MU vs Munchen (Champion 1999)

image

Beberapa hari yang lalu saya membaca Rantau 1 Muara. Buku ketiga dari trilogi Negeri 5 Menara. Buku ketiga ini adalah buku pamungkas, buku terakhir. Saya sudah lama menantikannya dan ingin menjawab pertanyaan besar yang muncul setelah membaca buku keduanya : Ranah 3 Warna.

Dalam salah satu bab di buku Rantau 1 Muara berjudul Setan Merah. Bercerita tentang orang-orang di kantornya Alif yang sibuk menonton pertandingan final Liga Champion antara MU vs Munchen. Saya yang waktu sampai di bab itu dalam kondisi mengantuk kemudian ngedumel sendiri. Ini penulisnya nebal-nebalin halaman doang nih. Apa pentingnya coba pertandingan bola ginian ditulis begitu rinci. Bola jatuh ke kaki siapa, dihadang siapa, dihalau siapa, ditulis begitu. Saya ngomel-ngomel dalam hati kemudian menutup buku itu dan tiduuuur.


Besoknya, saat membaca buku itu. Saya mencoba menekuri kembali hal yang malam sebelumnya saya bilang cuma nebelin-nebelin halaman buku aja. Dan ternyata saya salah sodaraaaa.. Cerita tentang pertandingan antara MU vs Munchen itu sesuatu sekali. Cetar… Membahana… Badai… Hahahaha…

Jadi di menit ke 6 pertandingan, MU sudah tertinggal 1-0 dari Munchen. Dan itu bertahan sampai menit ke 90. Bayangkan saja, kemenangan sudah di depan mata bagi Munchen. Memimpin pertandingan selama 84 menit. Hanya tinggal beberapa menit saja gelar juara liga seeropa ini akan digondol ke Jerman.

Tapi pemirsah, ternyata di menit 90 detik ke 27, di masa yang namanya injury time. Gawang Oliver Khan, kiper Munchen bergetar. Goooool…. MU berhasil menyamakan kedudukan. Dan beberapa menit kemudian, para penonton di seluruh dunia dibuat tercengang karena gawang Oliver Khan kembali bergetar. Gol lagi buat MU. Kedudukan berbalik menjadi 1-2 untuk MU.

Dan itu bertahan sampai wasit berkepala plontas Collina meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir.

MU juara! Di detik-detik terakhir setelah tertinggal satu gol selama 84 menit.

Alif, tokoh dalam Rantau 1 Muara itu kemudian terinspirasi dengan semangat juang para prajurit MU ini. Yang punya mental juara. Tidak menyerah begitu saja setelah ketinggalan 1-0. Yang tetap berjuang hingga detik akhir pertandingan. Hal yang kemudian menggerakkan Alif untuk terus berjuang mencari kampus yang cocok dan mau menerimanya di Amerika.

Saya pun harus menarik lagi kesimpulan saya sebelumnya yang bilang cerita tentang MU vs Munchen itu hanya menebal-nebalkan halaman. Karena ada semangat yang bicara lewat kata-kata yang dituliskan A Fuadi. Dan yang lebih pentingnya lagi buat saya, ada mata yang berbinar-binar dan senyum yang merekah ketika saya bacakan kata demi kata di sana. Dia fans MU. Dia suami saya. Ehehehe….

Satu poin lagi yang saya perlu garisbawahi untuk diri saya sendiri. Kondisi tubuh saat membaca ternyata bisa bikin penilaian kita akan satu buku jadi aneh.

Buat yang lagi shaum, moga dikuatkan puasanya sampai detik terakhir sebelum adzan maghrib berkumandang. Tak terasa kita sudah sampai di 10 hari kedua ya. Hiks. Kok rasanya cepat banget berlalu…

About these ads

34 thoughts on “MU vs Munchen (Champion 1999)

  1. bagi fans ‘setan merah’ episode ’99 adalah musim yg tak terlupakan, selain drama final liga champion sekaligus dapet trible winner.. :)
    #happyramadhan mbak

    • Ahahaha… Iya, bener. Suami saya ingat banget detail2nya. Malah dia katanya punya video golnya MU waktu itu.

      Happy Ramadhan juga. Semoga Ramadhan ini lebih baik dari tahun2 sebelumnya :)

  2. Hmmmmmmm….
    bagi saya yg gak terlalu suka sama BOLA, halaman ttg setan merah juga terasa lama Mbak, tp y mau gk mau harus tetap di baca :)
    dan ternyata berisi ttg perjuangan yg tak kenal lelah…
    hmmmmmmm rantau satu muara memang gimana gitu.. mbak notenya buat saya ajaaaaaaaaaaaa. #eh

    • Sama2 Mas Dani. Kalau menurut saya yang ke 3 ini yang terbaik. Mungkin karena ada cerita romance2nya juga. Hehehe…. Pdkt si Alif dan awal2 dia menikah :D

  3. rusydi hikmawan says:

    ternyata bener, dan gak sedikit cewek suka bola. saya sj yg laki kok cuman suka maen bola ya, gak sukan nonton, atau maniak bola, hahhaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s