berlatih memaafkan

“Jadilah seorang pemaaf. Sebab, kebaikan maaf ternyata justru berpulang kepada diri kita, yaitu mengobati rasa sakit hati. Saya yakin, orang yang mudah memaafkan adalah orang yang hidupnya bahagia. Keinginan memaafkan takkan lahir kecuali dari hati yang bahagia.” JALALUDDIN RAKHMAT, Tafsir Kebahagiaan, h. 82

Kalimat pembuka pagi ini adalah sebuah status di FBnya pak Hernowo Hasim. hehehe….

Saya pernah dengar, entah lewat siapa.. kalau orang2 rela sekali untuk mengeluarkan uang yang banyak ketika fisiknya sakit. Tapi ketika hatinya sakit berapa rupiah yang mereka korbankan? PAdahal sakitnya hati itu lebih parah dari sakit fisik. Maksudnya sakit hati itu patah hati kah? Oh bukan… sakit hati itu ketika ada perasaan dendam, dengki, iri, sombong dan konco-konconya lah.

Karena itu semua kan pekerjaan hati. Mengendalikannya tentu lebih sulit dari mengendalikan yang ada di mulut atau tangan. Mulut mungkin mengingkari, tapi hati malah melakukan. Duhh… ynt kok ngomongnya ribet gini.

Entah, apa karena sy dalam kondisi diselubungi benci atau bagaimana.. tapi sekali lagi sy diingatkan oleh anak kecil. Terinspirasi dari mereka. Betapa mereka berpikir sangaaat sederhana. Ga ribet.

Tadi malam, adek2 sepupu sy bertengkar. Mereka berebut mainan yang kemudian berujung tangis di antara mereka. Ibu-ibu mereka pun turun tangan, berusaha membujuk, dan akhirnya mereka dipisahkan. Yang satu di bawa ke sana… yang satu lagi di bawa ke situ.. Tangisan mereka reda.

Yang sy salut, belum satu jam dari pertengkaran itu, mereka sudah bisa tertawa2 lagi, sudah bisa bermain2 lagi. Iiih.. pada nyadar ga sih kalau tadi bertengkar? Itulah anak kecil. Mereka tidak mendendam. Dan satu hal juga yang perlu dikondisikan, bagaimana orang tua mereka mengajarkan untuk tidak mendendam. Apa jadinya kalau misalkan orangtua mereka bilang “Jangan main-main sama dia lagi. Tadi dia mau ngerebut mainan kamu!” .. kalau kayak gitu.. si anak jadi terkondisikan dalam pikiran mereka.. kalau ‘teman main’nya itu jahat.

Lain halnya kalau orangtua bilang, “Nak, nanti jangan bertengkar lagi ya. Mainannya dimainkan sama-sama atau gantian kan bisa,” nah.. kalimat itu lebih bernilai positif kan. Hemm… kesimpulannya.. tentang hati memang harus dikondisikan sejak dini ya.. begitu pun tentang kebiasaan memaafkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s