanan. Kata mbak Asma hal itu bisa melahirkan imajinasi untuk keperluan menulis. Bagaimana dengan saya? karena hampir tak pernah bepergian sendiri maka saya sudah bisa menebak kalau yang duduk di samping saya ya paling keluarga saya. Tapi dalam perjalanan saya kemarin, ow.. ow… seat di boarding pass saya menunjukkan kalau saya terpisah duduk dari 3 anggota keluarga yang lain (kami pergi berempat), saya sih belum teringat cerita mbak Asma di buku itu.

Ingatan saya tentang cerita mbak Asma itu mulai menyentuh ruang pikir saya ketika seseorang menyapa saya dan berkata dengan sopan, “permisi mbak,” dia menunjuk kursi di sebelah saya. Saya langsung berdiri, memberi ruang buat dia bisa lewat dan duduk di kursinya. Siapa dia? Entah… hehehe… sebenarnya saya tidak terlalu ingin mengobrol selama perjalanan. Tapi di tengah perjalanan ketika makanan yang disajikan pramugari sudah habis dan saya lirik jam masih lama waktu mendarat, sy disergap bosan. Saya jadi teringat teman di sebalah saya duduk. Hemm… kenapa tidak mengajak dia ngobrol. Lumayan buat membunuh waktu dan siapa tahu bisa jadi inspirasi. hehe…. Lagipula saya lihat2 orangnya cukup ramah.

“Ke Singapore ngapain? Sekolah ya?” pertanyaan awal saya lontarkan. Saya jadi ingat kisah Tania di Daun yang jatuh tak pernah membenci angin.

“Iya mbak. Sekolah. Tapi cuman transit aja. Saya mau ke Manila,” jelasnya. Ow.. ow.. ini menarik.🙂

“Sekolah apa di Manila?”

“Pelayaran mbak, tapi ke Manila bukan sekolah sih cuman training aja. Buat dapat sertifikat untuk keperluan kerja.”

“Oya, kerja di mana?”

“Di kapal Jepang mbak. Jadi kerjanya ya berlayar dengan kapal itu. mbaknya dari mana?”

“Kalimantan,” jawab saya.

“Oya, kapal kami itu juga berlayar ke Kalimantan mbak. Ke Bontang.”

“Oh, itu mah di Kaltim. Saya di Kalsel.”

“Dekat kan mbak?”

“Jauh. Saya aja belum pernah ke Kaltim.”

“Hah? kok bisa? Kan masih Kalimantan juga?”

Jyaaah… dia pikir Kalimantan kecil apa.. :p

“Eh, emang ngapain kapalnya berlayar ke Bontang?”

“Ngangkut gas mbak, dari Bontang ke Jepang.”

Ow.. ow… bagian ini yang bikin sy rada gemes. Kenapa gitu ya hasil tambang bumi Kalimantan tercinta justru diangkut ke luar negeri.

“Mbaknya ngapain ke Singapore?”

“Liburan.. dapat hadiah pergi ke sana,” dan kemudian mengalirlah cerita saya kenapa saya bisa duduk di Singapore Airlines saat itu.

“Wow keren mbak. Universal Studio asyik lho mbak,” jawabnya.

“Oya? Udah pernah ke sana?”

 

“Iya. Tapi yang di Tokyo.”

“Seram ya?”

“Hemm… kalau ga berani naik halilintar di Dufan jangan coba-coba naik yang di Universal.”

Tsaaah…!!! Naik Poci-poci di Dufan juga bikin saya teriak2.. hahaha… Beraninya cuman Istana Boneka kalau di Dufan.:p

tapi Poci2 di Dufan lebih ngeri dibanding yang di Universal lho :))

“Di Singapore banyak makanan B*** lho mbak. Jadi hati2,” sy mengangguk. Untuk ke sekian kali ada yang mengingatkan saya tentang itu.

“Di Jepang juga kan?” tanya saya.

“Iya sih mbak. Saya biasanya bawa rendang. Tapi pernah mbak, waktu di kapal saya makan makanan yang ga halal itu. Yah, mau gimana lagi. Kokinya kena yang bukan muslim. Jadinya ya saya baca Bismallah aja. Kan kalau makanan ga halal tapi kita baca bismillah di awal jadinya halal. Iya kan mbak?”

Huwaaa…. sy asli bengong dan bingung mendapat pertanyaan seperti itu. Tidak mengiyakan juga bingung mau membantah. Saya jadi teringat di buku Jilbab Traveler ada kalimat seperti ini.

Sadar bahwa ayam-ayam itu dipotong tidak sebagaimana di tanah air, maka saya harus wanti-wanti mengingatkan diri untuk tidak lupa mengucapkan Bismillah dan berdoa sebelum makan.

Pertanyaannyaaa… Apakah cukup dengan membaca Bismillah makanan yang haram menjadi halal? Plis… beri saya jawaban.

Hohoho…. panjang bener sudah saya menulis. Dan tidak beraturan. Ups sorry… supaya ga ngelantur ke mana-mana, sampai sini dulu deh. Oya, terakhir, Kembali ke buku Jilbab Traveler, sy suka dengan tulisan Sitaresmi Sidharta. Wkwkwkwk… segar banget bacanya. Banyak bagian yang bikin saya ber hahaha hihihihi…. juga suka pada penutup yang disampaikan mbak Asma Nadia, perjalanan itu seharusnya mendekatkan bukan menjauhkan kita, padaNya.

 

*had been posted at Mp ‘n FB on 200511*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s