Sewindu (Cinta itu tentang Waktu)

 Gambar

Judul Buku : Sewindu (Cinta Itu tentang Waktu)

Penulis : Tasaro GK

Penerbit : Tiga Serengkai

Tebal : 382 Halaman    

Editor : A. Mellyora

Tahun     : 2013 (Cetakan Pertama)

 

Apa jika saya menuliskan perjalanan cinta saya (halah) juga memungkinkan utk dibukukan?

    Itu pertanyaan yang saya ajukan pada Tasaro GK saat beliau mengasuh kelas menulis online di malam minggu dan pada malam itu membahas satu buku beliau berjudul Sewindu yang diterbitkan Penerbit Tiga Serangkai. Pertanyaan itu mengemuka setelah Tasaro mengatakan kalau buku Sewindu adalah perjalanan tentang sewindu setelah mengarungi biduk rumah tangga. Saya lantas berpikir, pantas saja lah kalau seorang Tasaro yang karyanya kata Andrea Hirata sudah go international meski dekat-dekat menulis buku tentang hidupnya. Lah, dia kan penulis terkemuka. Sudah punya pangsa pasar sendiri. Kalau saya? Idih, siapa juga yang mau membacanya. Tapi apa jawaban yang diberikan oleh Tasaro tentang pertanyaan saya itu.


    Beliau menjawab kekuatan Sewindu ini bukan pada siapa tokohnya tapi apa yang ditulis. Jadi bukan kisah cinta penulis, tapi apa yang dialami sepanjang perjalanan cinta itu dan apa yang bisa dibagi kepada pembaca. Oleh karena itu, siapa pun bisa berbagi kisah cintanya, asalkan itu merangkul pembaca menjadi bagian dari kisah itu. Dalam jurnalistik dikenal News Values, nilai -nilai dalam berita- salah satunya KEDEKATAN. Nah, pekerjaan penulis adalah bagaimana carnya membuat pembaca merasa dekat secara psikologis dengan tulisan itu. Sehingga, meski penulisnya bukan publik figur tetap menarik.

    Mendapat jawaban itu saya mengangguk-angguk saja. Tapi tetaplah saya merasa kalau bukan kisah Tasaro, orang tidak akan melirik. Tapi perasaan saya itu akhirnya hancur lebur setelah membaca Sewindu. Dalam lembar-lembar Sewindu yang saya baca saya tak menemukan ‘superior’nya Tasaro sebagai seorang penulis terkenal yang karyanya banyak ditunggu penggemar buku. Tapi di sana saya menemukan bagaimana cerita hidup di awal pernikahan seorang pria dan wanita sewajarnya dengan segala pernik-pernik dalam rumah tangga mereka. Membaca Sewindu seperti membaca kisah perjalanan seorang kawan lama, yang terasa so close so real. Begitu dekat begitu nyata. (Ini pinjam slogan salah satu iklan)

    Sewindu terdiri dari 2 bagian, bagian pertama saat awal pernikahan Tasaro dan istri. Membacanya seperti mengemut permen yang berslogan manis asam asin ramai rasanya. Terkadang saya terkekeh, bisa juga saya meringis. Malah ada bagian yang membuat saya tak sanggup menahan airmata dan kemudian tersedu-sedu sendirian. Ada juga yang membuat saya semangat, tertohok sendiri hingga plak! Merasa tertampar.

    Memang tak semua cerita sama persis dengan apa yang saya alami. Di mana saya juga sedang menjalani perjalanan satu tahun pernikahan saya. Tapi ada beberapa bagian yang hampir bersinggungan, di bagian lain saya malah banyak belajar dan merasa saya masih sangat kurang berdedikasi sebagai seorang istri.

     Pada cerita yang berjudul Rp 15.000,00 TITIK! Misalnya. Ketika Tasaro menuliskan dalam ceritanya tentang dedikasi seorang Ibu Rumah Tangga dalam berpikir, berkeputusan dan bergerak maka saya belajar bagaimana seorang istri mengatur keuangan rumah tangga dengan begitu cermat. Hal yang masih membuat saya kedodoran sampai detik ini.

    Di tulisan ‘Saat Dia Tak Ada’ yang menceritakan sang istri sedang tak ada di rumah membuat saya berlinang-linang airmata. Karena pada saat itu saya sedang berjauhan dengan suami dan membayangkan betapa sepi dan kangennya suami saya ketika pulang kerja tak ada istrinya di rumah (oke, ini saya geer). Juga ada cerita bagaimana gigihnya seorang Tasaro berjuang di jalan pena. Hal yang membuat saya sadar bahwa perjuangan saya belum ada apa-apanya padahal fasilitas yang saya miliki lebih ada dari apa yang dimiliki Tasaro saat itu.

    Lewat Sewindu Tasaro mengabarkan kalau yang namanya rumah tangga akan menghadapi beragam rintangan dan tantangan, tanpa menepikan kebahagian di dalamnya. Dan Tasaro membungkus pernik-pernik rumah tangga yang dulunya terasa biasa saja saat saya mendengarnya menjadi begitu memukau dan sepertinya terlihat begitu ‘wah’ dan mengagumkan. Sebut saja saat ia menyebut ‘Sebelumnya, saya tidak pernah membayangkan mengelola keuangan bisa mengasyikkan’, saya merasa  pekerjaan mengatur keuangan rumah tangga bagi seorang istri itu keren sekali.

    Di bagian kedua Sewindu adalah saat masa pernikahan Tasaro masuk ke usia delapan tahun, Sewindu. Kali ini berbicara dalam lingkup yang lebih luas, bagaimana Tasaro dan istri punya proyek 1000 jamaah yang sukses bikin saya tercenung lama, tentang buah hati yang akhirnya meramaikan keluarga mereka setelah lima tahun penantian, tentang sahabat, orangtua juga tentang buku. Beberapa tulisan memang sudah pernah saya baca di facebook Tasaro tapi tak mengurangi kenikmatan saat menyantap buku ini.

    Sewindu adalah karya non fiksi pertama Tasaro yang saya baca. Sebelumnya saya sudah membaca beberapa karya fiksinya. Hal yang saya sama dari karya fiksi maupun non fiksi Tasaro adalah pilihan kata-katanya yang sederhana tapi membius. Dan seperti jawaban Tasaro untuk saya di kelas malam minggu itu membaca Sewindu menciptakan sebuah kedekatan sendiri. Saya terangkul dalam cerita tersebut. Sewindu juga tidak hanya bisa dinikmati oleh mereka yang telah menikah tapi bisa dinikmati siapa saja.

 Memahami kekurangan suami atau istri adalah sebuah fase mencengangkan. Sedangkan menerima kekurangan itu kemudian mengusulkan kompromi logis untuk sebuah perbaikan adalah sebuah tahap yang spektakuler. (hal 79)      

 Mencintai pada tingkat yang solid adalah komitmen. Terkadang, rasa terombang-ambing dan membuat bimbang. Ada waktunya kata-kata mesra sudah terkunci dan sulit dikeluarkan lagi. Namun, ketika komitmen itu terjaga keinginan untuk membangun kehidupan yang berarti terus dijalani, itulah cinta. (hal 379)        

About these ads

6 thoughts on “Sewindu (Cinta itu tentang Waktu)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s