Lewat kata, aku bicara

Surat Dahlan (Review)

Posted on: May 3, 2013

surat dahlan pict

Prolog dalam cerita ini sungguh memukau dan mampu membuat saya terpikat akan novel ini. Salah satu yang membuat saya terpukau adalah kalimat ini : Seandainya dengan mengeluh lantas rasa sakit itu akan hilang, aku pasti sudah terus-menerus mengeluh. Sayang sekali, keluhan malah membuat rasa sakit itu bertambah-tambah. Tentu saja saya sangat setuju soal keluh-mengeluh ini. Selain kutipan itu, saya juga terkikik saat membaca upacara serah-terima di rumah sakit dan pada saat Pak Dahlan Iskan mendesis, “Ternyata aku punya anak ya…”. Ahaha.. Terkikik dan terharu sekaligus.

Masuk di bab 1, lagi-lagi saya harus bilang kalau saya suka. Berbicara tentang kerinduan seorang perantau untuk pulang kampung rasanya ingin teriak, itu gue banget, yang masih sering dililit rindu akan kampung halaman bahkan sebelum meninggalkan kampung halaman itu sendiri. Bagi setiap perantau, rindu adalah hantu yang paling menakutkan.


Selanjutnya dibawalah kita dalam cerita kehidupan seorang Dahlan muda yang hijrah dari Kebon Dalem di pelosok Pulau Jawa ke kota tepian Samarinda untuk menuntut ilmu. Modal nekat, dia mengaku. Bahkan Dahlan muda sempat kuliah di dua kampus, tapi perkuliahannya tetap tidak berjalan lancar. Dahlan muda terlibat ‘perseteruan’ dengan dosen yang dianggapnya otoriter.

Dalam aktivitas kuliahnya itu Dahlan muda bergabung dengan PII, sebuah organisasi tempat pelajar dan mahasiswa berhimpun. Di PII Dahlan seperti menemukan keasyikan tersendiri, hingga mengantarnya pada beragam hal dari demontrasi dengan dalih membela negara, menjadi buronan tentara karena demo tersebut hingga permasalahan.. ehem.. Cinta. Saat menjadi buronan tentara itu juga lah yang mengantarkan Dahlan muda bertemu dengan seseorang bernama Sayid yang kemudian menawarinya untuk menjadi wartawan.

Dari awal novel ini sisi romansa memang sudah hadir dalam cerita. Tentang Aisha, seorang gadis di Kebon Dalem yang tidak ingin digiring Dahlan muda ke dalam posisi terlalu banyak berharap tapi tetap mengharap. Ada surat-surat yang rajin dikirimkan Aisha walau tak berbalas. Tentang Maryati, seorang gadis yang yang tak cukup tabah melihat Dahlan menderita. Selama bertahun-tahun menyembunyikan perasaannya dari Dahlan, walaupun Dahlan tak pernah memberinya secelah pun peluang. Kemudian Maryati malah mengejarnya hingga ke tepi sungai Mahakam itu.

Ada lagi Nafsiah, seorang gadis yang di bab awal disebutkan bukan impian para pemuda karena sikapnya yang keras dan tomboi. Ah, ini lebih dari cinta segitiga. Apa namanya? Cinta Piramida kah? Siapa yang akhirnya memenangkan hati Dahlan? Jodoh punya cara masing-masing menautkan dua hati.

Surat Dahlan adalah buku kedua dari trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan yang pertama berjudul Sepatu Dahlan, tapi ini karya pertama dari Khrisna Pabichara yang saya baca. Dan Surat Dahlan melebihi ekspektasi saya sebelumnya.

Teori-teori yang saya dapatkan di sebuah kelas menulis dan belum bisa saya praktekkan juga sampai sekarang, terpraktekkan dengan sangat baik di Surat Dahlan ini. Tak heran sih kalau melihat prestasi penulisnya. Penulisnya juga punya kelas menulis di Bogor beserta teman-temannya. Saya suka dengan diksi yang tersaji di novel ini dan entah berapa banyak kata-kata menarik yang saya garis bawahi. Sudah menjadi kebiasaan saya setiap bertemu dengan kutipan yang WOW maka saya akan menandainya.

Dan tentu saja novel ini juga sangat inspiratif. Ada banyak pelajaran dan nilai yang ada dalam novel ini. Selain ada nasehat-nasehat yang secara gamblang disampaikan tapi tak berkesan menggurui, ada juga pelajaran tersirat dari adegan-adegan yang tersaji di dalamnya. Salah satu yang menjadi favorit saya adalah saat Nenek Saripa berkata pada Dahlan.

     “Dia menyukaimu!” 

     Dahlan muda tersentak. “Bagaimana Nenek tahu?”  

    “Aku perempuan!”

Pelajaran yang saya maksud dari adegan itu adalah jangan remehkan perempuan dalam hal membaca perasaan sesamanya. Camkan itu wahai pria. Wekekeke…

Surat Dahlan juga menceritakan bagaimana asal muasal Dahlan Iskan terjun ke dunia kuli tinta. Mulai dari nol, masih belum bisa membedakan antara berita dan gagasan hingga pada akhirnya menjadi orang nomor satu di Jawa Pos. Juga kenapa Dahlan yang sebenarnya punya nama asli Muhammad Dahlan lebih dikenal sebagai Dahlan Iskan.

Saat membaca aktivitas Dahlan sebagai wartawan di novel ini menjadi sebuah keasyikan tersendiri buat saya. Semisal ketika bercerita tentang ide. Ide itu memang sejenis binatang liar, susah dijinakkan. Pada saat butuh, ide malah berada entah di mana. Tapi ide bisa datang dari mana saja. Bahkan saat tak ada yang bisa dijadikan berita, Dahlan muda menulis Tumben, Tidak Ada Kejadian di Samarinda. Anehnya opini yang tidak berisi kabar apa pun itu justru disukai banyak orang.

Ada juga adegan yang bikin saya terbahak, saat Dahlan menghadiri acara pelantikan camat di kantor walikota. Di sana ada tulisan : DILARANG MEMOTRET MEMAKAI SANDAL! Maka pada saat para wartawan maju dan menjepret acara itu, Dahlan pun maju ke depan dan berlagak seperti wartawan memotret suatu peristiwa. Tapi tidak dengan tustel, Dahlan menggunakan sepatu. Ahahaha..

Ketika menutup halaman terakhir novel ini satu harapan terbersit dalam benak saya, semoga Pak Dahlan Iskan masih mengingat dan masih semangat untuk mewujudkan idealismenya saat muda dan masih di Samarinda ketika demo di bawah teriknya matahari di Bumi Etam. Masih mengingat poster-poster bertuliskan : “Indonesia, Surga bagi Pengusaha Asing”, “Utang Negara Tujuh Turunan”, “Alamak : Minyak Bumiku Disedot Orang” dan tulisan lainnya.

Ah, rasanya tak sabar untuk membaca buku ketiga dari trilogi ini yang berjudul : Senyum Dahlan.

***

Data Buku

Judul : Surat Dahlan

Penulis : Khrisna Pabichara

Penyunting  : Suhindrati Shinta dan Rina Wulandari

Penerbit : Noura Books (PT Mizan Publika)

Tahun Terbit : 2013

ISBN : 978-602-7816-25-1

10 Responses to "Surat Dahlan (Review)"

aha bacaannya sama ya..

baca buku ini juga ya mbak? Gimana pendapat mbak Tin? :D

iya saya juga suka dengan kalimat ini : Seandainya dengan mengeluh lantas rasa sakit itu akan hilang, aku pasti sudah terus-menerus mengeluh. Sayang sekali, keluhan malah membuat rasa sakit itu bertambah-tambah.
intinya jangan suka mengeluh, hehhehehhehehe

iya bener, jangan suka mengeluh. Semoga qta bisa ya untuk tidak mengeluh. Aamiin :)

apik ki ketoke

maaf saya ga ngerti bahasa Jawa. maaf :)

Mbak … ini diikutkan lomba review Surat Dahlan ya? Keren reviewnya, ngalir, kocak, dan berbobot. *jempol deh*

Eh, saya sudaha pernah bertemu penulis buku ini lho *siapa yang nanya* orangnya baik, tidak sombong, dan low profile. Masa beliau jadi moderator saya yang bukan siapa2 ini? Wiiiii pengalaman yang tak terlupakan …..

Saya punya fotonya di:

http://mugniarm.blogspot.com/2012/06/tak-akan-terlupakan-miwf-15-juni-2012.html

*siapa yang nanya ya hihihi*

Ya .. siapa tahu mau main ke blog saya dan melihat2 foto Khrisna Pabichara :D

Moga menang yaaaa

Sudah mampir ke sana. Jadi pengin ketemu juga :)
Thanks infonya mbak, saya rada ragu2 pas mau mention beliau soal review buku ini di twitter. Maklum mbak, suka minder saya ini :)
Tapi kalau orangnya ramah dan baik hati, kayakna ga masalah deh ya saya mention.
Iyaa.. Pas mau ngereview eh ternyata ada lombanya. Ya sudah ikutan aja :D
Aamiin… makasih ya mbak doanya :)

Ulasannya ciamik banget mbak. Ni novel barusan dilombakan untuk di resensi mbak

Makasih ya mbak. Iya, saya juga ikutan daftar lombanya :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Winner Class

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 301 other followers

Archives

Categories

Lihat Tanggal

Halaman

kicauku

Goodreads

kamu dan saya

Daisypath Anniversary tickers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 301 other followers

%d bloggers like this: