Workshop Menulis Tulis Nusantara @Balikpapan Part 1

writing workshop Tulis Nusantara

writing workshop Tulis Nusantara

Sejak awal melihat pengumuman tentang workshop menulis Tulis Nusantara itu dan menemukan Balikpapan sebagai salah satu kota dari 12 kota yang terpilih saya sudah berharap banget pengin ikutan. Tapi berhubung sudah jauh-jauh hari suami bilang dia bakalan masuk kerja tanggal 9 karena rencananya minggu depannya dia akan ngambil off 2 hari, maka saya mengubur impian untuk ikutan workshop itu.

Ternyata Allah berkehendak beda, sesuatu yang ingin kami hadiri di kesempatan suami off 2 hari itu ternyata di pending, yang artinya tanggal 9 itu beliau libur. Saya pun langsung ngasih tau tentang workshop sembari bilang betapa inginnya saya datang dan beliau yang baik hati itu mendukung 100%. Aiiiih senangnyaaa… Thanks my hubby :*

Ternyata saya salah melihat tanggal, workshop itu diadakan tanggal 8 desember, hari sabtu di Balikpapan, padahal suami hari sabtu masuk kerja. Lantas bagaimana? Saya tak ingin menyerah begitu saja. Kan saya bisa naik angkot ke Balikpapan, suami menyusul sore harinya. Siapa sangka Ternyata suami juga punya pemikiran yang sama dengan saya.

Maka disepakatilah hal itu yang akan dilakukan. Itu juga dengan catatan saya dapat tiket masuk workshop itu karena panitia sedari awal bilang kalau tempat sangat terbatas, peserta dibatasi hanya sedikit untuk efektifnya workshop mungkin ya. Jadi saya deg-degan bergembira menanti pendaftaran yang tak juga kunjung di buka.

Singkat kata singkat cerita, udah malas dan rasanya jemari saya pegal banget wkwkwkwk, saya mendapatkan tiket masuk acara workshop itu dan sabtu pagi-pagi sekali saya sudah bersiap buat pergi ke Balikpapan. Yay!

Permasalahannya kemudian adalah saya ini sangat tidak mahir dan piawai dalam membaca arah. Walau sudah berkali-kali ke Balikpapan dan diajak suami terus jalan-jalan tapi saya ga tau arah. Karena tahunya ikut aja sama suami dan sampai tujuan. Tadinya ada adik ipar yang siap mengantar jemput saya. Eh taunya dia sakit dan masih bertahan di Samarinda pada sabtu pagi.

Untungnya ada ka Fitri yang siap menjemput saya di terminal Balikpapan Permai dan menemani sarapan. Alhamdulillah atas kemudahan-kemudahan yang Allah berikan.

Akhirnya sampai jugalah saya di workshop itu…. Intronya panjang ya. Ketularan bibi titi teliti nih gegara beberapa hari ini BW terus ke sana. Mau ikutan GA sih… Hehehehe…

Peserta siap belajar

Peserta siap belajar

Sharing session untuk workshop kali ini diisi oleh mbak Windy Ariestanty, satu kenyataan yang bikin saya jejeritan kesenangan. Ahahaha…. Di antara nama-nama pengisi sharing session saya memang paling kesengsem ama nama Windy Ariestanty. Nama yang saya kenal sebagai editor buku-buku laris dan juga penulis dari buku Life Traveler yang baru beberapa waktu lalu saya beli dan belum tuntas saya baca. Sepertinya asyik aja kalau sharing sessionnya bareng mbak Windy ini dan ternyata beneran asyik.
Sharing session merupakan acara kedua setelah pembukaan dari perwakilan kemenparekraf.

DSC01216 (800x600)
Pada bagian sharing session itu mbak Windy memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya apa sih selama ini yang menjadi kendala dalam hal menulis atau bertanya tentang hal-hal lain yang menyangkut kepenulisan. Daripada saya ngoceh ga karuan, lebih baik kalian yang bertanya dan saya yang menjawab, kata mbak Windy. Kesempatan bertanya ini tak disia-siakan begitu saja oleh para peserta, banyak yang bertanya dan mbak Windy menjawabnya.
Dan saya lupa dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Wkwkwkwkwk…. Sorry lagiiiii……

mbak Windy Ariestanty dalam sharing session

mbak Windy Ariestanty dalam sharing session

Tapi ada beberapa catatan yang mungkin bisa saya tuliskan terkait sharing session tadi.

Pertama, masalah utama kebanyakan penulis itu adalah MALAS. Yah, malas. Itu saja. Tapi saking kreatifnya para penulis ini hingga kata-kata malas ini kemudian diterjemahkan dalam bentuk lain seperti ‘saya lagi ga mood’, ‘saya kehabisan ide’, ‘saya merasa tulisan saya ga bagus’ dan hal-hal lain yang intinya sih sama… MALAS buat menulis.
Sebenarnya apa pun hal bisa kita jadikan sebagai bahan tulisan, bahkan ketika kita bingung saja bisa kok jadi tulisan. Tulis saja tentang kebingungan itu sendiri. Tapi jangan secara gamblang bilang ‘Saya bingung’. Tapi jelaskan tentang kebingungan itu tanpa mengikutsertakan kata bingung tapi pembaca paham kalau kita sedang bingung. Show not tell. Eh, kok jadi ingat salah satu tugas dari audisi menulis kemarin.
Misalkan gini, kita tulis : ‘Hari ini ada acara workshop menulis, beruntung sekali Balikpapan menjadi salah satu tempat yang disinggahi workshop tersebut. Pengin banget ikutan karena saya tahu ini adalah kesempatan langka. Tapi di saat yang sama, saya diajak teman untuk ngemall dan kesempatan kami buat ketemuan cuma hari ini saja. Bagaimana ini? Apa saya mesti ikutan workshop atau ketemuan sama teman? Mungkin jawabannya mudah, ajak saja teman saya ketemuan di workshop sekalian gitu ajakin dia ikutan workshop. Tapi teman saya orang yang sama sekali tidak tertarik dengan yang namanya menulis. Bagi dia di hari libur mall adalah harga mati.’
Terlihat ga sih dari contoh itu kalau si tokoh sedang bingung? Kalau ga berarti saya yang gagal dalam menuliskannya. Wkwkwkwkwk….
Kata sifat adalah kata yang harus dihindari oleh penulis. Show not tell.

Kedua, tentang memperkaya kosakata. Di sini mbak Windy memberikan tips buat memperkaya kosakata kita. Karena menurut beliau para penulis sekarang malas sekali buat mengulik kamus. Jadi bagaimana tips memperkaya kosakata ala mbak Windy, setiap hari buka kamus secara acak dan tunjuk satu kata di sana juga secara acak. Setelah menemukan kata yang dimaksud buat kalimat dengan kata itu.

Selain melatih kita membentuk kalimat, itu juga akan memperkaya kosakata yang kita punya karena sangat memungkinkan kata yang kita pilih secara acak adalah kata baru yang belum kita ketahui sebelumnya atau sudah tahu tapi sangat jarang kita gunakan. Tips yang bagus.
Mbak Windy juga menyebutkan kalau dalam komputer beliau ada satu folder yang berisi paragraf-paragraf yang tak terpakai. Jadi begini, selepas menulis biasanya mbak Windy akan mengedit ulang tulisan tersebut dan tentu saja akan ada paragraf-paragraf yang didelete. Eitsss…. Jangan pernah mendeletenya tapi simpan dan kasih keterangan di cerita apa paragraf itu pernah ada karena bisa jadi suatu saat jika kita membuka lagi paragraf tersebut kita akan membentuk cerita baru dari situ.
Trus hemm, ketiga kali ya… Ini tentang riset. Ada peserta yang bertanya kalau dia kesulitan gitu menulis karena bahan yang dia punya tentang tulisan tersebut belum cukup. Mbak Windy bilang cara paling mudah untuk menulis adalah cari bahan yang benar-benar kita kuasai. Dengan begitu kita mudah buat menuliskannya. Tapi bukan juga kita harus berhenti kalau bahan-bahan yang kita punya tak memadai, masih bisa kok melakukan riset. Jika sudah mentok, ya diamkan dulu karena kita bisa saja akan kembali ke cerita kita tersebut dan kembali menuliskannya dengan bahan yang lebih banyak dari yang kita punya sebelumnya. Intinyaaa…. Jangan malas. Wkwkwwkkk……
Mbak Windy juga sempat menyinggung tentang review buku. Kata mbak Windy ngereview buku itu bukan suatu hal yang mudah. Review buku bukan masalah kita bilang suka atau tidak suka terhadap buku itu, tapi kita menjelaskan konten isi buku tersebut dan pembaca review itulah yang akan memutuskan apakah mereka suka atau tidak, tertarik atau tidak untuk membeli buku yang kita review. Wadoooh… Jadi mikir-mikir lagi nih mau ngereview buku. Wkwkwkwkwk……
Trusss…. Jangan sesekali menulis sembari mengedit karena hal itu akan membuat tulisan kita tak pernah selesai. *bener kan ya kemarin disampaikan begini? CMIIW yaaa..* Jadi ketika menulis, tulisss saja apa yang ada dalam pikiran kita, endapkan sebentar baru diedit.
Sebagai penutup, saya sudah bingung dan terlupa apa lagi yang kemarin didapat. Hihihihi…. Jadi sebagai penutup inti dari semuanya Menulis itu adalah Tindakan. Jika kita tidak menulis yang tak akan bisa jadi penulis. Jika kita hanya bisa menceritakan tentang ide-ide kita itu tidak akan menjadikan kita sebagai penulis tapi pencerita.
A bad writing in your hand is better than a masterful writing in your head

Super Sekali mbak Windy…

Saya juga tak ingin melewatkan kesempatan buat minta ttd mbak Windy di buku Life Traveler saya dan tentu saja berfoto bersama.

mbak Windy ngasih ttd di buku Life Traveler saya

mbak Windy ngasih ttd di buku Life Traveler saya

Foto bersama bereng mbak Windy Ariestanty dan ka Fitri

Foto bersama bereng mbak Windy Ariestanty dan ka Fitri

Life Traveler saya :)

Life Traveler saya :)

InsyaAllah bersambung yaaaaa…….

14 thoughts on “Workshop Menulis Tulis Nusantara @Balikpapan Part 1

  1. Bener banget Mba Yanti, kalokita nulis sambil ngedit, tulisan ga akan pernah selesai. Hehehe.. *Whossyah sambil lap keringet keinget banyaknya masterful writing di kepala*. :D

    • saya kira di Yogya sudah, ternyata belum ya. Kota terakhir ternyata. Selamat menikmati workshopnya yaa…. ditunggu sharingnya karena tiap kota bisa beda yang disampaikan dan juga penangkapan tiap orang bisa beda juga kan ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s